BI Tegal Luncurkan Sekolah Lapang Iklim Kopi di Pekalongan, Dorong Ekspor dan Kualitas Petani

- Jurnalis

Rabu, 29 April 2026 - 17:08 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Bimala resmi meluncurkan program Sekolah Lapang Iklim (SLI) Kopi di Kabupaten Pekalongan, Rabu (29/4/26).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Bimala resmi meluncurkan program Sekolah Lapang Iklim (SLI) Kopi di Kabupaten Pekalongan, Rabu (29/4/26).

PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal resmi meluncurkan program Sekolah Lapang Iklim (SLI) Kopi di Kabupaten Pekalongan. Program ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas kopi sekaligus memperkuat daya saing ekspor di tengah tantangan perubahan iklim.

Kepala Perwakilan BI Tegal, Bimala, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengembangan komoditas kopi merupakan bagian dari kontribusi Bank Indonesia dalam mendorong ekonomi daerah, khususnya sektor UMKM berbasis komoditas unggulan.

Kopi memiliki potensi besar tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga dalam mendukung ekspor dan perolehan devisa negara yang berkontribusi pada stabilitas ekonomi nasional,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan, BI secara konsisten mendorong penguatan sektor kopi melalui berbagai program, mulai dari peningkatan kapasitas produksi, penguatan kelembagaan petani, hingga fasilitasi akses pasar domestik dan internasional.

Salah satu mitra binaan BI Tegal, KUB Lumbung Kopi Nusantara, telah mendapatkan berbagai pelatihan sejak 2024, termasuk pelatihan pascapanen, kurasi mutu green bean, hingga partisipasi dalam festival kopi dan program ekspor. Hasilnya, pada Maret 2026, BI memfasilitasi ekspor kopi robusta asal Pekalongan sebanyak 19,8 ton ke Yunani. Sebelumnya, pada November 2025, ekspor telah mencapai 59,4 ton.

Baca Juga :  BI Tegal Masukkan Materi Cinta Rupiah ke SD-SMP, Edukasi Ekonomi Dimulai Sejak Bangku Sekolah

Namun demikian, Bimala mengakui masih terdapat tantangan besar dalam memenuhi permintaan pasar global.

“Permintaan buyer mencapai 30 kontainer, tetapi baru terpenuhi empat kontainer. Ini karena standar kualitas dan persyaratan teknis belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh petani,” jelasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Sekolah Lapang Iklim Kopi diinisiasi sebagai solusi terintegrasi. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas petani dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus memenuhi standar mutu ekspor, khususnya untuk pasar Eropa.

Selain peluang ekspor, permintaan domestik juga cukup besar. Salah satunya dari Pondok Pesantren Sidogiri yang membutuhkan hingga 250.000 sachet kopi olahan per bulan.

Menurut Bimala, perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan produksi kopi. Kenaikan suhu, pola curah hujan yang tidak menentu, serta meningkatnya frekuensi bencana alam berdampak pada penurunan hasil panen dan kualitas biji kopi.

Baca Juga :  Hampir 30 Tahun Jualan Laptop, ELS.ID Perluas Jaringan ke Pekalongan

“Paparan sinar matahari yang berlebih dapat menurunkan cita rasa kopi. Ini menjadi tantangan yang harus diatasi melalui peningkatan pengetahuan dan teknik budidaya yang adaptif,” katanya.

Program SLI Kopi akan dilaksanakan secara bertahap dengan lima sesi pelatihan, mulai dari literasi iklim dasar oleh BMKG, teknik budidaya di kebun, pengolahan pascapanen, akses pembiayaan dan asuransi, hingga standar mutu ekspor dan peluang pasar global.

Kegiatan ini juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, hingga lembaga keuangan, sebagai bentuk sinergi dalam membangun ekosistem kopi yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Bimala berharap, Sekolah Lapang Iklim Kopi dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para petani dan pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas produk serta nilai tambah usaha.

“Ini bukan hanya soal peningkatan produksi, tetapi juga membuka peluang kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat ketahanan ekonomi daerah,” tandasnya.

 

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mie Ayam Ada di Mana-mana, Berapa Banyak Penjualnya di Indonesia?
Ada Berapa Banyak Penjual Bakso di Indonesia? Angkanya Ternyata Mengejutkan
Negara dengan Orang Terkaya Terbanyak di Dunia, dari Jutawan hingga 500 Orang Terkaya
NVIDIA Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Dunia, tapi Tidak Secara Pendapatan
Hampir 30 Tahun Jualan Laptop, ELS.ID Perluas Jaringan ke Pekalongan
QRIS Makin Menjamur, Eks Karesidenan Pekalongan Catat 723 Ribu Merchant hingga Mei 2026
Brebes Jadi Andalan Pasokan Bawang Merah, BI Tegal Gandeng Riau
Investasi di Eks Karesidenan Pekalongan Serap Hampir 19 Ribu Tenaga Kerja

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 06:10 WIB

Mie Ayam Ada di Mana-mana, Berapa Banyak Penjualnya di Indonesia?

Selasa, 1 September 2026 - 06:10 WIB

Ada Berapa Banyak Penjual Bakso di Indonesia? Angkanya Ternyata Mengejutkan

Minggu, 30 Agustus 2026 - 06:50 WIB

Negara dengan Orang Terkaya Terbanyak di Dunia, dari Jutawan hingga 500 Orang Terkaya

Senin, 24 Agustus 2026 - 06:26 WIB

NVIDIA Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Dunia, tapi Tidak Secara Pendapatan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 07:10 WIB

Hampir 30 Tahun Jualan Laptop, ELS.ID Perluas Jaringan ke Pekalongan

Berita Terbaru

Kapolsek Buaran AKP Sunarto masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan meminta para pelaku pengeroyokan agar koperatif menyerahkan diri, Jumat (11/9/26).

Kriminal

Polisi Kejar Pelaku Pengeroyokan Pedagang Sosis di Pekalongan

Jumat, 11 Sep 2026 - 19:53 WIB