KANAL PEKALONGAN – Keberadaan macan tutul Jawa di kawasan hutan Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, yang selama ini lebih banyak diketahui dari jejak dan kotorannya, akhirnya terekam kamera.
Bukan hanya satu, kamera jebak yang dipasang di kawasan hutan tersebut merekam dua ekor macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) dengan dua variasi warna berbeda. Satu merupakan macan tutul melanistik atau yang dikenal masyarakat sebagai macan kumbang, sedangkan satu lainnya memiliki pola totol khas macan tutul Jawa.
Rekaman berdurasi sekitar 25 detik itu memperlihatkan kedua satwa melintas di jalur yang sama. Macan kumbang terlihat lebih dulu berjalan perlahan dari arah kanan kamera.
Tubuhnya yang didominasi warna hitam menyusuri serasah daun kering sebelum berhenti sejenak di sekitar semak di tepi jalur.
Beberapa detik kemudian, macan tutul berpola totol muncul dari arah depan. Satwa tersebut berjalan mendekati kamera, sempat menghadap ke arahnya, kemudian kembali melanjutkan perjalanan masuk ke dalam hutan.
Koordinator Paguyuban Petani Muda (PPM) Desa Mendolo, Cashudi, mengatakan kamera dipasang sebagai bagian dari kegiatan rutin pemantauan keanekaragaman hayati di kawasan Hutan Desa Mendolo.
Pemasangan kamera dilakukan sekitar Juli 2026 dan diambil sekitar sebulan kemudian. Dari hasil rekaman itulah keberadaan macan tutul di kawasan tersebut bisa dipastikan secara visual.
“Ya kebetulan yang kita dapati itu macan, yaitu jenis macan tutul. Sebelumnya kita mendapat laporan adanya jejak,” kata Cashudi, Rabu (2/9/2026).
Menurut dia, sebelum kamera dipasang, warga dan anggota PPM beberapa kali menemukan jejak maupun kotoran yang diduga milik macan. Petani yang biasa mencari madu liar di kawasan hutan juga menjadi salah satu pihak yang kerap menemukan tanda-tanda keberadaan satwa tersebut.
Namun, temuan tersebut belum bisa memastikan jenis satwa yang meninggalkan jejak atau kotoran tersebut.
“Setelah kemarin kita dapati adanya rekaman macan itu, sudah dipastikan jejak itu adalah macan,” ujarnya.
Cashudi mengatakan pemasangan kamera jebak dilakukan secara rutin, bahkan bisa hampir setiap bulan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kelompoknya memantau dan menjaga keanekaragaman hayati di kawasan hutan Mendolo.
Lokasi kamera berada cukup jauh dari permukiman warga. Kepala Desa Mendolo, Kaliri, menyebut titik rekaman berjarak sekitar 10 kilometer dari permukiman.
“Kalau titik rekamannya kurang lebih ada sekitar 10 kilometer dari pemukiman warga. Lumayan jauh,” jelas Kaliri.
Lokasi tersebut berada di kawasan hutan Perhutani dan bukan lahan pertanian milik masyarakat.
Kaliri mengatakan keberadaan macan tutul di kawasan hutan Mendolo sebenarnya bukan hal baru bagi warga. Selama ini tanda-tanda keberadaannya kerap ditemukan, tetapi belum pernah ada dokumentasi kamera yang menunjukkan satwa tersebut secara langsung.
“Sebenarnya sering muncul, tapi tidak ketahuan. Karena sebelumnya tidak pernah dipasang kamera, jadi tidak ada yang tahu pasti, hanya jejak dan kotoran macan saja,” ungkapnya.
Ia menyebut warga tidak merasa panik dengan keberadaan macan tutul karena lokasi habitatnya cukup jauh dari permukiman. Menurutnya, keberadaan predator tersebut justru menjadi bagian dari ekosistem hutan yang perlu dijaga.
Selain macan tutul, kawasan hutan Mendolo juga masih menjadi habitat sejumlah satwa lain. Salah satunya owa Jawa yang keberadaannya masih dapat dikenali dari suara yang terdengar dari dalam hutan.
“Kalau di sini yang diutamakan itu owa. Suara owa berarti jenis owa seperti itu masih ada. Itu kan sudah langka juga, tapi di Hutan Mendolo masih ada,” beber Kaliri.
Camat Lebakbarang Sri Handayani mengatakan lokasi rekaman berada di Blok Silempong, Dukuh Sawahan, Desa Mendolo. Menurut dia, kondisi ekosistem di kawasan tersebut masih cukup terjaga karena adanya gerakan masyarakat, terutama para pemuda dan petani muda.
“Kalau wilayah lingkungan Desa Mendolo itu masih terjaga hutannya. Ekosistemnya juga masih bagus karena diteruskan oleh PPM setempat,” sebutnya.
Sementara itu, Asper BKPH Karanganyar sekaligus petugas Polisi Hutan (Polhut), Purwo Karyo Utomo, menyebut lokasi tersebut merupakan kawasan hutan lindung, tepatnya di petak 27 RPH Lebakbarang.
Ia mengatakan kawasan tersebut menjadi habitat berbagai satwa liar yang dilindungi sehingga pengamanan hutan dan pencegahan perburuan terus dilakukan.
Setelah muncul rekaman dua macan tutul tersebut, petugas juga akan memperketat pengawasan kawasan untuk mencegah aktivitas perburuan.
“Kami lakukan sterilisasi, biar kawasan ini tidak terkontaminasi, tidak banyak interaksi dari masyarakat luar, khususnya pemburu yang berkepentingan untuk melakukan perburuan hewan-hewan liar,” papar Purwo.
Bagi warga Mendolo, rekaman tersebut menjadi bukti penting bahwa hutan di wilayah mereka masih menyimpan keanekaragaman hayati. Pemantauan melalui kamera jebak pun akan terus dilakukan untuk mengetahui satwa apa saja yang masih hidup di kawasan tersebut.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












