KANAL BISNIS – Banyak perusahaan yang dikenal sebagai ‘merek HP’ sebenarnya adalah konglomerat teknologi. Smartphone hanyalah satu pintu masuk ke ekosistem yang lebih luas seperti chip, layar, sensor kamera, perangkat rumah pintar, konsol game, infrastruktur jaringan, hingga kendaraan listrik. Pada beberapa perusahaan, lini non-smartphone justru menyumbang pendapatan dan laba yang lebih besar daripada bisnis ponselnya sendiri.
Samsung Electronics
Samsung sering dipandang sebagai produsen Galaxy, tetapi smartphone hanya salah satu dari banyak mesin uangnya. Pada 2025, Samsung Electronics mencatat pendapatan konsolidasi sebesar KRW 333,6 triliun, rekor tertinggi sepanjang sejarahnya dengan laba operasi KRW 43,6 triliun, naik 33 persen dari tahun sebelumnya.
Lini bisnis non-smartphone Samsung sangat luas. Divisi Device Solutions (DS) menangani memori DRAM dan NAND, chip HBM untuk AI, serta foundry atau jasa produksi chip untuk pihak lain. Pada kuartal IV 2025, bisnis memori Samsung mencetak rekor pendapatan dan laba operasi kuartalan, didorong permintaan DRAM konvensional serta ekspansi HBM bernilai tinggi.
Samsung juga mendominasi industri tampilan melalui Samsung Display, memproduksi panel OLED dan layar canggih untuk ponsel, tablet, laptop, hingga perangkat lain. Pada kuartal III 2025, divisi DS menyumbang sekitar 35,9 persen pendapatan perusahaan, Samsung Display 8,5 persen dan Harman pemilik merek audio seperti JBL, Harman Kardon dan AKG 4,7 persen.
Selain itu, Samsung memiliki bisnis jaringan 5G, peralatan rumah tangga, TV, perangkat rumah pintar SmartThings, serta bisnis kendaraan melalui Harman. Dominasi paling mencolok ada di memori. Samsung merupakan salah satu pemimpin global DRAM, dengan pangsa pasar DRAM perusahaan dilaporkan sekitar 41,5 persen pada kuartal III 2025 menurut data Omdia yang dikutip dalam laporan interim Samsung.
Dari sisi valuasi, Samsung Electronics adalah salah satu perusahaan teknologi terbesar di Asia. Nilai pasar Nokia saja telah dilaporkan sekitar EUR 41,8 miliar pada Oktober 2026, sedangkan Samsung secara historis berada pada tingkat valuasi yang jauh lebih tinggi karena skala bisnis semikonduktor, display dan elektronik konsumennya.
Apple
Apple memang identik dengan iPhone, tetapi bisnis layanannya kini telah menjadi sumber pendapatan raksasa yang sangat menguntungkan. Pada tahun fiskal 2025 yang berakhir 27 September 2025, Apple mencatat total penjualan bersih USD 416,16 miliar, naik dari USD 391,04 miliar pada 2024.
iPhone tetap menjadi penyumbang pendapatan terbesar, yaitu USD 209,59 miliar pada 2025, naik 4 persen dari tahun sebelumnya. Namun, segmen Services mencapai USD 109,16 miliar, tumbuh 14 persen, berkat App Store, iklan, cloud, Apple Music, Apple TV+, Apple Pay, dan layanan langganan lainnya.
Artinya, layanan Apple sendiri telah menghasilkan pendapatan lebih dari setengah pendapatan iPhone. Karena layanan umumnya memiliki margin yang jauh lebih tinggi daripada penjualan perangkat, lini ini menjadi salah satu pendorong utama valuasi Apple sebagai salah satu perusahaan paling bernilai di dunia.
Lini bisnis lain Apple meliputi Mac, iPad, Wearables, Homeand Accessories yang mencakup Apple Watch, AirPods, Apple TV, dan HomePod serta layanan digital. Strategi Apple adalah membuat iPhone sebagai pusat ekosistem, lalu mendorong pengguna membeli perangkat pendukung dan berlangganan layanan.
Sony
Sony sering dianggap merek kamera atau PlayStation, padahal Xperia hanyalah bagian kecil dari grup ini. Pada tahun fiskal 2025, Sony mencatat penjualan berkelanjutan sebesar JPY 12.479,6 miliar atau sekitar JPY 12,48 triliun, naik 4 persen dari tahun sebelumnya.
Bisnis terbesar Sony adalah Game & Network Services, rumah bagi PlayStation, PlayStation Network, game, serta layanan langganan. Segmen ini mencatat penjualan JPY 4.685,7 miliar pada FY2025 dan laba operasi JPY 463,3 miliar, naik 12 persen.
Lini yang makin penting adalah Imaging & Sensing Solutions (I&SS). Sony memproduksi sensor citra CMOS yang dipakai dalam kamera smartphone, kamera profesional, mobil, serta perangkat industri. Pada FY2025, penjualan segmen ini melonjak 20 persen menjadi JPY 2.151,5 miliar, dengan laba operasi JPY 357,3 miliar rekor tertinggi bagi divisi tersebut.
Sony juga memiliki bisnis musik melalui Sony Music, film dan studio melalui Sony Pictures, perangkat audio seperti headphone dan speaker, kamera Alpha, serta teknologi citra untuk otomotif. Dengan kata lain, nilai Sony hari ini lebih banyak berasal dari hiburan, game, sensor, dan konten daripada dari ponsel Xperia.
Xiaomi
Xiaomi adalah contoh perusahaan smartphone yang berhasil membangun ekosistem perangkat dan layanan internet. Pada 2025, pendapatan total Xiaomi mencapai RMB 457,3 miliar, tumbuh 25 persen dari tahun sebelumnya.
Menariknya, pendapatan smartphone Xiaomi mencapai RMB 186,4 miliar atau sekitar 40,8 persen dari total pendapatan. Sementara itu, bisnis IoT dan gaya hidup mencetak rekor RMB 123,2 miliar, naik 18,3 persen, dengan margin kotor 23,1 persen.
Lini IoT Xiaomi mencakup jam pintar, band kebugaran, earbuds, robot penyedot debu, purifier udara, kamera keamanan, peralatan dapur pintar, TV, laptop, scooter listrik, hingga perangkat rumah pintar. Ekosistem ini terhubung melalui aplikasi Mi Home dan platform HyperOS, sehingga pengguna ponsel Xiaomi cenderung membeli produk pendukung dari merek yang sama.
Xiaomi juga memiliki bisnis layanan internet senilai RMB 37,4 miliar pada 2025, naik 9,7 persen. Pendapatan ini berasal dari iklan, game, konten digital, dan layanan nilai tambah dalam ekosistem MIUI atau HyperOS.
Lebih jauh, Xiaomi telah masuk ke industri kendaraan listrik melalui Xiaomi EV. Meskipun lini ini relatif baru dibandingkan bisnis ponsel dan IoT, kehadirannya menunjukkan bahwa Xiaomi sedang bertransformasi dari pembuat smartphone menjadi perusahaan ekosistem konsumen dan teknologi mobilitas.
LG Electronics
LG adalah contoh paling kuat bahwa perusahaan bisa tetap sangat besar setelah keluar dari bisnis smartphone. LG resmi menghentikan produksi ponsel pada 2021, tetapi pendapatannya justru terus tumbuh di lini lain. Pada 2025, LG Electronics mencatat pendapatan konsolidasi KRW 89,2 triliun dan laba operasi KRW 2,48 triliun, rekor pendapatan tahunan kedua secara berturut-turut.
Bisnis terbesar LG saat ini adalah Home Appliance Solution (HS), yang meliputi kulkas, mesin cuci, pendingin ruangan, peralatan dapur, dan solusi rumah pintar. Pada 2025, divisi ini membukukan pendapatan KRW 26,13 triliun dan laba operasi KRW 1,28 triliun.
Lini Vehicle Solutions (VS) juga semakin penting. Divisi ini memproduksi infotainment kendaraan, layar otomotif, kamera, sistem konektivitas, komponen kendaraan listrik, dan solusi e-mobility. Pada 2025, pendapatan VS mencapai KRW 11,14 triliun dengan laba operasi KRW 559 miliar; keduanya merupakan rekor tertinggi.
LG juga memiliki bisnis HVAC dan solusi komponen, platform webOS untuk TV dan perangkat pintar, layanan perawatan, kanal langsung ke konsumen, serta model berlangganan untuk peralatan rumah tangga. Pada kuartal II 2025, pendapatan langganan peralatan rumah LG naik 18 persen menjadi KRW 630 miliar, menandakan bahwa LG tidak hanya menjual barang, tetapi juga membangun pendapatan berulang.
Nokia
Nokia dulunya identik dengan ponsel tahan banting, tetapi kini jauh lebih penting sebagai perusahaan infrastruktur telekomunikasi. Pada 2025, Nokia mencatat penjualan bersih EUR 19,889 miliar, naik 3 persen secara dilaporkan dan 2 persen berdasarkan mata uang konstan serta komposisi portofolio.
Bisnis inti Nokia kini adalah Mobile Networks, yaitu perangkat radio, antena, dan jaringan seluler untuk operator telekomunikasi. Pada 2025, penjualan Mobile Networks tumbuh 6 persen di kuartal IV, sementara sepanjang tahun relatif stabil karena pasar peralatan jaringan masih menyesuaikan.
Lini Network Infrastructure menjadi motor pertumbuhan utama. Segmen ini mencakup jaringan optik, IP Networks, fixed networks, dan substasi jaringan untuk pusat data, cloud, serta kebutuhan AI. Jaringan optik Nokia tumbuh 17 persen pada 2025, terutama karena permintaan dari pelanggan AI dan cloud.
Nokia juga memiliki Cloud and Network Services untuk perangkat lunak jaringan, otomasi, keamanan, dan core network berbasis cloud. Selain itu, Nokia Technologies menghasilkan pendapatan dari lisensi paten, termasuk paten seluler yang digunakan oleh berbagai perusahaan teknologi dan otomotif. Pada 2025, Nokia Technologies membukukan penjualan EUR 1,5 miliar dengan kontrak tahunan berjalan sekitar EUR 1,4 miliar.
Nilai pasar Nokia dilaporkan sekitar EUR 41,8 miliar pada Oktober 2026. Angka ini menegaskan bahwa meski Nokia sudah lama tidak menjadi pemain utama smartphone, perusahaan tetap bernilai puluhan miliar dolar karena infrastruktur jaringan dan portofolio patennya.
MengapaLini Non-Smartphone Bisa Lebih Bernilai
Ada beberapa alasan mengapa bisnis di luar smartphone sering menjadi lebih bernilai.
Pertama, smartphone adalah pasar yang sangat kompetitif dan bermargin tipis. Banyak produsen harus bersaing pada harga, distribusi, dan kecepatan peluncuran produk. Sebaliknya, chip memori, sensor citra, infrastruktur 5G, konsol game, dan layanan langganan sering memiliki barrier to entry lebih tinggi.
Kedua, teknologi inti bisa dijual ke banyak industri. Sensor Sony tidak hanya dipakai di Xperia, tetapi juga di ponsel pesaing, kamera, dan kendaraan. Panel Samsung juga dipakai oleh banyak merek lain. Chip memori Samsung dibutuhkan oleh pabrikan server, PC, ponsel, dan pusat data AI.
Ketiga, layanan dan langganan menciptakan pendapatan berulang. Apple Services, layanan internet Xiaomi, platform webOS LG, dan lisensi paten Nokia menghasilkan uang secara berkelanjutan, tidak hanya saat konsumen membeli perangkat baru.
Keempat, diversifikasi mengurangi risiko. Ketika permintaan ponsel melambat, perusahaan masih dapat bertahan dari data center, otomotif, game, rumah pintar, atau infrastruktur jaringan. LG membuktikan hal ini setelah keluar dari ponsel, sementara Nokia bertahan kuat setelah meninggalkan bisnis ponselnya.
Kesimpulan
Banyak produsen smartphone ternyata memiliki bisnis lain yang tidak kalah besar, bahkan lebih besar dan lebih menguntungkan daripada bisnis ponselnya. Samsung bertumpu pada chip, layar dan elektronik. Apple pada layanan dan ekosistem. Sony pada game serta sensor kamera; Xiaomi pada IoT, layanan internet, dan kendaraan listrik. LG pada peralatan rumah dan solusi kendaraan, sedangkan Nokia pada infrastruktur jaringan dan paten.
Dalam industri teknologi modern, smartphone sering kali bukan seluruh bisnis, melainkan gerbang menuju ekosistem. Perusahaan yang mampu mengubah ponsel menjadi pusat perangkat, layanan, chip, dan konektivitas biasanya memiliki valuasi jauh lebih besar daripada perusahaan yang hanya menjual ponsel.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












