Pertumbuhan Ekonomi Jateng Masih Solid, Tapi Daya Beli Mulai Jadi Alarm

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:11 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kepala BI Jateng Mohamad Noor Nugroho mengingatkan daya beli masyarakat di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi Jateng dari 5,89 persen ke 5,71 persen saat memberikan paparan di Kota Pekalongan, Kamis (13/8/26).

Kepala BI Jateng Mohamad Noor Nugroho mengingatkan daya beli masyarakat di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi Jateng dari 5,89 persen ke 5,71 persen saat memberikan paparan di Kota Pekalongan, Kamis (13/8/26).

KANAL KOTA – Perekonomian Jawa Tengah masih menunjukkan kinerja positif pada triwulan II 2026 dengan pertumbuhan mencapai 5,71 persen secara tahunan. Meski angka tersebut sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,89 persen, Bank Indonesia (BI) menilai pertumbuhan ekonomi Jateng masih berada dalam kondisi cukup solid.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho mengatakan, perlambatan tersebut antara lain merupakan dampak normalisasi setelah tingginya aktivitas ekonomi pada triwulan I yang bertepatan dengan sejumlah momentum hari besar dan periode mudik Lebaran.

Menurut dia, konsumsi rumah tangga yang pada triwulan I tumbuh 5,08 persen kemudian melambat menjadi 4,31 persen pada triwulan II.

“Ini bisa dibilang karena efek normalisasi yang sebelumnya ada hari besar. Jadi sudah kembali normal,” kata Mohamad Noor Nugroho dalam paparannya di Kota Pekalongan, Kamis (13/8/2026).

Baca Juga :  10 Benda Termahal di Dunia, Ada yang Nilainya Tembus Ribuan Triliun Rupiah

Namun demikian, BI melihat ada faktor lain yang perlu mendapat perhatian, yakni kemungkinan mulai tertahannya daya beli masyarakat.

Perlambatan konsumsi tersebut, menurut Nunu, sapaan Mohamad Noor Nugroho, tidak hanya berkaitan dengan berakhirnya momentum hari besar, tetapi juga perlu dicermati dari sisi kemampuan masyarakat dalam melakukan konsumsi.

Kondisi tersebut semakin terlihat dari hasil survei Bank Indonesia mengenai keyakinan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen pada triwulan II menunjukkan sedikit pelemahan.

Meski demikian, indeks tersebut masih berada di atas level 100. Artinya, jumlah masyarakat yang memiliki pandangan optimistis terhadap kondisi ekonomi ke depan masih lebih banyak dibandingkan yang pesimistis.

“Optimismenya masih ada. Memang optimismenya agak sedikit menurun,” ujarnya.

BI menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa konsumsi rumah tangga masih mempunyai ruang untuk tumbuh. Namun, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan tetap perlu mewaspadai perkembangan daya beli masyarakat.

Baca Juga :  Dalam 11 Hari Jawa Tengah Dilanda 16 Kebakaran Lahan, Kebun Tebu Jadi Lokasi Paling Rawan

Selain konsumsi, perlambatan pertumbuhan juga terlihat pada investasi. Investasi yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tumbuh 8,84 persen, turun dari 9,61 persen pada periode sebelumnya.

Perlambatan investasi tersebut kemudian ikut tercermin pada sektor konstruksi yang pertumbuhannya turun dari 8,5 persen menjadi 5,22 persen.

Sementara sektor pertanian juga mengalami kontraksi. Kondisi ini dinilai berkaitan dengan faktor musiman karena periode panen raya telah berlalu.

“Yang perlu kita waspadai adalah karena belum ada income dari panen, otomatis daya belinya mungkin agak sedikit tertahan di petani,” jelasnya.

Karena itu, meskipun pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah masih tergolong solid, BI menilai perkembangan konsumsi dan daya beli masyarakat perlu menjadi perhatian pada periode berikutnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Realisasi Investasi Batang Tembus Rp8,8 Triliun, Lampaui Target Nasional
Ketika Ekonomi Sebuah Kota Melampaui Negara
10 Kota Terkaya di Dunia, Tokyo Teratas, New York Jadi Raja Pendapatan Fiskal
10 Benda Termahal di Dunia, Ada yang Nilainya Tembus Ribuan Triliun Rupiah
Wali Kota Pekalongan Dorong Penyaluran Bantuan Langsung ke Rekening Penerima
BI Tegal Ingatkan UMKM Jangan Asal Tempel QRIS, Cek Berkala agar Uang Tak Salah Masuk
OJK Tegal Soroti Gap Literasi Keuangan, Warga Diminta Waspadai Penipuan Digital
Buruh Serabutan Ditagih Pajak Rp1,7 M, KPP Pekalongan Luruskan Isu Begini Penjelasannya

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:38 WIB

Realisasi Investasi Batang Tembus Rp8,8 Triliun, Lampaui Target Nasional

Jumat, 16 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Ketika Ekonomi Sebuah Kota Melampaui Negara

Rabu, 14 Oktober 2026 - 06:10 WIB

10 Kota Terkaya di Dunia, Tokyo Teratas, New York Jadi Raja Pendapatan Fiskal

Kamis, 17 September 2026 - 06:35 WIB

10 Benda Termahal di Dunia, Ada yang Nilainya Tembus Ribuan Triliun Rupiah

Rabu, 16 September 2026 - 12:12 WIB

Wali Kota Pekalongan Dorong Penyaluran Bantuan Langsung ke Rekening Penerima

Berita Terbaru

Ratusan kelompok atau suku yang mendiami di sudut terpencil di bumi memilih hidup menjauh dari peradaban dan menutup diri dari dunia luar. Foto: Ilustrasi AI

Humaniora

Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban

Minggu, 18 Okt 2026 - 06:10 WIB

Pemandangan menakjubkan kepulauan British Island di Karibia yang menjadi salah satu destinasi wisata termahal di dunia. Foto: Ilustrasi AI

Wisata

10 Destinasi Wisata Termahal di Dunia

Sabtu, 17 Okt 2026 - 06:10 WIB