KANALPLUS.ID – Belakangan ini linimasa TikTok, Facebook Reels, hingga YouTube Shorts dipenuhi potongan drama pendek asal China. Ceritanya sederhana, penuh konflik, berdurasi hanya satu hingga dua menit per episode, tetapi mampu membuat penonton terus menekan tombol ‘episode berikutnya’.
Di balik popularitasnya, muncul pertanyaan yang semakin sering dibicarakan warganet, mengapa wajah para aktor dan aktrisnya terlihat sangat mirip? Kulit nyaris tanpa pori, mata begitu bening, ekspresi terasa sedikit kaku, bahkan terkadang gerakan bibir terlihat tidak sepenuhnya sinkron dengan suara.
Tak sedikit yang menyimpulkan bahwa para pemainnya adalah manusia buatan atau seluruhnya dibuat menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar, tetapi juga bukan tanpa dasar.
Aktornya Manusia, AI yang Menyempurnakan
Mayoritas drama pendek China atau micro drama masih menggunakan aktor dan aktris sungguhan. Mereka tetap menjalani proses casting, syuting, dan akting layaknya produksi film atau serial televisi. Perbedaannya muncul setelah proses pengambilan gambar selesai.
Di tahap pascaproduksi, studio mulai memanfaatkan teknologi AI untuk menyempurnakan hampir seluruh aspek visual. Wajah pemain dihaluskan secara otomatis, noda kulit dihilangkan, bentuk wajah dibuat lebih simetris, mata diperbesar, pencahayaan diperbaiki, bahkan ekspresi tertentu dapat dipoles agar terlihat lebih dramatis.
Hasil akhirnya adalah wajah yang tampak hampir sempurna, tetapi sekaligus menimbulkan kesan ‘tidak alami’. Ketika teknologi yang sama digunakan pada banyak produksi, para pemain pun terlihat memiliki karakter visual yang hampir seragam.
Produksi Super Cepat
Salah satu alasan AI digunakan secara masif adalah kecepatan produksi.
Jika serial televisi konvensional membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan lebih dari satu tahun, drama pendek China bisa diproduksi hanya dalam hitungan minggu.
Satu serial bahkan dapat memiliki 80 hingga lebih dari 100 episode. Meski terdengar banyak, setiap episodenya hanya berdurasi sekitar satu hingga dua menit.
Target industri bukan lagi menghasilkan karya berdurasi panjang, melainkan menciptakan sebanyak mungkin konten yang dapat dikonsumsi melalui ponsel.
Dalam kondisi seperti itu, AI menjadi ‘karyawan digital’ yang mampu bekerja jauh lebih cepat dibanding proses penyuntingan manual.
Bukan Sekadar Filter Cantik
Banyak orang mengira AI hanya dipakai untuk membuat wajah pemain menjadi lebih menarik. Fungsinya ternyata jauh lebih luas.
Teknologi AI kini dapat menghapus objek yang mengganggu di latar belakang, memperbaiki kualitas gambar, mengubah pencahayaan, membuat gerakan bibir mengikuti bahasa lain, hingga membantu proses sulih suara agar terlihat alami.
Bahkan beberapa studio menggunakan AI untuk membuat satu aktor tampak lebih muda atau lebih tua tanpa harus menggunakan riasan khusus.
Teknologi semacam ini sebelumnya hanya dapat ditemukan pada film-film berbiaya besar di Hollywood. Kini, kemampuannya tersedia dalam perangkat lunak yang jauh lebih murah dan mudah digunakan.
Mengapa Semua Terlihat Mirip?
Fenomena wajah yang mirip sebenarnya bukan karena semua aktor memiliki wajah yang sama.
Penyebab utamanya adalah hampir semua studio menggunakan teknologi penyuntingan AI dengan standar kecantikan yang serupa.
AI akan otomatis menghaluskan kulit, mempertajam garis rahang, memperbesar mata, mencerahkan warna kulit, serta mengurangi kerutan.
Akibatnya, karakter unik pada wajah masing-masing aktor perlahan menghilang dan digantikan oleh standar visual yang dianggap paling menarik oleh algoritma media sosial.
Bagi sebagian penonton, hasil tersebut memang terlihat cantik dan tampan. Namun bagi yang lain, wajah para pemain justru terasa seperti ‘terlalu sempurna’ sehingga kehilangan kesan alami.
AI Juga Membantu Menembus Pasar Dunia
Drama pendek China kini tidak hanya menyasar penonton domestik. Platform-platform digital mulai mendistribusikannya ke Amerika Serikat, Eropa, Asia Tenggara, hingga Timur Tengah. Di sinilah AI kembali memainkan peran penting.
Teknologi AI lip sync mampu menyesuaikan gerakan bibir aktor dengan dialog dalam bahasa Inggris, Indonesia, Spanyol atau bahasa lain sehingga penonton merasa seolah-olah para pemain benar-benar berbicara menggunakan bahasa tersebut. Proses yang dahulu membutuhkan pengambilan gambar ulang kini dapat dilakukan hanya melalui komputer.
Apakah AI Bisa Menggantikan Aktor?
Jawabannya, belum sepenuhnya. Meski teknologi video generatif berkembang sangat pesat, sebagian besar drama pendek masih membutuhkan aktor asli. Ekspresi emosional, interaksi antarpemain, gerakan tubuh, hingga adegan aksi masih jauh lebih mudah dilakukan oleh manusia dibanding dibuat sepenuhnya oleh AI.
Namun, bukan berarti AI tidak akan mengambil peran yang lebih besar di masa depan. Beberapa rumah produksi mulai bereksperimen menggunakan AI untuk mengganti wajah aktor pada adegan tertentu, membuat pemeran tampak lebih muda, bahkan menciptakan pemeran digital untuk kebutuhan khusus.
Jika perkembangan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin sebagian pekerjaan di industri perfilman akan berubah secara drastis dalam beberapa tahun ke depan.
Era Baru Industri Hiburan
Fenomena drama pendek China sebenarnya menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar alat bantu teknologi. Ia telah menjadi bagian dari proses kreatif industri hiburan.
Bagi rumah produksi, AI berarti biaya lebih murah, produksi lebih cepat, dan peluang menjangkau pasar global yang lebih besar. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan baru mengenai batas antara wajah asli dan hasil rekayasa digital, keaslian akting, hingga masa depan profesi editor, penata rias, bahkan aktor itu sendiri.
Jadi, jika Anda merasa wajah para pemain drama China di TikTok terlihat ‘aneh”, ‘terlalu mulus’, atau ‘mirip semua’, kemungkinan besar yang Anda lihat bukanlah aktor AI, melainkan aktor sungguhan yang telah dipoles oleh kecerdasan buatan.
Dan bisa jadi, tanpa disadari, itulah gambaran masa depan industri hiburan dunia ketika manusia tetap menjadi pemeran utama, tetapi AI menjadi sutradara tak terlihat yang membentuk apa yang akhirnya kita tonton di layar ponsel.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













