Masjid-Masjid Tertua di Luar Arab Saudi, Seberapa Jauh Usianya Jika Dibandingkan dengan Sejarah Nusantara?

- Jurnalis

Kamis, 3 September 2026 - 06:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Daftar masjid tertua di luar Arab Saudi membentang dari Jazirah Arab hingga Eropa Barat dan China, sementara di Nusantara peradaban masih dalam era Hindu Budda tepatnya di masa kerajaan Tarumanegara. Foto: Ilustrasi AI

Daftar masjid tertua di luar Arab Saudi membentang dari Jazirah Arab hingga Eropa Barat dan China, sementara di Nusantara peradaban masih dalam era Hindu Budda tepatnya di masa kerajaan Tarumanegara. Foto: Ilustrasi AI

KANAL RILIGI – Jauh sebelum Islam dikenal luas di Nusantara, masjid-masjid sudah berdiri di Afrika Utara, Irak, Suriah hingga China. Ketika masjid-masjid itu mulai dibangun, Nusantara masih berada pada masa kerajaan Hindu-Buddha. Seberapa tua sebenarnya masjid-masjid tersebut jika dibandingkan dengan sejarah Indonesia?

Membicarakan masjid tertua di dunia biasanya langsung mengarah ke Masjidil Haram di Makkah atau Masjid Nabawi di Madinah.

Namun setelah dua tempat suci tersebut, sejarah perkembangan masjid ternyata membentang sangat jauh. Jejaknya ditemukan dari Irak dan Suriah hingga Afrika Utara, Spanyol dan bahkan China.

Yang menarik, jika tahun-tahun awal berdirinya masjid tersebut dibandingkan dengan sejarah Nusantara, pembaca Indonesia akan mendapatkan perspektif yang berbeda.

Sebab ketika sebagian masjid itu sudah berdiri dan menjadi pusat kehidupan masyarakat Muslim, Nusantara masih berada pada masa kerajaan Hindu-Buddha.

Berikut beberapa di antaranya.

1. Masjid Agung Kufah, Irak — sekitar 638 M

Salah satu masjid yang memiliki sejarah sangat awal di luar Jazirah Arab adalah Masjid Agung Kufah di Irak.

Kufah sendiri didirikan sekitar 637–638 M sebagai salah satu kota garnisun Muslim setelah penaklukan wilayah Irak. Kota tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat politik, intelektual dan keagamaan terpenting dalam sejarah Islam awal.

Sumber sejarah awal menyebut pembangunan masjid berlangsung bersamaan dengan pembentukan kota Kufah. Sa’d bin Abi Waqqash disebut mendirikan masjid di kota tersebut atas perintah Khalifah Umar bin Khattab.

Masjid Kufah kemudian memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sejarah Islam. Kota ini menjadi panggung berbagai peristiwa politik pada masa awal Islam dan kemudian memiliki hubungan sangat erat dengan sejarah Ali bin Abi Thalib.

Kalau tahun 638 M terjadi di Indonesia? Bayangkan kita memindahkan tahun 638 M ke Nusantara. Saat itu, Indonesia belum mengenal Islam sebagai kekuatan politik atau agama yang dominan.

Wilayah Jawa bagian barat masih berada dalam lingkungan sejarah Tarumanagara, sementara kekuatan Sriwijaya baru akan tampil semakin jelas beberapa dekade kemudian.

Bukti sejarah menunjukkan pengaruh Tarumanagara masih berlangsung hingga abad ke-7, sedangkan prasasti-prasasti Sriwijaya mulai memberikan bukti yang lebih jelas pada paruh kedua abad tersebut.

Jadi, ketika masyarakat Kufah telah memiliki masjid sebagai pusat kehidupan kota, masyarakat di Nusantara masih berada dalam dunia kerajaan Hindu-Buddha.

Selisih sejarahnya bukan puluhan tahun, melainkan lebih dari satu milenium jika dibandingkan dengan masjid-masjid tua di Indonesia.

2. Masjid Agung Kairouan, Tunisia670 M

Sekitar tiga dekade setelah Kufah, jejak masjid awal muncul jauh di Afrika Utara. Kota Kairouan di Tunisia didirikan pada 670 M oleh Uqba ibn Nafi. Di kota baru tersebut kemudian berdiri masjid yang dikenal sebagai Masjid Agung Kairouan atau Masjid Uqba ibn Nafi.

Kairouan bukan sekadar kota biasa. Kota ini kemudian berkembang menjadi salah satu pusat penting peradaban Islam di Afrika Utara.

UNESCO menyebut Kairouan sebagai basis Arab-Muslim paling awal di kawasan Maghrib, didirikan pada 670 M. Kota tersebut kemudian berkembang pesat di bawah Dinasti Aghlabiyah pada abad ke-9 dan menjadi salah satu kota suci utama Maghrib.

Tetapi ada hal penting. Bangunan masjid yang sekarang kita lihat bukan bangunan asli tahun 670. Masjid tersebut mengalami berbagai pembangunan kembali. UNESCO mencatat Masjid Agung Kairouan dibangun kembali pada abad ke-9 dan bentuk utamanya berasal dari periode tersebut.

Jadi lebih tepat mengatakan,  situs dan tradisi masjidnya berasal dari abad ke-7, sedangkan sebagian besar bangunan yang terlihat sekarang merupakan hasil pembangunan kembali.

Pada 670 M, Indonesia sedang berada di era apa? Ini menarik. Jika kita membuka ‘kalender sejarah Nusantara’ pada tahun 670 M, kita belum menemukan kerajaan Islam. Sebaliknya, kawasan Sumatra mulai memperlihatkan kebangkitan Sriwijaya.

Baca Juga :  Puluhan Ribu Jemaah Diprediksi Padati Pekalongan, Maulid Akbar Habib Luthfi Digelar 20 September

Prasasti-prasasti yang berkaitan dengan Sriwijaya dari abad ke-7 menunjukkan munculnya sebuah kekuatan politik besar di Sumatra. Sementara di Jawa Barat, masa Tarumanagara sedang berada di penghujung sejarahnya.

Dengan kata lain, 670 M di Tunisia, masjid dan kota Muslim Kairouan mulai tumbuh.

670 M di Nusantara, Sriwijaya sedang muncul sebagai kekuatan penting, sementara Tarumanagara berada di fase akhir. Dunia Islam dan Nusantara sebenarnya sudah mulai terhubung melalui jaringan perdagangan laut, tetapi Islam belum menjadi kekuatan politik di kepulauan ini.

3. Masjid Zaytuna, Tunisiasekitar 698–699 M

Masih di Tunisia, ada masjid lain yang sejarahnya hampir setua Kairouan, yaitu Masjid Zaytuna di Tunis. Masjid ini berada di jantung medina Tunis dan sejarah pendiriannya secara tradisional dikaitkan dengan akhir abad ke-7.

Lembaga Warisan Tunisia menyebut masjid tersebut didirikan sekitar 79 H/699 M oleh jenderal Ghassanid Hassan ibn Nu’man. Museum With No Frontiers juga mengaitkan fondasinya dengan pembentukan kota Tunis sekitar 698 M.

Namun sejarahnya tidak sesederhana satu tanggal. Masjid tersebut mengalami pembangunan, perluasan dan renovasi berkali-kali. Struktur utama bangunan yang sekarang banyak berasal dari periode Aghlabiyah pada abad ke-9.

Yang membuat Zaytuna istimewa bukan hanya usianya. Masjid ini kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang sangat penting di Afrika Utara.

Selama berabad-abad, masjid dan lembaga pendidikannya menjadi tempat berkembangnya ilmu agama, hukum dan pemikiran.

Bagaimana dengan Nusantara sekitar 699 M? Pada akhir abad ke-7, Sriwijaya sudah menjadi kekuatan penting di Sumatra.

Di Jawa Barat, Tarumanagara telah memasuki akhir masa kekuasaannya. Artinya, ketika di Tunis sebuah masjid mulai berkembang menjadi pusat komunitas dan kemudian pendidikan Islam, Nusantara sedang berada dalam dunia politik Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha lainnya.

Belum ada kerajaan Islam seperti Demak, Samudra Pasai atau Aceh. Bahkan nama-nama kerajaan Islam yang sangat dikenal dalam sejarah Indonesia itu masih berjarak ratusan tahun dari masa tersebut.

4. Masjid Agung Damaskus, Suriah715 M

Jika berbicara mengenai sejarah arsitektur Islam awal, Masjid Agung Damaskus memiliki posisi yang sangat penting. Masjid ini dibangun pada masa Khalifah Umayyah al-Walid I, sekitar 715 M, di ibu kota Kekhalifahan Umayyah.

Yang menarik adalah lokasi masjid tersebut sudah menjadi tempat suci jauh sebelum Islam. UNESCO mencatat Masjid Agung Umayyah dibangun di atas situs yang sebelumnya merupakan tempat pemujaan kuno, kemudian kuil Romawi dan basilika Kristen.

Dengan demikian, masjid ini bukan hanya bangunan baru. Ia berdiri di atas lapisan sejarah peradaban yang jauh lebih tua.

Pada masa Umayyah, Damaskus menjadi pusat kekuasaan dunia Islam.nMasjid tersebut kemudian menjadi salah satu simbol terbesar peradaban Umayyah dan salah satu monumen penting arsitektur Islam awal.

Tahun 715 M di Nusantara,  sekarang kita kembali ke Nusantara. Pada periode ini, Sriwijaya sedang berkembang sebagai kekuatan maritim, sementara di Jawa mulai muncul fase baru yang pada abad berikutnya berkembang menjadi kerajaan Mataram Kuno.

Jadi ketika Damaskus menjadi ibu kota kekhalifahan besar dan memiliki masjid monumental, masyarakat Jawa dan Sumatra masih hidup dalam lingkungan kerajaan Hindu-Buddha.

Perbandingan ini menunjukkan betapa berbeda perkembangan politik dan agama antara Timur Tengah dengan kepulauan Nusantara pada periode yang sama.

5. Masjid Agung Xi’an, China742 M

Salah satu kisah paling menarik justru datang dari China. Masjid Agung Xi’an memiliki sejarah yang dikaitkan dengan tahun 742 M, pada masa Dinasti Tang.

Xi’an atau Chang’an pada masa itu bukan kota biasa. Kota tersebut merupakan salah satu pusat perdagangan dan kebudayaan terbesar dunia.

Baca Juga :  Ribuan Jamaah Padati Haul Mbah Adipati Bojong, Gus Muwafik Ingatkan Pentingnya Berguru pada Ulama Bersanad

Kehadiran Muslim di China berkaitan erat dengan perdagangan dan hubungan China dengan dunia Barat melalui jaringan perdagangan darat dan laut.

Masjid Xi’an menjadi contoh menarik bagaimana Islam bertemu dengan budaya China. Arsitekturnya tidak terlihat seperti masjid Timur Tengah pada umumnya. Kompleksnya menggunakan tata ruang dan unsur arsitektur tradisional China, tetapi tetap berfungsi sebagai tempat ibadah Muslim.

Kajian mengenai masjid tersebut mencatat pendirian kompleks awal pada 742 M, meskipun bangunan yang sekarang merupakan hasil berbagai pembangunan kembali pada masa sesudahnya.

742 M, Indonesia sedang membangun peradaban apa? Nah, di sinilah perbandingan menjadi semakin menarik. 742 M adalah masa penting di Jawa.

Pada periode tersebut, Jawa memasuki masa kerajaan Mataram Kuno. Prasasti Canggal tahun 732 M menjadi salah satu bukti penting mengenai kekuasaan Sanjaya di Jawa.

Beberapa dekade kemudian, peradaban Jawa melahirkan salah satu bangunan terbesar dunia yakni, Borobudur.

UNESCO menyebut Borobudur dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 pada masa Dinasti Syailendra. Sumber Direktorat Kebudayaan juga menempatkan pembangunan Borobudur sekitar abad ke-8–9.

Jadi sekitar tahun 742 M China,  komunitas Muslim telah memiliki masjid di Xi’an. Jawa, masyarakat Hindu-Buddha sedang membangun fondasi peradaban yang kelak menghasilkan Borobudur.

Dua wilayah yang sangat jauh tersebut ternyata sama-sama sedang mengalami perkembangan budaya dan keagamaan besar, tetapi dalam tradisi yang berbeda.

6. Masjid Agung Córdoba, Spanyol785 M

Memasuki akhir abad ke-8, Islam telah berkembang jauh ke Eropa Barat. Di Córdoba, Spanyol, Emir Umayyah Abdurrahman I memulai pembangunan masjid besar sekitar 785 M.

Masjid ini dibangun di atas lokasi yang sebelumnya berkaitan dengan Basilika Visigoth San Vicente. Bangunan tersebut kemudian diperluas oleh penguasa-penguasa berikutnya selama berabad-abad.

UNESCO menyebut Córdoba mencapai masa kejayaannya sejak abad ke-8. Kota itu berkembang menjadi pusat politik, budaya dan intelektual dunia Islam di Eropa. Pada masa kejayaannya, Córdoba disebut memiliki sekitar 300 masjid.

Masjid tersebut kemudian mengalami perubahan besar setelah Córdoba ditaklukkan kerajaan Kristen pada 1236. Bangunan masjid diubah menjadi katedral, dan pada abad ke-16 dilakukan pembangunan besar di bagian dalamnya.

Hari ini bangunan tersebut dikenal sebagai Mosque-Cathedral of Córdoba.

Apa yang terjadi di Indonesia sekitar 785 M? di Jawa, ini adalah masa ketika peradaban Mataram Kuno dan Wangsa Syailendra sedang berkembang. Pembangunan Borobudur berlangsung dalam rentang abad ke-8 dan ke-9.

Jadi pada periode ketika Córdoba mulai membangun salah satu masjid paling monumental di Eropa, Jawa juga sedang menghasilkan proyek keagamaan monumental dengan skala luar biasa.

Bedanya, Córdoba pusat Islam di Eropa Barat. Jawa pusat peradaban Hindu-Buddha di Asia Tenggara. Dua-duanya menghasilkan arsitektur monumental pada periode yang hampir sama.

7. Masjid Al-Qarawiyyin, Maroko857–859 M

Beberapa dekade kemudian, di Fez, Maroko, berdiri Masjid Al-Qarawiyyin. Masjid ini didirikan oleh Fatima al-Fihri sekitar 857–859 M. Yang membuatnya istimewa adalah perkembangan fungsi bangunan tersebut.

Al-Qarawiyyin bukan sekadar tempat ibadah. Ia berkembang menjadi pusat pendidikan dan keilmuan yang sangat penting dalam sejarah dunia Islam.

Tradisi keilmuan yang berkembang di sana kemudian menjadikan Fez sebagai salah satu pusat intelektual penting Afrika Utara. Namun seperti masjid-masjid kuno lainnya, bangunannya juga mengalami perluasan dan perubahan selama berabad-abad.

Bagaimana dengan Jawa? Pada abad ke-9, Jawa sedang berada pada masa yang sangat produktif dalam pembangunan keagamaan. Borobudur dan kompleks candi lainnya menjadi bagian dari perkembangan peradaban Mataram Kuno.

Jadi sekitar 857 M, ketika di Fez sebuah masjid berkembang menjadi pusat pendidikan Islam, Jawa juga sedang berada dalam periode pembangunan monumen-monumen keagamaan besar.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Festival Hadroh Al-Banjari dan Rebana Kembali Digelar, Tahun Ini Naik Level Jadi Wali Kota Pekalongan Cup
Beri Tausiyah Maulid dan Haul di Kota Pekalongan, Mbah Ubed Sentil Pejabat Korupsi Serta Singgung Tambang
KH Muhammad Saifuddin Amirin Sebut Maulid Nabi Bukan Sekadar Seremoni, tapi Harus Diamalkan
Puluhan Ribu Jemaah Diprediksi Padati Pekalongan, Maulid Akbar Habib Luthfi Digelar 20 September
Gerakan RRM Muncul di Tegal, Punya Relawan Rutin Bersihkan Masjid di 27 Daerah
Gereja Pertama di KEK Industropolis Batang Siap Dibangun, Begini Penjelasan Kemenag
Ribuan Jamaah Padati Haul Mbah Adipati Bojong, Gus Muwafik Ingatkan Pentingnya Berguru pada Ulama Bersanad
Haul Dihadiri Ribuan Jemaah, Rizal Bawazier Sebut Potensi Bawang Jadi Wisata Religi di Batang

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 06:10 WIB

Masjid-Masjid Tertua di Luar Arab Saudi, Seberapa Jauh Usianya Jika Dibandingkan dengan Sejarah Nusantara?

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:26 WIB

Festival Hadroh Al-Banjari dan Rebana Kembali Digelar, Tahun Ini Naik Level Jadi Wali Kota Pekalongan Cup

Minggu, 16 Agustus 2026 - 05:46 WIB

Beri Tausiyah Maulid dan Haul di Kota Pekalongan, Mbah Ubed Sentil Pejabat Korupsi Serta Singgung Tambang

Minggu, 16 Agustus 2026 - 05:01 WIB

KH Muhammad Saifuddin Amirin Sebut Maulid Nabi Bukan Sekadar Seremoni, tapi Harus Diamalkan

Senin, 3 Agustus 2026 - 21:09 WIB

Puluhan Ribu Jemaah Diprediksi Padati Pekalongan, Maulid Akbar Habib Luthfi Digelar 20 September

Berita Terbaru