KANAL BATANG — Salwa Hanifah (9) tak ragu menyerahkan celengan kesayangannya untuk korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Siswi kelas 3 SD Negeri Kauman 07 Batang itu bahkan sudah mengumpulkan uang di celengan tersebut selama lima tahun, sejak masih duduk di bangku TK.
Menurut Salwa, celengannya selama ini diisi dengan uang Rp500 hingga Rp1.000 setiap hari itu akhirnya dibuka untuk membantu warga yang sedang tertimpa bencana.
“Ini untuk bantu korban bencana gempa di NTT,” kata Salwa kepada wartawan, Rabu (26/8/2026).
Salwa bukan satu-satunya siswa yang ikut menyumbangkan tabungannya. Ratusan siswa SD Negeri Kauman 07 Batang melakukan hal serupa dalam aksi penggalangan dana yang digelar di halaman sekolah.
Sekitar 340 siswa kelas 1 hingga kelas 6 bersama para guru dan tenaga kependidikan mengikuti doa bersama sebelum penggalangan dana dimulai.
Sejumlah siswa kemudian membawa kardus donasi dan berkeliling di antara barisan teman-temannya. Satu per satu siswa memasukkan uang yang telah mereka sisihkan.
Ada yang menyumbangkan uang jajannya, ada pula yang rela memberikan tabungan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Siswa kelas 3 lainnya, Hamizan (9) misalnya. Ia menyisihkan sebagian uang jajannya sejak 2022 untuk ditabung. Uang tersebut kini diberikan untuk membantu korban gempa.
“Yang kena musibah ada banyak yang kesakitan. Buat berobat. Semoga sehat selalu dan diberi kesehatan,” ujar Hamizan.
Kepala SD Negeri Kauman 07 Batang, Rasokha, mengatakan penggalangan dana tersebut awalnya merupakan kegiatan spontan yang muncul setelah rapat dewan guru dan tenaga kependidikan.
Pihak sekolah kemudian mengajak para siswa ikut berbagi dengan korban gempa di NTT.
Menurut Rasokha, kegiatan tersebut bukan hanya soal mengumpulkan uang. Sekolah ingin mengajarkan kepada anak-anak bahwa kepedulian terhadap sesama bisa dimulai dari hal sederhana, termasuk menyisihkan uang jajan.
“Aksi spontan ini sebagai bentuk kepedulian kami kepada saudara-saudara yang terkena musibah gempa di Nusa Tenggara Timur. Sekaligus memberikan pendidikan kepada murid tentang kepedulian kemanusiaan kepada sesama,” terang Rasokha.
Sebelum kegiatan digelar, sekolah telah memberitahukan rencana tersebut kepada orang tua siswa, komite sekolah dan Koordinator Wilayah Pendidikan. Mereka pun mendukung aksi sosial tersebut.
Setelah seluruh uang terkumpul, pihak sekolah akan menghitung total donasi sebelum menyerahkannya melalui Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Batang.
Sejumlah siswa dan guru juga akan ikut mengantarkan bantuan tersebut ke PMI Batang pada hari yang sama.
Bagi Salwa dan teman-temannya, mungkin uang yang diberikan tidak seberapa. Namun, tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit itu kini berubah menjadi bentuk kepedulian untuk anak-anak dan warga NTT yang sedang menghadapi bencana.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













