PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Gerakan Food Bank Pekalongan mulai menunjukkan kekuatan kolektif untuk membantu mengatasi kerawanan pangan di wilayah perkotaan. Dari hasil pendataan terbaru, sedikitnya terdapat 40 dapur yang berpotensi terlibat dalam program tersebut dengan kapasitas distribusi mencapai sekitar 2.000 paket makanan setiap hari.
Penggagas Food Bank Pekalongan, Prof. Dr. Ahmad Subagyo, mengungkapkan potensi tersebut teridentifikasi setelah pertemuan bersama 27 relawan yang mewakili seluruh kelurahan di Kota Pekalongan.
“Hari ini kita mendapatkan data bahwa ada sekitar 40 dapur yang berpotensi terlibat. Kalau satu dapur mampu menyalurkan 50 paket makanan per hari, maka ada sekitar 2.000 paket yang bisa didistribusikan kepada warga yang membutuhkan,” kata Ahmad Subagyo kepada kanalplus.id, Minggu (21/6/2026) petang.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa Kota Pekalongan memiliki modal sosial yang cukup besar untuk menjalankan program food bank secara berkelanjutan. Terlebih, para relawan yang bergabung berasal dari berbagai komunitas kemanusiaan yang selama ini telah aktif membantu masyarakat.
“Yang membuat kami optimistis, relawan yang hadir ini datang bukan untuk mencari pekerjaan, tetapi memang memiliki semangat membantu sesama. Ini menjadi kekuatan utama dari food bank,” ujarnya.
Program Food Bank Pekalongan dirancang untuk menjembatani kelebihan pangan yang masih layak konsumsi agar dapat disalurkan kepada kelompok masyarakat rentan. Sasaran utamanya meliputi pekerja informal, korban rob, lansia, penghuni rumah singgah, hingga orang tua tunggal yang tidak memiliki penghasilan tetap.
Subagyo menjelaskan, selama ini masih terdapat makanan yang tidak tersalurkan secara optimal dari berbagai sumber. Melalui sistem food bank, makanan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
“Ada hak masyarakat yang sebenarnya masih berada di dapur dan belum tersalurkan. Itu yang ingin kita gerakkan bersama agar manfaat program pangan bisa menjangkau lebih banyak warga,” paparnya.
Meski demikian, operasional food bank belum akan berjalan dalam waktu dekat. Dalam dua hingga tiga pekan ke depan, tim masih fokus melakukan konsolidasi dengan pemerintah daerah, pengelola dapur, dan para relawan untuk menyamakan pemahaman mengenai mekanisme distribusi pangan.
Salah satu pekerjaan rumah yang kini sedang disiapkan adalah penyusunan basis data penerima manfaat. Menurut Subagyo, hingga kini pihaknya masih menunggu data dari instansi terkait, namun relawan di tingkat kelurahan akan menjadi ujung tombak pendataan warga yang benar-benar membutuhkan bantuan.
“Kita akan mendapatkan data riil dari lapangan melalui relawan. Mereka yang paling tahu kondisi masyarakat di masing-masing kelurahan,” terangnya.
Para relawan yang hadir diketahui berasal dari seluruh 27 kelurahan di Kota Pekalongan. Sebagian besar merupakan tokoh lokal dan aktivis kemanusiaan yang selama ini terlibat dalam berbagai kegiatan sosial seperti program Jumat Berkah dan pembagian makanan bagi masyarakat kurang mampu.
Subagyo menilai keberadaan jaringan relawan tersebut menjadi aset penting karena mereka telah memiliki pengalaman panjang dalam kegiatan filantropi dan pelayanan masyarakat.
“Akademisi bisa membuat konsep, tetapi yang menjalankan di lapangan adalah para relawan. Kolaborasi ini yang menjadi kekuatan Food Bank Pekalongan,” jelasnya.
Ke depan, Food Bank Pekalongan tidak hanya mengandalkan pasokan pangan dari satu sumber. Selain memanfaatkan potensi dapur yang sudah ada, pengelola juga berencana menggandeng restoran, hotel, dan berbagai sektor lain yang memiliki kelebihan pangan layak konsumsi.
“Kalaupun suatu saat sumber pasokan dari satu program berhenti, food bank tidak akan berhenti. Karena masih banyak sumber pangan lain yang bisa diselamatkan dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” tegas Subagyo.
Program ini dikembangkan melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari komunitas relawan, akademisi, pemerintah daerah hingga lembaga filantropi, dengan harapan mampu menjadi solusi berkelanjutan dalam membantu warga rentan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









