Sidang Lanjutan Praperadilan Pimpinan Padepokan Padang Ati Pekalongan, Kedua Kuasa Hukum Tetap Pertahankan Dalil

- Jurnalis

Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:17 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sidang lanjutan praperadilan KH Abdul Halim di PN Pekalongan dengan agenda Replik dan Duplik berlangsung, Kamis (27/8/26). Foto: Istimewa

Sidang lanjutan praperadilan KH Abdul Halim di PN Pekalongan dengan agenda Replik dan Duplik berlangsung, Kamis (27/8/26). Foto: Istimewa

KANAL PEKALONGAN – Sidang kedua praperadilan yang diajukan K.H. Abdul Halim alias AH, pimpinan Padepokan Padang Ati, memasuki tahap akhir proses jawab-menjawab antara pemohon dan termohon.

Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, Kamis (27/8/2026), kuasa hukum AH menyampaikan replik atas jawaban Polres Pekalongan Kota selaku termohon. Sementara pihak kepolisian memberikan duplik secara lisan dan tetap mempertahankan jawaban yang sebelumnya disampaikan dalam persidangan.

Kuasa hukum Polres Pekalongan Kota, Kompol Dr Akhwan Nadzirin, mengatakan tidak ada perubahan substansi dalam sikap termohon.

“Duplik daripada termohon masih sama dengan jawaban dari termohon yang disampaikan pada tanggal 26 Agustus 2026,” kata Akhwan kepada kanalplus.id usai persidangan, Kamis (27/8/2026).

Menurut dia, materi dalam replik pemohon pada dasarnya hanya berupa sanggahan terhadap jawaban termohon. Namun, pihaknya menilai sanggahan tersebut tidak menghadirkan hal baru.

“Intinya sama. Sanggahan itu sama dengan permohonan daripada pemohon,” ujarnya.

Akhwan menegaskan, Polres Pekalongan Kota tetap meyakini seluruh tindakan penyidik dalam perkara tersebut telah dilakukan berdasarkan prosedur dan hukum acara yang berlaku.

“Kami sudah sesuai prosedur dan sesuai hukum acara,” terangnya.

Polisi juga telah menyiapkan sejumlah dokumen untuk menghadapi tahap pembuktian. Bukti tersebut antara lain berkaitan dengan proses penetapan tersangka, penangkapan dan penahanan AH.

“Kami sudah siapkan bukti-bukti yang sudah sesuai dengan KUHAP dalam penetapan tersangka, penangkapan dan penahanannya, juga sesuai dengan Perkap 6/2019 tentang manajemen penyidikan,” jelas Akhwan.

Baca Juga :  Sidang Kedua Kasus Gacon Berlangsung Hingga Tengah Malam, Kuasa Hukum Terdakwa Bantah Keterangan Saksi dari JPU

Dia menambahkan, praperadilan pada dasarnya menguji aspek formil dari tindakan aparat penegak hukum. Karena itu, pihak kepolisian tidak memandang agenda pembuktian sebagai ruang untuk membahas substansi perkara dugaan kekerasan seksual yang menjerat AH.

“Karena praperadilan itu adalah memeriksa tentang formil, tidak masuk kepada materi pokok perkara,” bebernya.

Sementara itu, dalam keterangan tertulisnya, Ketua Tim Kuasa Hukum AH, Arif N.S., menyebut pihak pemohon tetap pada seluruh dalil dan petitum permohonan praperadilan.

Salah satu hal yang dipersoalkan adalah dasar penetapan AH sebagai tersangka. Kuasa hukum menilai keabsahan penetapan tersangka harus dilihat dari alat bukti yang telah dimiliki penyidik pada saat penetapan dilakukan pada 27 Mei 2026.

Menurut pemohon, alat bukti yang baru diperoleh setelah penetapan tersangka tidak semestinya digunakan untuk membenarkan tindakan yang telah dilakukan sebelumnya.

Tim kuasa hukum juga menyoroti kronologi gelar perkara. Mereka mempertanyakan adanya Laporan Hasil Gelar Perkara Penetapan Tersangka tertanggal 26 Mei 2026, sedangkan berdasarkan uraian termohon, AH baru diperiksa sebagai calon tersangka pada 27 Mei 2026.

Persoalan tersebut dinilai penting karena pemohon mempertanyakan bagaimana keterangan calon tersangka dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penetapan tersangka apabila gelar perkara telah dilakukan sehari sebelumnya.

Selain penetapan tersangka, pihak AH juga kembali mempersoalkan legalitas penahanan.

Kuasa hukum berpendapat keberadaan surat perintah maupun perpanjangan penahanan belum otomatis membuktikan terpenuhinya syarat material untuk menahan seseorang.

Baca Juga :  Dinsos Pekalongan Belum Terima Laporan Bayi Santriwati Padang Ati, Ingatkan Adopsi Harus Sesuai Prosedur

Mereka menyebut AH bersikap kooperatif, memiliki alamat tetap, tidak melarikan diri, tidak menghilangkan barang bukti serta tidak menghambat proses penyidikan.

Dalam argumennya, tim kuasa hukum juga menyinggung hasil pemeriksaan DNA yang disebut negatif serta pencabutan keterangan FZ.

Menurut pemohon, kedua hal tersebut disampaikan bukan untuk meminta hakim memasuki pokok perkara, melainkan sebagai perkembangan yang perlu dipertimbangkan dalam menilai pelaksanaan dan keberlanjutan upaya paksa terhadap AH.

Pihak pemohon juga menegaskan proses P-21 dan pelaksanaan tahap II tidak otomatis menghapus hak mereka untuk mengajukan praperadilan.

Mereka beralasan permohonan praperadilan telah didaftarkan lebih dahulu pada 7 Agustus 2026. Karena itu, peralihan tahapan perkara pokok dinilai tidak serta-merta menghilangkan hak pemohon untuk memperoleh pengujian pengadilan terhadap legalitas penetapan tersangka, penangkapan dan penahanan.

Setelah replik dan duplik disampaikan, proses jawab-menjawab antara pemohon dan termohon dinyatakan selesai.

Sidang akan dilanjutkan pada Jumat (28/8/2026) pukul 08.30 WIB dengan agenda pembuktian.

Dengan masuknya tahap pembuktian, persidangan akan berfokus pada dokumen, saksi dan ahli yang diajukan masing-masing pihak untuk meyakinkan hakim mengenai sah atau tidaknya tindakan upaya paksa terhadap AH.

Perkara praperadilan tersebut terdaftar dengan Nomor 3/Pid.Pra/2026/PN Pkl. AH mengajukan praperadilan untuk menguji legalitas penetapan dirinya sebagai tersangka, penangkapan dan penahanan dalam perkara dugaan kekerasan seksual.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih
Bantuan Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Kabupaten Pekalongan Tembus Jutaan Liter
Tiap Tahun Kekeringan, Warga Kesesi Lega Dibantu 18 Ribu Liter Air Bersih
Donasi Gempa NTT dari Pekalongan Tembus Rp127 Juta, Rp60 Juta Sudah Disalurkan
Polres Pemalang Hentikan Perkara Chat Mesum ke Anak, Korban dan Pelaku Sepakat Damai
Viral Karnaval Simbangkulon, Lurah Akui Mental Panitia Terganggu
MUI Pekalongan Sebut Tak Perlu Salat Taubat Terkait Kontroversi Karnaval Simbangkulon
Sekda Pekalongan Angkat Bicara, Panitia Karnaval Sebagai Respons Video Viral Aksi Mirip Ritual Satanik

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:55 WIB

Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 09:11 WIB

Bantuan Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Kabupaten Pekalongan Tembus Jutaan Liter

Senin, 21 September 2026 - 14:00 WIB

Tiap Tahun Kekeringan, Warga Kesesi Lega Dibantu 18 Ribu Liter Air Bersih

Sabtu, 19 September 2026 - 15:21 WIB

Donasi Gempa NTT dari Pekalongan Tembus Rp127 Juta, Rp60 Juta Sudah Disalurkan

Rabu, 16 September 2026 - 07:46 WIB

Polres Pemalang Hentikan Perkara Chat Mesum ke Anak, Korban dan Pelaku Sepakat Damai

Berita Terbaru