Tanah Jarang Bukan Tanah, Tapi Mineral Langka yang Menguasai Teknologi Dunia

- Jurnalis

Selasa, 8 September 2026 - 06:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Tanah jarang menjadi istilah yang makin populer belakangan ini namun belum semua orang paham apa itu Rare Earth atau tanah jarang yang saat ini menguasai teknologi moderen di dunia. Foto: Ilustrasi AI

Tanah jarang menjadi istilah yang makin populer belakangan ini namun belum semua orang paham apa itu Rare Earth atau tanah jarang yang saat ini menguasai teknologi moderen di dunia. Foto: Ilustrasi AI

KANAL TEKNOLOGI – Namanya terdengar sederhana, tanah jarang. Namun di balik istilah tersebut tersimpan salah satu kelompok mineral paling strategis di dunia.

Tanah jarang atau rare earth elements (REE) bukanlah tanah dan sebenarnya juga tidak selalu langka. Istilah ini merujuk pada 17 unsur kimia, termasuk neodymium, praseodymium, dysprosium, terbium, lanthanum, cerium, yttrium dan skandium.

Yang membuatnya berharga bukan semata-mata karena jumlahnya sedikit di alam. Persoalannya adalah unsur-unsur tersebut biasanya tersebar dalam konsentrasi rendah dan bercampur sangat erat dengan mineral lain sehingga sulit ditambang dan, terutama, sulit dipisahkan.

Istilah rare earth sendiri sudah dikenal sejak akhir abad ke-18. Sejarahnya bermula dari Ytterby, Swedia, ketika mineral yang tidak biasa ditemukan pada 1787. Beberapa tahun kemudian, ilmuwan Johan Gadolin mengidentifikasi zat yang kemudian dikenal sebagai yttria.

Pada masa itu, istilah earth digunakan untuk menyebut oksida yang belum dapat diuraikan menjadi logam. Sementara rare merujuk pada anggapan bahwa mineral tersebut jarang ditemukan.

Belakangan diketahui bahwa sejumlah unsur tanah jarang sebenarnya cukup melimpah di kerak bumi. Yang sulit ditemukan adalah endapan yang terkonsentrasi dan ekonomis untuk ditambang.

Dari Ponsel hingga Mobil Listrik

Tanah jarang mungkin terdengar seperti bahan tambang yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kenyataannya, unsur-unsur tersebut berada di balik banyak teknologi modern.

Rare earth digunakan dalam berbagai perangkat elektronik, layar, kamera, speaker, kaca optik, katalis industri hingga sistem pertahanan.

Neodymium dan praseodymium menjadi sangat penting karena digunakan untuk membuat magnet permanen berkekuatan tinggi. Magnet berbasis neodymium-besi-boron atau NdFeB memungkinkan motor listrik dibuat lebih kecil namun tetap menghasilkan tenaga besar.

Karena itu, tanah jarang berkaitan erat dengan mobil listrik, robot, drone, turbin angin dan berbagai peralatan industri.

Dysprosium dan terbium juga memiliki nilai strategis karena dapat meningkatkan kemampuan magnet bekerja pada temperatur tinggi.

Dengan kata lain, keberadaan tanah jarang tidak selalu terlihat oleh konsumen, tetapi pengaruhnya bisa ditemukan di balik teknologi yang digunakan setiap hari.

China dan Tambang Bayan Obo

Cadangan tanah jarang tersebar di berbagai negara. China merupakan pemilik cadangan terbesar yang diketahui saat ini.

Salah satu deposit paling penting berada di Bayan Obo, Mongolia Dalam. China tidak berhenti pada kegiatan pertambangan. Negara tersebut membangun rantai industri dari pengolahan mineral hingga produk bernilai tinggi. Di sinilah keunggulan China menjadi sangat penting.

Baca Juga :  Menteri PKP Wajibkan Tiap Rumah Subsidi Tanam Satu Pohon

Memiliki tambang tidak otomatis berarti menguasai industri tanah jarang. Bijih yang keluar dari tambang masih harus melalui serangkaian proses panjang. Mineral harus dikonsentrasikan, dipisahkan, dimurnikan, diubah menjadi oksida, logam dan alloy, kemudian dapat digunakan untuk membuat magnet.

Tahap pemisahan menjadi salah satu bagian paling sulit karena unsur-unsur tanah jarang mempunyai karakteristik kimia yang sangat mirip.

China berhasil membangun kemampuan tersebut dalam skala industri yang jauh lebih besar dibandingkan negara lain.

Menurut International Energy Agency (IEA), pada 2024 China menyumbang sekitar 60 persen produksi tambang rare earth yang digunakan untuk magnet. Namun penguasaannya jauh lebih besar pada tahap hilir yakni sekitar 91 persen produksi hasil pemurnian dan 94 persen produksi magnet permanen sinter berada di China.

Angka tersebut menjelaskan mengapa China memiliki posisi strategis dalam rantai pasok teknologi dunia.

Amerika Punya Tambang, tapi China Punya Rantai Industri

Amerika Serikat memiliki Mountain Pass di California, salah satu tambang rare earth paling terkenal di dunia.

Australia memiliki Mount Weld dan menjadi salah satu produsen penting di luar China.

Brazil bahkan memiliki cadangan yang sangat besar, tetapi produksi komersialnya masih jauh di bawah China.

Persoalannya adalah perbedaan antara memiliki cadangan dan menguasai teknologi pengolahan.

Sebuah negara bisa memiliki jutaan ton sumber daya tanah jarang, tetapi jika tidak memiliki fasilitas pemisahan dan pemurnian, mineral tersebut belum menghasilkan nilai ekonomi maksimal.

Inilah yang membuat tanah jarang menjadi berbeda dengan komoditas tambang biasa. Nilai strategisnya justru semakin besar setelah mineral tersebut diproses menjadi bahan baku industri.

Indonesia Juga Memiliki Potensi

Indonesia bukan tanpa tanah jarang. Potensinya terutama berkaitan dengan mineral ikutan pertambangan timah seperti monasit dan xenotim. Potensi tersebut antara lain ditemukan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.

Selama bertahun-tahun Indonesia menambang timah, sementara mineral ikutannya berpotensi mengandung unsur tanah jarang. Namun Indonesia belum menjadi pemain besar dalam industri rare earth global.

Tantangannya bukan hanya menemukan mineralnya, tetapi membangun teknologi untuk mengekstraksi dan memisahkan unsur-unsur tersebut. Di sinilah Indonesia sebenarnya memiliki pilihan strategis.

Apakah tanah jarang hanya diperlakukan sebagai mineral ikutan yang bernilai rendah, atau dikembangkan menjadi bagian dari industri teknologi bernilai tinggi?

Baca Juga :  Imigrasi Semarang Deportasi 14 WNA dalam Enam Bulan, Mayoritas Asal China

Nilai Tambangnya Tidak Sebesar Nilai Teknologinya

Nilai ekonomi tanah jarang juga memiliki karakter yang unik. Pasar rare-earth oxide secara keseluruhan relatif kecil jika dibandingkan dengan komoditas seperti minyak, gas atau bijih besi. Namun produk turunannya memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar. Magnet permanen merupakan contoh paling jelas.

Tanah jarang yang nilainya relatif kecil dapat menjadi komponen penting dalam sebuah motor kendaraan listrik yang nilainya jauh lebih tinggi.

Karena itu, ancaman terhadap pasokan rare earth bukan hanya ancaman terhadap industri pertambangan.

Gangguan pasokan dapat menjalar ke industri otomotif, energi, elektronik, robotika dan pertahanan.

Mengapa Menjadi Senjata Geopolitik?

Posisi China membuat rare earth menjadi salah satu instrumen penting dalam persaingan ekonomi dan teknologi global.

Pada 2025, pembatasan ekspor China terhadap sejumlah unsur tanah jarang dan produk turunannya sempat menimbulkan tekanan pada industri di luar China. Sejumlah produsen bahkan mengalami kesulitan mendapatkan magnet permanen.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa dunia tidak cukup hanya memiliki tambang alternatif.

Dunia juga membutuhkan fasilitas pemrosesan, teknologi pemisahan, pabrik logam dan alloy, serta industri magnet.

Membangun tambang bisa dilakukan dalam beberapa tahun. Membangun seluruh rantai industri dan keahlian teknologi membutuhkan waktu jauh lebih panjang.

Bukan Lagi Soal Siapa Punya Tambang

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting mengenai tanah jarang bukan lagi sekadar siapa yang memiliki cadangan terbesar. Pertanyaannya adalah, siapa yang mampu mengubah batuan menjadi bahan teknologi?

China saat ini menjadi negara yang paling dominan dalam rantai tersebut. Sementara Amerika Serikat, Australia, Jepang, Eropa dan negara lain berusaha membangun rantai pasok alternatif agar tidak terlalu bergantung pada satu negara.

Indonesia pun memiliki peluang. Potensi monasit dan xenotim dari kawasan pertambangan timah dapat menjadi salah satu sumber bahan baku. Namun peluang tersebut baru akan memiliki arti besar jika diikuti kemampuan mengolahnya di dalam negeri. Sebab nilai terbesar tanah jarang bukan berada ketika ia masih berupa batuan di dalam tanah.

Nilai sebenarnya muncul ketika unsur tersebut berubah menjadi magnet, motor listrik, robot, turbin angin, perangkat elektronik hingga teknologi pertahanan. Itulah paradoks tanah jarang.

Namanya seolah menunjukkan sesuatu yang langka. Padahal yang benar-benar langka adalah kemampuan untuk mengolahnya menjadi teknologi.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Antimateri Kini Bisa Dipindahkan, Mengapa Ilmuwan Membawa Antiproton Keluar dari CERN?
CUDA, Teknologi Tak Kasatmata yang Mengubah NVIDIA Menjadi Raja AI Dunia
AI Pernah Kalah Debat. Lawannya Bukan Orang Biasa, tapi Pemegang Rekor Dunia
10 Teknologi yang Seharusnya Sudah Ditemukan Manusia, tetapi Belum Terwujud pada 2026
Kapan Manusia Menjadi Spesies Antarbintang? Membaca Masa Depan Peradaban dari Bulan hingga Bintang Lain
Nanoteknologi Makin Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari, dari Deteksi Kanker hingga Energi Bersih
Fabrikasi Chip 1 Nanometer, Mungkinkah Terwujud atau Sekadar Angka Pemasaran?
Rumor Perangkat Ini Bisa Mengubah Sejarah Teknologi, Tapi Benarkah?

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 06:10 WIB

Tanah Jarang Bukan Tanah, Tapi Mineral Langka yang Menguasai Teknologi Dunia

Jumat, 4 September 2026 - 06:10 WIB

Antimateri Kini Bisa Dipindahkan, Mengapa Ilmuwan Membawa Antiproton Keluar dari CERN?

Minggu, 23 Agustus 2026 - 00:01 WIB

CUDA, Teknologi Tak Kasatmata yang Mengubah NVIDIA Menjadi Raja AI Dunia

Kamis, 20 Agustus 2026 - 16:39 WIB

AI Pernah Kalah Debat. Lawannya Bukan Orang Biasa, tapi Pemegang Rekor Dunia

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 19:25 WIB

10 Teknologi yang Seharusnya Sudah Ditemukan Manusia, tetapi Belum Terwujud pada 2026

Berita Terbaru

Konsep Green Campus mulai diterapkan di Unikal yang diawali dengan kegiatan peningkatan kapasitas, Kamis (10/9/26). Foto: Istimewa

Kota Pekalongan

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:42 WIB