BATANG, KANALPLUS.ID — Kinerja investasi Kabupaten Batang pada triwulan I tahun 2026 menunjukkan lonjakan signifikan. Berdasarkan data resmi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi di daerah ini mencapai Rp3,88 triliun dan menempatkan Batang sebagai peringkat pertama di Jawa Tengah.
Angka tersebut menjadi sinyal kuat pergeseran posisi Batang sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Pantura Jawa. Dari total nilai investasi Rp3.882.105.000.000, komposisi terbesar masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp3,67 triliun, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat Rp202,6 miliar.
Dominasi PMA menunjukkan tingginya kepercayaan investor global terhadap potensi industri di Batang, terutama pada sektor manufaktur dan pengolahan yang terintegrasi dengan kawasan industri strategis.
Ahli Madya Penata Kelola Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Batang, Sri Cahyaningrum, menilai capaian ini baru tahap awal dari potensi investasi yang jauh lebih besar.
Menurutnya, keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang dan Batang Industrial Park (BIP) menjadi faktor kunci yang mendorong arus modal masuk. Kedua kawasan tersebut dirancang sebagai pusat industri terpadu yang mampu menyerap investasi dalam skala besar.
“Kita memiliki potensi investasi hingga Rp18 triliun. Jika ini terealisasi, dampaknya akan sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk penyerapan tenaga kerja dan peningkatan daya saing industri,” ujar Sri Cahyaningrum, Rabu (29/4/2026).
Secara struktural, lonjakan investasi ini juga tidak lepas dari kebijakan pemerintah daerah dalam menciptakan iklim usaha yang lebih kompetitif. Penyederhanaan perizinan, percepatan layanan, serta kepastian hukum menjadi faktor penting yang mendorong investor untuk masuk dan merealisasikan proyeknya.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Batang masih menghadapi tantangan dalam mengonversi potensi investasi menjadi realisasi konkret. Untuk itu, DPMPTSP terus melakukan pendekatan aktif kepada para investor melalui koordinasi lintas sektor, percepatan pembangunan infrastruktur pendukung, serta penguatan regulasi.
Salah satu langkah strategis yang tengah disiapkan adalah penyusunan peraturan bupati terkait insentif dan kemudahan investasi sebagai turunan dari Perda Nomor 1 Tahun 2025.
“Regulasi ini diharapkan mampu meningkatkan daya tarik Batang dibandingkan daerah lain di Jawa Tengah maupun nasional,” katanya.
Dengan capaian Rp3,88 triliun dalam tiga bulan pertama, Batang telah merealisasikan lebih dari separuh target tahunan yang ditetapkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) sebesar Rp7 triliun.
Tren ini membuat pemerintah daerah optimistis target investasi 2026 tidak hanya tercapai, tetapi berpotensi terlampaui, seiring semakin kuatnya posisi Batang sebagai salah satu episentrum investasi industri baru di Indonesia.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









