KANAL WONOSOBO – PLTA Garung Unit 2 berhasil menjalani pengujian black start, kemampuan pembangkit untuk menyala kembali tanpa mendapat pasokan listrik dari jaringan luar.
Kemampuan ini menjadi penting ketika terjadi gangguan besar yang membuat sebagian sistem kelistrikan kehilangan pasokan. Dalam kondisi tersebut, pembangkit yang memiliki kemampuan black start dapat menjadi salah satu titik awal untuk membantu menghidupkan kembali jaringan secara bertahap.
Pengujian dilakukan PLN Indonesia Power UBP Mrica bersama PLN UP2B Jawa Tengah dan DIY serta PLN UPT Purwokerto. Selain black start, pengujian juga mencakup house load dan line charging dari PLTA Garung Unit 2 menuju Gardu Induk (GI) Dieng.
Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Mrica, Wasis Jati Waskitho, mengatakan keberhasilan pengujian menjadi indikator kesiapan PLTA Garung Unit 2 menghadapi kondisi sistem yang tidak normal.
“Keberhasilan pengujian ini memastikan PLTA Garung Unit 2 siap mendukung sistem dalam berbagai kondisi, termasuk saat dibutuhkan kemampuan islanding, black start, hingga line charging,” ujar Wasis, Sabtu (5/9/26).
Ia menjelaskan, kemampuan tersebut bukan sekadar pengujian rutin pembangkit. Black Start memiliki peran dalam system recovery, terutama ketika gangguan besar menyebabkan pembangkit atau bagian jaringan kehilangan pasokan listrik.
Dengan kemampuan itu, pembangkit dapat dioperasikan kembali tanpa terlebih dahulu menunggu listrik dari jaringan eksternal. Setelah pembangkit berhasil hidup, pasokan dapat digunakan untuk membantu proses pemulihan jaringan secara bertahap.
“Ini merupakan bentuk kesiapan kami untuk menjaga keandalan sistem dan memberikan layanan terbaik bagi pelanggan,” katanya.
Pengujian diawali dengan house load, yakni memastikan unit tetap mampu mempertahankan operasionalnya secara mandiri ketika terpisah dari jaringan atau berada dalam kondisi islanding.
Tahap berikutnya adalah Black Start. Pada kondisi ini, unit diuji untuk melakukan penyalaan kembali tanpa pasokan listrik dari jaringan eksternal.
Pengujian kemudian dilanjutkan dengan line charging menuju GI Dieng. Tahapan tersebut menguji kesiapan pembangkit dalam memberikan tegangan ke jaringan sebagai bagian dari proses pemulihan sistem.
Keberhasilan rangkaian pengujian ini sekaligus memperkuat posisi PLTA Garung sebagai salah satu pembangkit yang tidak hanya berfungsi memasok listrik dalam kondisi normal, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mendukung pemulihan sistem ketika terjadi gangguan besar.
PLTA Garung sendiri merupakan pembangkit berbasis energi terbarukan yang memanfaatkan tenaga air dengan kapasitas 26,4 megawatt (MW).
Di tengah pengembangan energi bersih, kesiapan pembangkit menghadapi kondisi darurat menjadi persoalan yang tidak kalah penting. Pembangkit EBT tidak hanya dituntut menghasilkan listrik, tetapi juga harus mampu mendukung sistem yang semakin membutuhkan fleksibilitas dan keandalan.
PLN Indonesia Power UBP Mrica menilai kemampuan black start dan pemanfaatan tenaga air dapat berjalan beriringan dalam memperkuat ketahanan sistem kelistrikan. Penggunaan energi air juga mendukung upaya mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil dan mengejar target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Dengan lolosnya pengujian tersebut, PLTA Garung Unit 2 kini memiliki kesiapan yang lebih kuat untuk mengambil peran ketika sistem kelistrikan membutuhkan proses pemulihan dari kondisi gangguan besar.
Penulis : Pujud Andriastanto
Editor : Achmad Udin












