Warga Mendolo Jaga Satwa dan Larang Berburu agar Macan Tutul Tak Turun ke Desa

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026 - 16:26 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Papan larangan berburu dipasang warga Desa Mendolo untuk mencegah hilangnya rantai makanan di dalam ekosistem hutan, Rabu (2/9/26). Foto: Istimewa

Papan larangan berburu dipasang warga Desa Mendolo untuk mencegah hilangnya rantai makanan di dalam ekosistem hutan, Rabu (2/9/26). Foto: Istimewa

KANAL PEKALONGAN – Warga Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, memilih menjaga keberadaan satwa liar yang menjadi bagian dari rantai makanan di hutan. Salah satu yang dilindungi adalah babi hutan yang selama ini menjadi salah satu satwa mangsa predator seperti macan tutul Jawa.

Upaya itu dilakukan agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Warga menyadari, jika satwa mangsa terus diburu dan jumlahnya berkurang, macan tutul bisa kesulitan mendapatkan makanan dan berpotensi mendekati permukiman.

Kepala Desa Mendolo, Kaliri, mengatakan warga selama ini telah menerapkan larangan berburu di kawasan hutan. Aturan tersebut juga berlaku bagi masyarakat yang menggunakan senjata untuk memburu satwa.

Menurut dia, keberadaan hewan buruan di dalam hutan justru perlu dipertahankan agar predator tetap berada di habitatnya.

“Justru agar binatang buas tidak masuk ke desa, hewan buruan seperti babi hutan dan lain-lain tidak boleh diburu, agar tetap dilestarikan,” kata Kaliri, Rabu (2/9/2026).

Keberadaan macan tutul di hutan Mendolo sebelumnya lebih banyak diketahui dari jejak dan kotoran yang ditemukan warga. Belakangan, dua macan tutul Jawa dengan warna berbeda terekam kamera jebak yang dipasang masyarakat.

Rekaman tersebut memperlihatkan seekor macan tutul melanistik atau macan kumbang dan seekor macan tutul dengan pola totol melintas di jalur yang sama.

Kaliri mengatakan warga tidak merasa perlu memburu atau mengusir satwa tersebut selama keberadaannya tetap berada di kawasan hutan.

“Dari lingkungan masyarakat kita tidak ada kekhawatiran. Yang penting kita saling menjaga. Karena semua hewan yang ada di hutan itu terlindungi,” ujarnya.

Baca Juga :  Kasus Video Tak Senonoh Oknum Kepala Sekolah dan Guru di Pekalongan Tunggu Sanksi Berat

Gerakan menjaga hutan di Mendolo telah berlangsung selama bertahun-tahun. Kaliri menyebut upaya tersebut mulai menguat sejak sekitar 2016, ketika masyarakat mulai bergerak menjaga lingkungan dan kawasan hutan di sekitar desa.

Peran pemuda kemudian ikut memperkuat gerakan tersebut. Jika menemukan aktivitas perburuan liar, mereka akan memberikan teguran kepada pemburu.

“Pemudanya juga kalau ada pemburu liar tidak diperbolehkan dan langsung ditegur,” tegasnya.

Koordinator Paguyuban Petani Muda (PPM) Desa Mendolo, Cashudi, mengatakan kelompoknya juga aktif melakukan pemantauan keanekaragaman hayati melalui pemasangan kamera jebak.

Kegiatan itu dilakukan secara rutin sebagai bagian dari gerakan konservasi yang dibangun anak-anak muda desa.

PPM sendiri mulai melakukan aktivitas peduli lingkungan sejak sekitar 2017 dan kemudian membentuk kelompok pada 2019. Selain konservasi, mereka mengembangkan konsep pertanian ramah satwa.

Menurut Cashudi, petani di Mendolo menyadari keberadaan satwa liar memiliki kaitan dengan keberlangsungan pertanian. Karena itu, mereka tidak hanya melihat hutan sebagai sumber lahan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang harus dijaga.

“Kita konsennya dari pertanian, pertanian ramah satwa. Terutama kita kopi, kemudian durian juga. Tanpa satwa kita juga sadar, pertanian tidak akan sukses kalau tanpa dibantu oleh satwa-satwa tersebut,” bebernya.

Upaya mengenalkan pentingnya keberadaan satwa juga dilakukan kepada generasi muda. PPM secara rutin mengenalkan kekayaan hayati di kawasan Mendolo kepada anak-anak dan masyarakat dalam berbagai kegiatan.

Baca Juga :  Pemeriksaan KPK di Pekalongan Ditutup Hari Ini, Total 21 Saksi Dimintai Keterangan

Selain macan tutul, masyarakat masih menemukan atau mendengar keberadaan satwa lain di kawasan tersebut, termasuk owa Jawa. Keberadaan primata langka itu masih dapat dikenali dari suara yang terdengar dari dalam hutan.

Kepala Desa Mendolo mengatakan masyarakat juga menjaga ekosistem perairan dengan mencegah penangkapan ikan secara sembarangan.

“Iya, alhamdulillah. Termasuk ikan-ikan di sungai juga terjaga, jadi tidak punah,” jelasnya.

Camat Lebakbarang Sri Handayani mengatakan larangan berburu di kawasan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan flora dan fauna.

Menurut dia, keberadaan predator seperti macan tutul tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan satwa mangsa di habitatnya.

“Kalau habis, itu khawatirnya mereka akan turun ke desa, takutnya nanti makan yang lain-lainnya,” katanya.

Karena itu, Sri mendorong masyarakat, terutama generasi muda yang tinggal di kawasan pegunungan dan sekitar hutan, untuk ikut mempertahankan kondisi ekosistem.

Sementara itu, petugas kehutanan juga melakukan patroli untuk mencegah gangguan terhadap kawasan hutan. Asper BKPH Karanganyar sekaligus Polhut, Purwo Karyo Utomo, mengatakan hutan lindung di RPH Lebakbarang merupakan habitat berbagai satwa liar yang dilindungi.

Patroli dilakukan untuk memastikan kawasan hutan tetap aman sekaligus mencegah perburuan.

Bagi masyarakat Mendolo, keberadaan macan tutul bukan semata-mata soal adanya predator di sekitar mereka. Rekaman kamera jebak justru menjadi pengingat bahwa hutan yang selama ini dijaga masih menjadi rumah bagi berbagai satwa liar.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dindik Pekalongan Sebut Lima Anak Terlibat Dugaan Perundungan SDN Langkap 2 Diminta Tanggung Biaya Pengobatan Korban
Siswa SD di Pekalongan Diduga Alami Perundungan, Keluarga Ungkap Kondisi Anak Memburuk
Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih
Bantuan Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Kabupaten Pekalongan Tembus Jutaan Liter
Tiap Tahun Kekeringan, Warga Kesesi Lega Dibantu 18 Ribu Liter Air Bersih
Donasi Gempa NTT dari Pekalongan Tembus Rp127 Juta, Rp60 Juta Sudah Disalurkan
Polres Pemalang Hentikan Perkara Chat Mesum ke Anak, Korban dan Pelaku Sepakat Damai
Viral Karnaval Simbangkulon, Lurah Akui Mental Panitia Terganggu

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:12 WIB

Dindik Pekalongan Sebut Lima Anak Terlibat Dugaan Perundungan SDN Langkap 2 Diminta Tanggung Biaya Pengobatan Korban

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:08 WIB

Siswa SD di Pekalongan Diduga Alami Perundungan, Keluarga Ungkap Kondisi Anak Memburuk

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:55 WIB

Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 09:11 WIB

Bantuan Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Kabupaten Pekalongan Tembus Jutaan Liter

Senin, 21 September 2026 - 14:00 WIB

Tiap Tahun Kekeringan, Warga Kesesi Lega Dibantu 18 Ribu Liter Air Bersih

Berita Terbaru