BATANG, KANALPLUS.ID – Di tengah semakin akrabnya anak-anak dengan gawai dan permainan digital, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang memilih cara berbeda untuk membangun karakter generasi muda. Melalui program Ketan Budaya, permainan tradisional akan kembali hadir sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar.
Program tersebut resmi diluncurkan lewat Festival Dolanan Anak di halaman Pendopo Kabupaten Batang, Rabu (1/7/2026), yang diikuti sekitar 150 siswa dari 11 sekolah dasar.
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Disdikbud Batang, Nurlaili Endahwati, mengatakan program itu lahir dari keprihatinan semakin jauhnya anak-anak dari permainan tradisional yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak sekarang lebih mengenal permainan modern dan budaya luar dibandingkan dolanan tradisional yang merupakan warisan leluhur. Karena itu kami menghadirkannya kembali melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah,” katanya.
Sebanyak 11 SD di Kecamatan Batang, Kandeman, dan Tulis ditunjuk sebagai sekolah percontohan. Nantinya, konsep tersebut akan dikembangkan secara bertahap ke seluruh sekolah dasar di Kabupaten Batang.
Dalam festival itu, siswa diajak memainkan sedikitnya 10 permainan tradisional yang kini mulai jarang ditemui, seperti Gobak Sodor, Egrang, Suda Manda, Semprangan, Bekelan, Nekeran, Yoyo, hingga Das-dasan atau Dam-daman.
Menurut Nurlaili, permainan tradisional bukan sekadar hiburan. Berbagai permainan tersebut mampu melatih kemampuan motorik, sensorik, kebugaran fisik, sekaligus membentuk karakter anak.
“Melalui permainan tradisional, anak-anak belajar bekerja sama, menghargai teman, mematuhi aturan, berkomunikasi, bersikap jujur, sportif, hingga mengendalikan emosi. Nilai-nilai inilah yang ingin kami tanamkan sejak usia dini,” jelasnya.
Ia menilai aktivitas bermain secara langsung bersama teman sebaya juga menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gadget yang kini semakin mendominasi keseharian mereka.
Selain memperkuat pendidikan karakter, Program Ketan Budaya juga menjadi upaya memasukkan unsur pelestarian budaya lokal ke dalam proses pembelajaran di sekolah.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga mengenal dan mencintai budaya sendiri. Jangan sampai mereka hanya mengenal permainan digital, tetapi tidak tahu permainan yang menjadi warisan bangsa,” ungkap Nurlaili.
Disdikbud berharap program tersebut dapat diterapkan di seluruh sekolah dasar di Kabupaten Batang sehingga permainan tradisional tidak sekadar dikenang, tetapi kembali menjadi bagian dari proses belajar yang menyenangkan sekaligus membentuk karakter generasi muda.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD










