KANAL TEKNOLOGI – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah berbagai sektor pekerjaan. Aktivitas yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit, mulai dari menulis, menerjemahkan, membuat desain, mengolah data, hingga memproduksi video.
Namun, tidak semua pekerjaan membutuhkan bantuan AI. Ada sejumlah profesi yang sejak awal hingga akhir prosesnya dapat dikerjakan manusia secara mandiri tanpa kecerdasan buatan. Hasilnya tetap efektif, bahkan dalam beberapa kasus justru lebih baik karena mengandalkan keterampilan, pengalaman dan interaksi langsung.
Menangkap ikan menggunakan jaring, pancing, dan perahu sederhana merupakan pekerjaan yang mengandalkan keterampilan fisik serta pengalaman membaca kondisi laut.
Nelayan memahami arah angin, gelombang, arus, pasang surut, hingga kebiasaan ikan berdasarkan pengalaman. AI dapat membantu memperkirakan lokasi penangkapan ikan, tetapi nelayan tetap bisa bekerja secara efektif tanpa teknologi tersebut.
4. Tukang cukur
Memotong rambut merupakan pekerjaan yang sepenuhnya bisa dilakukan manusia tanpa bantuan AI. Tukang cukur mengandalkan keterampilan tangan, ketelitian, dan kemampuan memahami keinginan pelanggan.
Interaksi personal juga menjadi nilai tambah. Pelanggan tidak hanya mencari hasil potongan rambut, tetapi terkadang juga kenyamanan dan kepercayaan terhadap tukang cukur langganannya.
Perangkat pijat otomatis memang sudah tersedia, tetapi belum tentu mampu menyesuaikan perlakuan dengan kebutuhan setiap orang. Pekerjaan ini tetap dapat dilakukan sepenuhnya oleh manusia tanpa bantuan AI.
8. Penjahit
Mengukur tubuh, membuat pola, memotong kain, menjahit, hingga memperbaiki pakaian merupakan rangkaian pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa kecerdasan buatan.
AI dapat membantu membuat desain dan pola digital, tetapi penjahit tetap mampu menghasilkan pakaian berkualitas dengan keterampilan dan peralatan konvensional.
World Economic Forum (WEF) dalam laporan Future of Jobs Report 2025 memperkirakan sekitar 92 juta pekerjaan akan tergeser secara global hingga 2030. Namun, pada periode yang sama diperkirakan muncul 170 juta pekerjaan baru. Dengan demikian, terdapat potensi penambahan bersih sekitar 78 juta pekerjaan. Pergeseran tersebut juga dipengaruhi faktor ekonomi, demografi, dan perubahan teknologi lainnya, bukan hanya AI.
Data tersebut menunjukkan bahwa dampak AI terhadap pekerjaan memang semakin besar. Namun, penting membedakan pekerjaan yang terpapar AI, pekerjaan yang berpotensi diotomatisasi, dan pekerjaan yang benar-benar sudah hilang.
Meski demikian, tidak berarti seluruh pekerjaan manual kebal terhadap otomatisasi. Robotika terus berkembang dan berpotensi mengambil alih sebagian pekerjaan fisik, terutama yang berulang dan memiliki pola kerja standar.
Pada akhirnya, tidak semua pekerjaan harus menggunakan AI agar tetap produktif. Petani tetap bisa menghasilkan panen, nelayan bisa menangkap ikan, penjahit bisa membuat pakaian, dan perajin bisa menghasilkan karya tanpa kecerdasan buatan.
Teknologi yang mampu melakukan suatu pekerjaan belum tentu harus digunakan untuk menggantikan manusia. Sebab, dalam banyak profesi, keterampilan, pengalaman, sentuhan personal, dan biaya produksi tetap menjadi alasan mengapa manusia masih menjadi pilihan yang lebih efektif.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












