Ahli Forensik Polda Jateng: Video Kasus Gacon Asli, Tapi Tak Bisa Jadi Dasar Menyimpulkan Terjadi Penculikan

- Jurnalis

Kamis, 25 Juni 2026 - 06:48 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sidang lanjutan kasus Gacon alias Purwanto di PN Pekalongan menghadirkan dua saksi ahli yang diperdengarkan melalui zoom, Rabu (24/6/26).

Sidang lanjutan kasus Gacon alias Purwanto di PN Pekalongan menghadirkan dua saksi ahli yang diperdengarkan melalui zoom, Rabu (24/6/26).

PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Sidang lanjutan kasus dugaan penculikan dan kekerasan terhadap Purwanto alias Gacon mengungkap sejumlah fakta penting terkait barang bukti digital yang diajukan dalam perkara tersebut. Ahli digital forensik dari Bidang Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Tengah, Buyung Gede Fajar, menyatakan video yang menjadi barang bukti terbukti asli dan tidak mengalami manipulasi, namun tidak dapat dijadikan dasar tunggal untuk menyimpulkan telah terjadi tindak pidana penculikan.

Keterangan itu disampaikan Buyung saat memberikan kesaksian secara daring dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Ardhianti Prihastuti didampingi hakim anggota Veni Wahyu Mustika Rini dan Rino Ardian Wigunadi di Pengadilan Negeri Pekalongan.

Menurut Buyung, pemeriksaan laboratorium forensik terhadap video yang tersimpan dalam flashdisk barang bukti tidak menemukan adanya penambahan, pengurangan maupun penyisipan gambar yang menunjukkan rekayasa digital.

“Terhadap file video tersebut tidak ada indikasi penambahan, pengurangan maupun penyisipan gambar. Jadi video yang kami periksa tidak ditemukan adanya manipulasi,” ujar Buyung menjawab pertanyaan penasihat hukum terdakwa melalui zoom, Rabu (25/6/2026).

Baca Juga :  Investor Korea Selatan Laporkan Dugaan Kasus Perizinan ke Kejari Pekalongan, Mantan Kepala DPMPTSP Ikut Terseret

Meski demikian, ia menegaskan ruang lingkup keahlian digital forensik hanya sebatas memastikan keaslian barang bukti elektronik dan menganalisis konten secara teknis. Ahli tidak memiliki kewenangan menyimpulkan apakah peristiwa yang terekam dalam video merupakan tindak pidana.

“Terhadap suatu file video yang menggambarkan suatu peristiwa, kami tidak dapat melakukan penarikan kesimpulan apakah peristiwa tersebut merupakan tindak pidana atau bukan. Itu bukan kompetensi kami,” tegasnya.

Selain video, ahli juga membeberkan temuan lain dari flashdisk yang diperiksa. Di dalam media penyimpanan tersebut ditemukan satu file video serta dua file gambar berupa tangkapan layar percakapan WhatsApp dan profil kontak bernama ‘Imam DPR’.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium, diketahui tangkapan layar tersebut dibuat pada 17 September 2025. Namun isi percakapannya merujuk pada komunikasi yang terjadi pada 25 November 2024, bertepatan dengan waktu kejadian yang menjadi pokok perkara.

“Percakapan WhatsApp-nya terjadi tanggal 25 November 2024, sedangkan screenshot atau tangkapan layarnya dibuat pada 17 September 2025,” jelas Buyung.

Baca Juga :  JPU Tuntut Duwel 1 Tahun Penjara di Kasus Gacon, Nilai Unsur Perampasan Kemerdekaan Terbukti

Meski menemukan data tersebut, ahli mengaku tidak mengetahui identitas pemilik akun maupun keterkaitannya dengan perkara yang sedang disidangkan. Namun berdasarkan hasil analisis digital forensik, video yang muncul dalam percakapan WhatsApp tersebut dinilai serupa dengan video yang juga tersimpan di dalam flashdisk barang bukti.

Dalam kesaksiannya, Buyung juga mengungkap bahwa pemeriksaan terhadap dua telepon genggam milik saksi yang disita penyidik tidak menemukan informasi yang sesuai dengan tujuan pemeriksaan penyidik. Setelah dilakukan ekstraksi dan analisis data, tidak ditemukan chat, foto maupun video yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana yang sedang ditangani.

Perkara ini menjerat Dwi Hendratno alias Duwel yang didakwa terlibat dalam dugaan penculikan dan kekerasan terhadap Purwanto alias Gacon, seorang pedagang martabak yang sempat menjadi sorotan dalam dinamika politik Pilkada Kabupaten Pekalongan 2024.

Usai mendengarkan keterangan ahli digital forensik, persidangan dilanjutkan dengan agenda pembuktian dari pihak terdakwa yang berencana menghadirkan saksi-saksi meringankan pada sidang berikutnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perumdam Tirta Kajen Wacanakan Sistem Genap Ganjil untuk Atasi Krisis Debit Air
PDAM Pekalongan Atasi Gangguan Air Valve di Lima Titik, Debit Air ke Pelanggan Meningkat
Dindik Pekalongan Sebut Lima Anak Terlibat Dugaan Perundungan SDN Langkap 2 Diminta Tanggung Biaya Pengobatan Korban
Siswa SD di Pekalongan Diduga Alami Perundungan, Keluarga Ungkap Kondisi Anak Memburuk
Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih
Bantuan Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Kabupaten Pekalongan Tembus Jutaan Liter
Tiap Tahun Kekeringan, Warga Kesesi Lega Dibantu 18 Ribu Liter Air Bersih
Donasi Gempa NTT dari Pekalongan Tembus Rp127 Juta, Rp60 Juta Sudah Disalurkan

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Perumdam Tirta Kajen Wacanakan Sistem Genap Ganjil untuk Atasi Krisis Debit Air

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:03 WIB

PDAM Pekalongan Atasi Gangguan Air Valve di Lima Titik, Debit Air ke Pelanggan Meningkat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:12 WIB

Dindik Pekalongan Sebut Lima Anak Terlibat Dugaan Perundungan SDN Langkap 2 Diminta Tanggung Biaya Pengobatan Korban

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:08 WIB

Siswa SD di Pekalongan Diduga Alami Perundungan, Keluarga Ungkap Kondisi Anak Memburuk

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:55 WIB

Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih

Berita Terbaru