KANAL TEKNOLOGI – Bayangkan sebuah mesin yang dirancang khusus untuk berdebat. Ia bisa mengakses dan merangkum begitu banyak informasi, menyusun argumen, memberikan bantahan, bahkan merespons lawan dalam waktu singkat.
Namun ketika mesin itu berhadapan dengan manusia, hasil akhirnya justru mengejutkan. Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan tersebut kalah.
Peristiwa itu terjadi di San Francisco, Amerika Serikat, pada Februari 2019. IBM mempertemukan Project Debater, kecerdasan buatan yang memang dirancang untuk berdebat dengan manusia, melawan Harish Natarajan, salah satu debater kompetitif paling berprestasi di dunia. Dan Natarajan bukan manusia yang kebetulan bisa berdebat.
Ia merupakan finalis World Debating Championship 2016 dan juara European Debate Championship 2012. IBM bahkan menyebut Natarajan memiliki rekor kemenangan kompetisi debat terbanyak.
Lawan yang dipilih untuk AI itu dengan kata lain adalah salah satu manusia terbaik yang bisa ditemukan untuk menguji kemampuan debat sebuah mesin.
Mesin Punya Data, Manusia Punya Strategi
Topik yang diperdebatkan tampak sederhana, yakni apakah pemerintah seharusnya memberikan subsidi untuk pendidikan prasekolah?
Project Debater mengambil posisi mendukung subsidi. Natarajan mengambil posisi sebaliknya. Keduanya hanya diberi waktu sekitar 15 menit untuk mempersiapkan argumen sebelum debat dimulai.
Debat kemudian berlangsung di hadapan ratusan penonton dan kemenangan ditentukan berdasarkan kemampuan masing-masing pihak mengubah pandangan audiens.
Sebelum debat, posisi Project Debater sebenarnya sangat menguntungkan. Sebanyak 79 persen audiens mendukung subsidi pendidikan prasekolah, sementara hanya 13 persen yang menolak.
Artinya, secara matematis, Natarajan memulai pertandingan dari posisi yang tidak menguntungkan. Tetapi setelah debat selesai, peta dukungan berubah.
Dukungan terhadap subsidi turun menjadi 62 persen, sementara pihak yang menolak naik menjadi 30 persen. Perubahan opini itulah yang membuat Natarajan dinyatakan sebagai pemenang.
Dengan kata lain, Natarajan tidak perlu membuat semua orang berpindah kubu. Ia hanya perlu membuat lebih banyak orang berubah pikiran daripada lawannya. Dan di situlah manusia mengalahkan mesin.
Bukan Karena AI Tidak Pintar
Menariknya, kekalahan Project Debater tidak berarti AI tersebut tampil buruk. Justru sebaliknya. Project Debater mampu menyodorkan berbagai data dan penelitian dengan kecepatan yang sulit ditandingi manusia.
Dalam polling lain setelah debat, mayoritas audiens bahkan menilai Project Debater lebih banyak memperkaya pengetahuan mereka mengenai topik dibandingkan Natarajan. Jadi ada paradoks menarik.
AI lebih banyak memberikan informasi, tetapi manusia lebih berhasil mengubah pikiran orang. Natarajan tidak mencoba memenangkan pertarungan dengan menandingi mesin dalam jumlah data. Ia melakukan sesuatu yang berbeda.
Ia mengambil argumen AI, mencari titik lemahnya, lalu mengubah arah pembicaraan ke persoalan yang menurutnya lebih mendasar, yaitu bagaimana uang pemerintah seharusnya digunakan untuk membantu masyarakat.
Ia bahkan kemudian menjelaskan bahwa salah satu keunggulan manusia adalah kemampuan menggunakan pengalaman dan emosi secara lebih autentik.
Mesin Bisa Membantah, Tapi Belum Tentu Bisa ‘Membaca’ Lawan
Inilah bagian paling menarik dari duel tersebut. Project Debater sangat kuat dalam mengumpulkan informasi, menyusun bukti dan membangun argumen. Tetapi debat bukan sekadar perlombaan siapa yang memiliki data paling banyak.
Debat adalah pertarungan tentang bagaimana manusia lain memandang sebuah persoalan.
Seorang debater harus tahu kapan menyerang, kapan bertahan, kapan mengubah sudut pandang dan kapan meninggalkan argumen yang tidak efektif.
Dan pada pertandingan tersebut, kemampuan semacam itu menjadi keunggulan Natarajan.
IBM sendiri kemudian mengakui bahwa Project Debater belum ‘menang’ dalam pertarungan melawan Natarajan, meskipun demonstrasi tersebut menunjukkan kemajuan besar AI dalam memahami dan menyusun argumen kompleks.
Yang Mengalahkan AI Bukan Sekadar ‘Manusia’
Ada satu detail yang membuat cerita ini semakin menarik. Yang mengalahkan AI adalah seorang manusia yang memang hidupnya dihabiskan untuk berdebat.
Natarajan pada usia 31 tahun telah memenangkan sekitar tiga lusin turnamen debat internasional dan disebut telah diberi tahu bahwa jumlah tersebut merupakan rekor dunia. Ia juga merupakan juara debat Eropa dan finalis kejuaraan debat dunia.
Jadi, kisah ini sebenarnya bukan sekadar AI vs manusia. Lebih tepatnya, AI yang dibangun untuk berdebat vs manusia yang memang merupakan juara debat. Dan untuk sementara, manusia memenangkan ronde tersebut.
Yang lebih menarik lagi, kemenangan Natarajan tidak datang karena ia memiliki lebih banyak informasi daripada mesin. Ia menang karena berhasil membuat manusia lain mengubah pikirannya.
Itulah mungkin salah satu batas paling sulit yang harus ditembus kecerdasan buatan. Sebab dalam debat, memiliki jawaban bukan selalu berarti menang.
Yang menang adalah pihak yang paling mampu membuat orang lain percaya bahwa jawabannyalah yang paling masuk akal.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













