PEKALONGAN, KANALPLUS.ID — Aksi unik dan tak biasa dilakukan seorang kakek warga Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, bernama Syafi’i yang menggelar nazar dengan cara sederhana namun sarat pesan yakni makan bersama nasi megono dan ikan pindang di depan Monumen Al-Qur’an, sekaligus membagikan ratusan nasi bungkus kepada warga.
Aksi syukuran yang menyelipkan pesan dan kritikan tajam tersebut dilakukan sebagai bentuk respon terhadap situasi pemerintahan daerah pasca penetapan tersangka Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, oleh KPK sehingga menarik perhatian masyarakat.
Syafi’i datang bersama keluarganya sejak pagi. Ia menggelar tikar di trotoar tepat di depan monumen, lalu menurunkan ratusan bungkus nasi megono lengkap dengan lauk dari dua wadah besar dan kantong plastik. Warga yang melintas tampak mulai berkumpul, sebagian penasaran, sebagian lainnya ikut menyaksikan.
Sebelum makan bersama dimulai, kolega Syafi’i yang merupakan seorang ustad memimpin doa. Dalam prosesi itu, ia juga meletakkan satu bungkus nasi putih yang telah didoakan di atas prasasti peresmian Monumen Al-Qur’an yang diketahui ditandatangani oleh Bupati Fadia Arafiq sebagai simbol nazar dan bentuk pesan moral.
Aksi tersebut sontak menarik perhatian publik. Tak sedikit warga yang mendokumentasikan momen tersebut, sementara yang lain ikut menerima nasi bungkus yang dibagikan secara cuma-cuma. Sfai’i menegaskan, kegiatan ini merupakan nazar pribadi sebagai bentuk rasa syukur atas penangkapan Bupati Pekalongan oleh KPK.
“Jadi nazar ini bentuk syukur. Kita menghargai KPK yang sudah menangkap orang-orang yang menzalimi Kabupaten Pekalongan,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (21/4/2026).
Ia mengaku telah lama meyakini bahwa kepemimpinan dua periode di Kabupaten Pekalongan tidak akan berjalan mulus. Bahkan, menurutnya, penangkapan tersebut terjadi sesuai dengan prediksinya.
“Saya sudah bilang dari awal, tidak ada bupati dua periode di sini. Alhamdulillah belum satu tahun sudah terjadi,” katanya.
Namun, aksi tersebut tidak hanya berhenti pada simbol syukuran. Di hadapan warga dan awak media, Syafi’i juga menyampaikan delapan poin seruan yang ditujukan kepada aparat penegak hukum, khususnya KPK. Ia mendesak agar kasus yang menjerat Bupati Pekalongan tidak berhenti pada satu nama, melainkan diusut hingga ke akar, termasuk kemungkinan keterlibatan keluarga, orang dekat, hingga jaringan pendukung politik.
“Kami minta diusut tuntas tanpa pandang bulu. Siapa pun yang terlibat harus dibuka secara transparan,” tegasnya.
Syafi’i juga menyinggung dugaan praktik jual beli jabatan di lingkungan pemerintahan daerah, serta persoalan pemotongan gaji tenaga outsourcing yang menurutnya perlu menjadi perhatian serius aparat penegak hukum.
Tak hanya itu, ia turut menyoroti berbagai persoalan lain yang dinilai belum terselesaikan, mulai dari mutasi jabatan yang dianggap tidak adil, hingga dugaan kasus intimidasi dan penculikan yang terjadi pada masa sebelumnya.
“Ini momentum membersihkan Kabupaten Pekalongan dari praktik korupsi. Jangan takut, kalau memang salah harus diproses,” ucapnya lantang.
Meski sarat kritik, Syafi’i menegaskan bahwa kegiatan yang digelarnya bukanlah aksi demonstrasi, melainkan murni nazar pribadi. Ia bahkan mengaku sempat menolak ajakan sejumlah pihak yang ingin menjadikan momen tersebut sebagai ajang orasi terbuka.
“Ini khusus syukuran. Kalau mau berjuang, nanti kita lakukan bersama-sama. Tapi hari ini nazar saya,” katanya.
Di sisi lain, Syafi’i juga mengungkap latar belakang emosional di balik aksinya. Ia mengaku pernah menjadi pendukung Bupati Fadia sejak awal kemunculannya di dunia politik. Namun, seiring waktu, ia merasa kecewa terhadap arah kepemimpinan yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat.
“Saya dulu pendukung, tapi kenyataannya malah banyak yang disingkirkan. Itu yang saya tidak terima,” ungkapnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









