PCNU Kota Pekalongan Sebut Model One Man One Vote Terlalu ‘Brutal’, Usul Pemilihan Ketum PBNU Diubah

- Jurnalis

Senin, 10 Agustus 2026 - 00:04 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Pekalongan, Dr. KH Moch Machrus, Lc., M.Si dan Rais Syuriah PC NU Kota Pekalongan, DR. KH. Hasan Su’aidi, M.SI berpose bersama usai konferensi pers di Kantor PCNU Kota Pekalongan, Minggu (9/8/26).

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Pekalongan, Dr. KH Moch Machrus, Lc., M.Si dan Rais Syuriah PC NU Kota Pekalongan, DR. KH. Hasan Su’aidi, M.SI berpose bersama usai konferensi pers di Kantor PCNU Kota Pekalongan, Minggu (9/8/26).

KANAL KOTA – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) belum dimulai, tetapi satu hal sudah lebih dulu dipersoalkan, yakni cara memilih ketua umum PBNU. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan menilai mekanisme one man one vote yang memberikan satu suara kepada masing-masing ketua PCNU perlu dievaluasi. Bukan tanpa alasan, mekanisme tersebut dinilai tidak lagi cukup ideal untuk organisasi sebesar NU.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Pekalongan, Dr. KH Moch Machrus, Lc., M.Si., bahkan menyebut mekanisme pemilihan sebelumnya terkesan ‘brutal’ dan kurang mencerminkan marwah organisasi.

“Belajar dari pemilihan yang terdahulu, kita lihat sendiri pemilihan ketua umum yang model seperti itu tidak pas untuk marwah NU. Sedikit bermasalah dan kelihatan lebih brutal,” kata Machrus saat konferensi pers di Kantor PCNU Kota Pekalongan, Minggu (9/8/2026) malam.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu sikap PCNU Kota Pekalongan bersama jajaran PCNU di wilayah Pekalongan Raya menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27-31 Agustus.

Bukan Sekadar Ganti Nama, Tapi Ganti Cara Main

Alih-alih mempertahankan pola satu ketua cabang satu suara, PCNU Kota Pekalongan mengusulkan mekanisme semacam konvensi.

Dalam skema yang ditawarkan, masing-masing PCNU mengusulkan nama calon. Dari proses tersebut akan dihimpun sekitar sembilan nama yang kemudian dibawa ke arena muktamar.

Sembilan nama itu selanjutnya dibahas dalam muktamar dan masuk dalam formatur untuk bersama Rais Aam menentukan ketua umum PBNU.

“Sudah tidak pemilihan melalui one man one vote, tapi lebih ke model konvensi, kemudian ditabulasi, kemudian ada formatur,” ujar Machrus.

Bagi PCNU Kota Pekalongan, perubahan mekanisme bukan sekadar urusan teknis pemilihan. Ada persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana memastikan kontestasi kepemimpinan tidak justru menggerus marwah organisasi.

Baca Juga :  Batik Pekalongan Mencari Penerus, 50 Pelajar Jateng Ditarik ke 'Pranggok' dadakan

Machrus menilai organisasi sebesar NU semestinya memiliki mekanisme pemilihan yang lebih mencerminkan karakter dan kedewasaan organisasi.

“Alangkah baiknya NU sudah mulai melakukan itu untuk menjaga nama baik NU dan marwah NU,” katanya.

Kalau Tak Bisa Sekarang, Didorong untuk Muktamar Berikutnya

Usulan tersebut diakui belum tentu dapat langsung diterapkan pada Muktamar ke-35. Sebab, mekanisme pemilihan yang berlaku masih mengacu pada ketentuan AD/ART organisasi.

Namun, PCNU Kota Pekalongan menyatakan tidak akan berhenti hanya karena usulannya belum dapat diterapkan tahun ini.

Jika perubahan mekanisme belum mendapatkan tempat pada Muktamar ke-35, usulan tersebut akan kembali diperjuangkan untuk muktamar berikutnya.

“Kalaupun nantinya tidak bisa berjalan di pemilihan ini, paling tidak kita PCNU memperjuangkan untuk muktamar yang akan datang,” terang Machrus.

Dengan kata lain, bagi PCNU Kota Pekalongan, persoalannya bukan sekadar siapa yang menang dalam Muktamar ke-35, tetapi juga apakah NU mau mengevaluasi cara menentukan orang yang akan memimpin organisasi tersebut.

Banyak Kandidat, PCNU Pekalongan Belum Pasang Nama

Di tengah bermunculannya sejumlah nama yang disebut-sebut bakal maju dalam bursa calon ketua umum PBNU, PCNU Kota Pekalongan juga belum menentukan figur yang akan diusung.

Machrus mengatakan pihaknya justru mengapresiasi banyaknya ulama dan tokoh NU yang menyatakan kesediaan untuk berkhidmat di tingkat PBNU.

Menurut dia, munculnya banyak kandidat menunjukkan adanya keinginan dari para tokoh untuk mengambil tanggung jawab dalam mengelola organisasi.

Namun, keputusan siapa yang akan didukung PCNU Kota Pekalongan tidak akan ditentukan secara sepihak.

Menjelang muktamar, PCNU akan menggelar rapat gabungan antara Syuriah dan Tanfidziyah untuk menyerap seluruh aspirasi internal.

Baca Juga :  Kasus Dugaan Pencabulan Sejumlah Santri di Pekalongan Naik Penyidikan, Terduga Guru Mengaji Dikabarkan Menghilang

“Kita nanti akan ada di akhir menjelang muktamar rapat gabungan antara Syuriah dengan Tanfidziyah, dengan aspirasi semuanya yang masuk,” jelasnya.

Artinya, nama calon boleh ramai beredar di luar, tetapi keputusan PCNU Kota Pekalongan belum tentu ikut ramai-ramai diumumkan sekarang.

Machrus menegaskan seluruh tokoh yang muncul memiliki kapasitas masing-masing yang patut diapresiasi. Karena itu, PCNU memilih menunggu proses internal sebelum menentukan sikap.

Ketum PBNU Jangan Cuma Menang di Muktamar

Lebih jauh, Machrus mengingatkan bahwa tantangan ketua umum PBNU hasil Muktamar ke-35 tidak berhenti ketika palu sidang diketuk dan jabatan ditetapkan.

Menurutnya, siapa pun yang terpilih harus mampu membawa NU bekerja pada tiga lapisan sekaligus, yaitu internasional, nasional dan lokal.

“Harapannya siapapun nanti yang terpilih menjadi ketua ini punya tanggung jawab besar mengurusi NU ini seperti mengurusi negara,” paparnya.

Di tingkat internasional, NU diharapkan mampu memperkuat posisi dan wibawa Indonesia. Di tingkat nasional, PBNU harus mampu menjaga posisi strategis NU di tengah pemerintah dan masyarakat.

Sedangkan di tingkat lokal, persoalan yang selama ini kerap terasa justru bagaimana program PBNU dapat benar-benar tersambung dengan PWNU, PCNU, MWC hingga ranting.

Machrus berharap tidak terjadi PBNU sibuk dengan agendanya sendiri sementara struktur di bawah berjalan dengan agenda masing-masing.

“Ini yang kami harapkan. Dari mulai level PBNU, PWNU, PCNU sampai MWC dan ranting, program-programnya bisa sinergi, bisa berjalan seiringan,” tuturnya.

Pada akhirnya, bagi PCNU Kota Pekalongan, Muktamar ke-35 bukan cuma pertarungan memilih nama baru di pucuk PBNU. Muktamar juga menjadi momentum untuk menguji apakah NU bersedia berbenah dari cara memilih pemimpin hingga cara bekerja setelah pemimpin terpilih.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dirugikan Vidio Lama Diviralkan, SMP 10 Pekalongan Bakal Tempuh Jalur Hukum
Pelaku Usaha Batik di Kota Pekalongan Diajak Perkuat Digital Marketing
PBN 2026 Jadi Panggung UMKM dan Produk Unggulan Daerah di Kota Pekalongan
Langganan Banjir, Jalan di Pringrejo Dicor TMMD Kota Pekalongan
Pemkot Pekalongan Perkuat Kolaborasi OPD, Targetkan 418 Posyandu Terapkan 6 SPM pada 2026
Pemkot Upayakan Pemulangan PMI Kota Pekalongan Terlantar di Dubai
Grand Keisha Padel Court Dibuka, Kota Pekalongan Bidik Turnamen Nasional Berhadiah Rp1 Miliar
Reuni Akbar IKA Spensa Pekalongan 25 Angkatan Satukan Ratusan Alumni Lintas Generasi

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:22 WIB

Dirugikan Vidio Lama Diviralkan, SMP 10 Pekalongan Bakal Tempuh Jalur Hukum

Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:17 WIB

Pelaku Usaha Batik di Kota Pekalongan Diajak Perkuat Digital Marketing

Rabu, 14 Oktober 2026 - 23:27 WIB

PBN 2026 Jadi Panggung UMKM dan Produk Unggulan Daerah di Kota Pekalongan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:20 WIB

Langganan Banjir, Jalan di Pringrejo Dicor TMMD Kota Pekalongan

Senin, 12 Oktober 2026 - 16:02 WIB

Pemkot Pekalongan Perkuat Kolaborasi OPD, Targetkan 418 Posyandu Terapkan 6 SPM pada 2026

Berita Terbaru

Pemandangan menakjubkan kepulauan British Island di Karibia yang menjadi salah satu destinasi wisata termahal di dunia. Foto: Ilustrasi AI

Wisata

10 Destinasi Wisata Termahal di Dunia

Sabtu, 17 Okt 2026 - 06:10 WIB