Saksi Ahli Sidang Praperadilan AHF di PN Pekalongan Nilai Hasil Pemeriksaan Psikologis Setelah Ada Tersangka Tak Bisa Membenarkan Penetapan

- Jurnalis

Jumat, 28 Agustus 2026 - 14:30 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ahli hukum acara pidana Dr Muhammad Arif Setiawan yamg dihadirkan sebagai saksi ahli oleh kuasa hukum dari AHF pimpinan Padepokan Padang Ati sebagai saksi ahli memberikan keterangannya dalam sidang lanjutan praperadilan di PN Pekalongan, Jumat (28/8/26).

Ahli hukum acara pidana Dr Muhammad Arif Setiawan yamg dihadirkan sebagai saksi ahli oleh kuasa hukum dari AHF pimpinan Padepokan Padang Ati sebagai saksi ahli memberikan keterangannya dalam sidang lanjutan praperadilan di PN Pekalongan, Jumat (28/8/26).

KANAL HUKUM – Hasil pemeriksaan psikologis korban dalam perkara tindak pidana dugaan kekerasan seksual menjadi salah satu materi yang dipersoalkan dalam sidang praperadilan KH Abdul Halim Fadlun (AHF).

Ahli hukum acara pidana Dr Muhammad Arif Setiawan menilai hasil pemeriksaan psikologis yang baru diperoleh setelah seseorang ditetapkan sebagai tersangka tidak dapat digunakan untuk membenarkan keabsahan penetapan tersangka tersebut.

Hal itu disampaikan Arif saat menjawab pertanyaan kuasa hukum AHF dalam sidang lanjutan praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan.

Menurutnya, dalam perkara tindak pidana kekerasan seksual, hasil pemeriksaan psikologis dapat memiliki kedudukan sebagai alat bukti surat berupa keterangan ahli. Namun, penggunaannya harus dilihat berdasarkan waktu diperolehnya alat bukti tersebut.

“Kalau itu menjadi alat bukti yang penting untuk menetapkan alat bukti permulaan yang cukup, maka harusnya dilakukan sebelum menetapkan tersangka,” kata Arif dalam persidangan, Kamis (28/8/2026).

Baca Juga :  Sidang Lanjutan Praperadilan Pimpinan Padepokan Padang Ati Pekalongan, Kedua Kuasa Hukum Tetap Pertahankan Dalil

Ia menjelaskan, pemeriksaan psikologis pada dasarnya menggambarkan kondisi kejiwaan seseorang setelah mengalami suatu peristiwa.

Karena itu, hasil pemeriksaan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi psikologis korban dan menjadi bagian dari pembuktian perkara.

Namun, apabila hasil pemeriksaan baru diterima penyidik setelah seseorang berstatus tersangka, Arif menilai hasil tersebut tidak dapat digunakan untuk mengisi kekurangan alat bukti yang dibutuhkan ketika penetapan tersangka dilakukan.

“Kalau sesudah penetapan tersangka, dia tidak bisa lagi untuk menilai tentang penetapan sah tersangkanya itu cukup alat bukti atau tidak,” ujarnya.

Meski demikian, Arif mengatakan hasil pemeriksaan psikologis yang diperoleh setelah penetapan tersangka masih mungkin digunakan dalam proses persidangan perkara pokok, sepanjang diperoleh melalui proses penyidikan.

Baca Juga :  Tiga Mobil Dinas Bupati Pekalongan Digores, Pemkab Sebut Sudah ke Polisi Tapi Dibantah Belum Ada Laporan

Persoalan waktu perolehan alat bukti tersebut menjadi penting karena dalam praperadilan hakim menguji kondisi hukum pada saat tindakan upaya paksa dilakukan.

Dalam sidang yang sama, Arif juga menegaskan bahwa penetapan tersangka harus didasarkan pada alat bukti yang telah tersedia sebelum status tersangka ditetapkan.

Keterangan itu disampaikan ketika kuasa hukum AHF meminta pandangan ahli mengenai alat bukti yang digunakan penyidik dalam perkara TPKS, termasuk hasil pemeriksaan psikologis.

Perkara praperadilan AHF kini memasuki tahap akhir setelah ahli yang dihadirkan pemohon selesai memberikan keterangan.

Pihak termohon dari Polres Pekalongan Kota menyatakan tidak menghadirkan ahli dalam persidangan tersebut.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dua Pembatik Muda Ini Hadirkan Green Batik, Pewarna Alam dan Desain untuk Generasi Baru
Dana Atlet Porprov Rp798 Juta Diduga Lari ke Pasar Saham, Bendahara Koni Kendal Dibui
Empat Pejabat Pekalongan ‘Dijemput’ KPK, Jejak Uang Proyek Outsourcing Mulai Dibedah
PN Pekalongan Vonis Terdakwa Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur Empat Tahun Penjara, Keluarga Korban Menangis Kecewa
Kisah Pilu Ibu di Pekalongan Perjuangkan Keadilan Bagi Putri Kecilnya Korban Dugaan Kejahatan Seksual Ayah Kandung
Terbukti Lakukan Kekerasan Seksual Terhadap ART Anak di Bawah Umur, Dokter Gigi di Kota Pekalongan Divonis 9 Tahun Penjara
Sprint Rally di KEK Batang Dibatasi 135 Starter, Pemkab Buka Wacana Sirkuit Permanen
Jaksa Masuk Sekolah, Siswa di Batang Malah Kepo Gaji Aparat Penegak Hukum

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 05:33 WIB

Dua Pembatik Muda Ini Hadirkan Green Batik, Pewarna Alam dan Desain untuk Generasi Baru

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Dana Atlet Porprov Rp798 Juta Diduga Lari ke Pasar Saham, Bendahara Koni Kendal Dibui

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:41 WIB

Empat Pejabat Pekalongan ‘Dijemput’ KPK, Jejak Uang Proyek Outsourcing Mulai Dibedah

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:46 WIB

PN Pekalongan Vonis Terdakwa Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur Empat Tahun Penjara, Keluarga Korban Menangis Kecewa

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:23 WIB

Kisah Pilu Ibu di Pekalongan Perjuangkan Keadilan Bagi Putri Kecilnya Korban Dugaan Kejahatan Seksual Ayah Kandung

Berita Terbaru