Di Balik Meriahnya Pesta Sedekah Laut, Nelayan Roban Timur ‘Tak Punya’ Air Bersih

- Jurnalis

Minggu, 28 Juni 2026 - 15:56 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sesaji yang dilarung bersama miniatur kapal menjadi puncak Nyadran atau sedekah laut di perairan Dusun Roban Timur, Desa Sengon, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Minggu (28/6/26). Foto : Istimewa

Sesaji yang dilarung bersama miniatur kapal menjadi puncak Nyadran atau sedekah laut di perairan Dusun Roban Timur, Desa Sengon, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Minggu (28/6/26). Foto : Istimewa

BATANG, KANALPLUS.ID – Perahu-perahu nelayan berlayar membawa sesaji menuju tengah laut. Doa dipanjatkan, harapan dilarungkan bersama ombak. Tradisi Nyadran atau Sedekah Laut di Dusun Roban Timur, Desa Sengon, Kecamatan Subah, kembali digelar sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.

Namun, di balik kemeriahan pesta rakyat itu, tersimpan kegelisahan yang tak ikut hanyut bersama laut.

Bagi nelayan Roban Timur, sedekah laut tahun ini bukan sekadar merawat tradisi leluhur. Momen itu juga menjadi ruang untuk menyuarakan harapan agar kehidupan mereka benar-benar berubah.

Mereka mengaku masih bergulat dengan sulitnya air bersih, aktivitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang semakin sepi, hingga santunan kematian nelayan yang disebut belum juga diterima keluarga penerima manfaat.

Ketua Panitia Pesta Rakyat Nelayan Roban Timur, Abdul Hakim, mengatakan persoalan air bersih menjadi salah satu penyebab menurunnya aktivitas di TPI. Menurutnya, pencemaran air yang diduga berasal dari limbah kotoran hewan membuat kebutuhan dasar masyarakat belum terpenuhi.

Baca Juga :  Mengulik Asal Muasal Nama Sampangan di Kota Pekalongan, Dari Arsip Kolonial Hingga Legenda Wali Sampang

“Minimnya hasil tangkapan ke TPI karena kurangnya sarana air bersih untuk masyarakat Roban Timur. Masyarakat butuh kesejahteraan dan kesehatan,” paparnya di sela acara, Minggu (28/6/2026).

Tak hanya itu, Abdul Hakim juga mempertanyakan kejelasan pengelolaan dana retribusi TPI yang selama ini dipotong sebesar tiga persen dari setiap transaksi nelayan. Ia menyebut santunan kematian bagi nelayan bahkan ada yang belum terealisasi hingga lima bulan.

“Kami hanya ingin ada kejelasan. Retribusi yang selama ini dipotong itu digunakan untuk apa jika hak masyarakat belum juga diterima,” katanya.

Keluhan tersebut mendapat respons dari Camat Subah, M. Yasin. Ia mengakui masih ada sejumlah pelayanan yang perlu diperbaiki dan berjanji akan membawa aspirasi masyarakat nelayan kepada pemerintah kabupaten.

“Kami tidak menutup mata. Insyaallah kami akan membantu menyampaikan seluruh aspirasi masyarakat agar kesejahteraan nelayan bisa semakin baik,” ucapnya.

Baca Juga :  Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan

Dukungan moral juga datang dari Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang, Teguh Tarmujo. Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Roban Timur sehingga selalu menyempatkan hadir setiap perayaan Sedekah Laut.

“Roban Timur sudah saya anggap sebagai keluarga. Saya berharap melalui slametan laut ini, nelayan diberikan hasil tangkapan yang melimpah dan persoalan yang dihadapi segera mendapat jalan keluar,” tuturnya.

Meski berbagai persoalan masih membayangi, prosesi pelarungan sesaji tetap berlangsung khidmat. Pengajian, hiburan rakyat, hingga pertunjukan wayang golek menjadi penutup rangkaian acara.

Di penghujung hari, warga pulang bukan hanya membawa kenangan pesta rakyat, tetapi juga membawa doa yang sama.

Mereka berharap laut tetap murah hati, air bersih kembali mengalir, TPI kembali ramai, dan kesejahteraan yang selama ini dinanti akhirnya benar-benar singgah di kampung nelayan Roban Timur.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswi Pekalongan Ciptakan Motif Batik Karhutla Kalimantan sebagai Media Kritik dan Pesan Moral
Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban
Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren
Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum
Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan
Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan
Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat
Hampir 35 Tahun Menghidupkan Koperasi, Prof Ahmad Subagyo Akhirnya Dipilih Jadi Tokoh Perkoperasian Jawa Tengah

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 06:35 WIB

Mahasiswi Pekalongan Ciptakan Motif Batik Karhutla Kalimantan sebagai Media Kritik dan Pesan Moral

Minggu, 18 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:53 WIB

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan

Berita Terbaru