KANAL PEKALONGAN – Berjualan sosis sudah dijalani Gita Firmansyah (30) sudah lebih dari lima tahun. Bersama adiknya, Ikbal Rehan (21), warga Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga ini berkeliling dari satu keramaian ke keramaian lain di berbagai daerah Jawa Tengah.
Modal mereka sederhana. Satu boks plastik berisi sosis diikat di bagian belakang motor. Ketika tiba di lokasi keramaian, keduanya kemudian berkeliling mengasongkan dagangan.
Sosis tersebut bisa dibakar maupun digoreng, kemudian disajikan dengan beragam pilihan topping, bumbu dan saus sesuai pesanan pembeli.
Dalam satu boks plastik yang dibawa, jika seluruh sosis habis terjual, omzet yang diperoleh bisa mencapai sekitar Rp700 ribu. Namun, angka tersebut bukan keuntungan bersih.
Dari omzet itu masih harus dikurangi modal membeli bahan dagangan, bahan bakar minyak (BBM), makan dan minum selama perjalanan, serta kebutuhan darurat lainnya.
Maklum, wilayah jelajah Gita dan Ikbal tidak hanya di sekitar Purbalingga. Keduanya biasa berburu keramaian mulai dari Cirebon, Pati hingga Yogyakarta.
Informasi mengenai lokasi keramaian mereka dapatkan dari grup WhatsApp bernama Pedagang Bolang. Di grup tersebut, para pedagang saling berbagi informasi mengenai berbagai acara yang berpotensi mendatangkan banyak pembeli.
Mulai dari pengajian akbar, karnaval hingga berbagai event dengan jumlah penonton besar menjadi sasaran mereka.
Begitu mendapat informasi, motor pun melaju dari Purbalingga menuju daerah tujuan. Dalam sekali perjalanan, Gita dan Ikbal bisa berjualan selama sekitar 10 hari sebelum kembali ke kampung halaman.
Pola berjualan seperti itu menuntut stamina sekaligus mental yang kuat. Mereka harus menempuh perjalanan antarkota, mencari lokasi ramai, berkeliling menawarkan dagangan dan kemudian berpindah lagi ketika ada keramaian lain yang dianggap potensial.
Bagi Gita, pekerjaan tersebut juga menjadi cara untuk menghidupi keluarganya. Dia telah menikah dan memiliki seorang anak yang masih kecil. Sementara Ikbal memilih mengikuti jejak sang kakak setelah menyelesaikan sekolah.
Namun, perjalanan Ikbal sebagai pedagang sosis justru langsung diwarnai pengalaman pahit ketika pertama kali mengikuti sang kakak berjualan di Pekalongan.
Ikbal menjadi salah satu korban kekerasan oleh sekelompok pemuda dalam acara Simbangkulon Night Carnival (SKNC).
“Baru sekali berjualan di Pekalongan mengikuti kakak, namun sudah mendapatkan musibah,” ungkap Ikbal.
Peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang jauh berbeda dari perjalanan mereka selama berkeliling mencari rezeki di berbagai daerah.
Meski harus menghadapi kejadian tersebut, kisah Gita dan Ikbal memperlihatkan sisi lain para pedagang keliling yang rela meninggalkan kampung halaman selama berhari-hari demi mengejar keramaian dan pembeli.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













