KOTA PEKALONGAN – Kontingen Kota Pekalongan belum berhasil memperbaiki posisi dalam persaingan olahraga tingkat Jawa Tengah. Pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026 di Semarang Raya, Kota Pekalongan harus puas menempati peringkat ke-21 dari 35 kabupaten/kota.
Meski demikian, ada sejumlah catatan menarik dari perolehan 37 medali yang dibawa pulang kontingen Kota Pekalongan. Tidak hanya mengandalkan cabang olahraga unggulan, sejumlah cabang yang sebelumnya belum banyak diperhitungkan justru ikut menyumbangkan medali.
Dari total 37 medali tersebut, Kota Pekalongan mengoleksi 14 emas, 11 perak, dan 12 perunggu. Jumlah emas itu sama dengan capaian pada Porprov sebelumnya, meskipun target yang ditetapkan kali ini belum sepenuhnya tercapai.
Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid mengakui persaingan antardaerah semakin ketat. Menurut dia, kekuatan olahraga di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah kini semakin merata sehingga persaingan untuk memperebutkan medali juga semakin sulit.
“Memang capaian ini sepertinya belum sesuai target, tetapi jumlah medali emas kita masih sama dengan tahun sebelumnya, yakni 14 emas. Ada beberapa faktor yang perlu menjadi perhatian, termasuk persaingan antarkota dan kabupaten di Jawa Tengah yang semakin merata,” ujarnya, Kamis (5/11/2026).
Di tengah belum tercapainya target, munculnya sejumlah cabang olahraga sebagai penyumbang medali menjadi salah satu sisi positif yang patut dicermati.
Kickboxing dan esports, misalnya, berhasil menyumbangkan medali perak. Sementara itu, Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI) tampil menonjol dengan menyumbangkan tiga medali emas.
Bagi Pemerintah Kota Pekalongan, hasil tersebut menunjukkan bahwa potensi prestasi tidak hanya berada pada cabang olahraga yang selama ini menjadi andalan. Pembinaan terhadap cabang olahraga lain juga berpeluang menghasilkan atlet berprestasi jika mendapat dukungan dan persiapan yang memadai.
Afzan menilai, faktor usia juga menjadi modal penting. Sejumlah atlet yang tampil dalam Porprov 2026 masih tergolong muda sehingga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan pengalaman sebelum menghadapi kompetisi berikutnya.
“Banyak pemain kita yang masih berusia muda. Mudah-mudahan pada Porprov mendatang mereka sudah berada di usia matang, dengan persiapan yang lebih baik sejak sekarang,” katanya.
Namun, capaian kali ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan pengurus olahraga. Mempertahankan jumlah emas tanpa memperbaiki peringkat menunjukkan perlunya evaluasi lebih jauh, mulai dari pemetaan cabang olahraga potensial, kualitas pelatihan, hingga kesiapan atlet menghadapi persaingan.
Afzan mengatakan, evaluasi akan dilakukan bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Dinparbudpora). Pembahasan akan mencakup strategi pembinaan, pemetaan potensi atlet, serta peningkatan sarana dan prasarana olahraga.
Selain evaluasi pembinaan, pemerintah kota juga memastikan atlet peraih medali akan mendapatkan bonus pada tahun ini. Skema pemberian bonus masih dimatangkan bersama KONI dan dinas terkait dengan mempertimbangkan prestasi atlet, baik dalam nomor perorangan maupun beregu.
Afzan berharap, hasil Porprov 2026 tidak sekadar menjadi catatan perolehan medali, tetapi juga menjadi bahan untuk membangun pembinaan olahraga yang lebih baik.
Dengan munculnya cabang olahraga penyumbang medali baru dan masih banyaknya atlet berusia muda, Kota Pekalongan memiliki peluang untuk memperbaiki prestasi. Tantangannya adalah memastikan potensi tersebut berkembang melalui persiapan yang lebih serius, bukan sekadar mengandalkan semangat saat pertandingan berlangsung.
Penulis : Achmad Udi
Editor : MAD












