7 Atlet Paling Fenomenal Sepanjang Sejarah Dunia, Koleksi Puluhan Medali dan Rekor yang Sulit Dipecahkan

- Jurnalis

Jumat, 6 November 2026 - 06:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kolase tujuh legenda olahraga dunia untuk mendukung artikel. Cocok digunakan sebagai foto utama dengan tema Atlet Paling Berprestasi Sepanjang Sejarah Dunia. (Foto: Ilustrasi AI)

Kolase tujuh legenda olahraga dunia untuk mendukung artikel. Cocok digunakan sebagai foto utama dengan tema Atlet Paling Berprestasi Sepanjang Sejarah Dunia. (Foto: Ilustrasi AI)

KANAL OLAHRAGA – Dalam sejarah olahraga dunia, ada atlet yang hanya membutuhkan satu momen untuk dikenang. Namun, ada pula atlet yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menciptakan sejarah, memecahkan rekor, mengumpulkan medali, dan mendominasi cabang olahraga yang digelutinya selama bertahun-tahun.

Mereka bukan sekadar juara. Prestasi yang dicatatkan bahkan menjadi standar baru bagi generasi atlet berikutnya. Ada perenang yang mengoleksi 23 medali emas Olimpiade, pelari yang catatan waktunya masih belum terkalahkan, hingga atlet lompat galah yang memecahkan rekor dunia sebanyak 35 kali.

Menariknya, sebagian dari mereka sudah lama meninggalkan arena pertandingan. Ada yang menjadi pengurus olahraga, membangun yayasan, terjun ke dunia bisnis, hingga menikmati kehidupan setelah pensiun. Sementara beberapa lainnya masih aktif berkompetisi meskipun usianya tidak lagi muda.

Berikut tujuh atlet paling fenomenal yang prestasinya layak dicatat dalam sejarah olahraga dunia.

1. Michael Phelps, manusia yang mengoleksi 23 medali emas Olimpiade

Jika harus menyebut satu atlet dengan koleksi medali Olimpiade paling mengesankan sepanjang sejarah, nama Michael Phelps hampir tidak memiliki tandingan.

Perenang asal Amerika Serikat ini mengumpulkan total 28 medali Olimpiade, terdiri atas 23 emas, tiga perak, dan dua perunggu. Prestasi tersebut diraih dalam lima penyelenggaraan Olimpiade, mulai Sydney 2000 hingga Rio de Janeiro 2016.

Puncak kejayaannya terjadi pada Olimpiade Beijing 2008. Phelps berhasil membawa pulang delapan medali emas dalam satu penyelenggaraan Olimpiade, memecahkan rekor tujuh emas yang sebelumnya dipegang perenang legendaris Mark Spitz sejak Olimpiade Munich 1972.

Pencapaiannya bukan sekadar persoalan jumlah medali. Phelps juga menguasai berbagai nomor renang, mulai gaya kupu-kupu, gaya bebas, hingga gaya ganti perorangan. Ia mampu bersaing di nomor yang memiliki tuntutan teknik dan kemampuan fisik berbeda.

Sepanjang kariernya, Phelps juga pernah menciptakan 39 rekor dunia. Kombinasi antara kecepatan, teknik, daya tahan, dan kemampuan mempertahankan performa membuatnya menjadi salah satu atlet paling dominan dalam sejarah olahraga.

Lantas, bagaimana kehidupannya sekarang?

Phelps sudah resmi pensiun setelah Olimpiade Rio 2016. Namun, ia tidak sepenuhnya meninggalkan dunia renang. Ia terlibat dalam kegiatan pembinaan bersama mantan pelatihnya, Bob Bowman, serta menjalankan Michael Phelps Foundation.

Yayasan tersebut bergerak dalam pendidikan keselamatan air, kesehatan mental, dan pola hidup sehat bagi anak-anak dan generasi muda. Di luar olahraga, Phelps juga menikmati hobinya bermain golf dan mengembangkan usaha.

Dengan demikian, manusia yang dahulu menghabiskan waktunya di kolam renang untuk mengejar medali kini lebih banyak mencurahkan perhatian pada keluarga, kegiatan sosial, dan pengembangan olahraga.

2. Sergei Bubka, pemecah 35 rekor dunia lompat galah

Nama Sergei Bubka mungkin tidak sepopuler Michael Phelps atau Usain Bolt bagi masyarakat umum. Namun, dalam dunia atletik, pencapaiannya termasuk salah satu yang paling sulit ditandingi.

Atlet asal Ukraina yang dahulu mewakili Uni Soviet ini merupakan legenda lompat galah. Ia tercatat memecahkan rekor dunia sebanyak 35 kali sepanjang kariernya, terdiri atas 17 rekor di luar ruangan dan 18 rekor dalam ruangan.

Salah satu pencapaian bersejarahnya terjadi pada 1985 ketika menjadi manusia pertama yang berhasil melewati mistar setinggi enam meter dalam lompat galah.

Angka enam meter merupakan batas psikologis sekaligus tantangan teknis yang sangat besar dalam cabang olahraga tersebut. Untuk melewatinya, seorang atlet membutuhkan kombinasi kecepatan berlari, kekuatan tubuh, kelenturan, serta kemampuan mengendalikan galah ketika melayang di udara.

Bubka kemudian terus menaikkan standar. Pada 1993, ia mencatat rekor dunia dalam ruangan 6,15 meter, sedangkan rekor luar ruangannya mencapai 6,14 meter pada 1994.

Yang menarik, meskipun memiliki 35 rekor dunia, Bubka hanya meraih satu medali emas Olimpiade, yakni di Seoul 1988. Ia bahkan kehilangan kesempatan tampil di Olimpiade Los Angeles 1984 karena boikot Uni Soviet.

Setelah pensiun, Bubka tidak benar-benar meninggalkan dunia olahraga. Ia beralih ke dunia administrasi dan pengelolaan olahraga internasional, termasuk terlibat dalam gerakan Olimpiade dan pembinaan atlet muda.

Hingga 2026, ia masih aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan olahraga. Salah satu aktivitasnya adalah keterlibatan dalam pemberian penghargaan IOC Coaches Lifetime Achievement Award pada Januari 2026.

Perjalanan Bubka memperlihatkan bahwa seorang atlet tidak harus mengumpulkan banyak medali Olimpiade untuk disebut sebagai legenda. Dominasi selama hampir dua dekade dan 35 kali pemecahan rekor dunia sudah cukup menjadikannya salah satu tokoh terbesar dalam sejarah atletik.

3. Larisa Latynina, ratu senam yang bertahan hampir setengah abad sebagai pemegang rekor

Sebelum Michael Phelps mengambil alih predikat atlet dengan medali Olimpiade terbanyak, rekor tersebut selama hampir setengah abad dipegang seorang pesenam perempuan asal Uni Soviet bernama Larisa Latynina.

Latynina mengumpulkan 18 medali Olimpiade, terdiri atas sembilan emas, lima perak, dan empat perunggu. Seluruhnya diperoleh dalam tiga penyelenggaraan Olimpiade, yakni Melbourne 1956, Roma 1960, dan Tokyo 1964.

Pencapaian tersebut sangat luar biasa karena senam artistik merupakan cabang olahraga yang menuntut ketepatan gerakan, keseimbangan, kelenturan, kekuatan, dan konsentrasi tinggi.

Baca Juga :  Kota Pekalongan Bertahan di Peringkat 21 Porprov Jateng, Cabang Olahraga Tak Terduga Justru Jadi Penyelamat

Latynina tidak hanya berjaya dalam nomor perorangan, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi tim senam Uni Soviet. Ia berhasil mempertahankan konsistensi prestasi dalam kompetisi yang melibatkan atlet-atlet terbaik dunia.

Salah satu kisah paling fenomenal terjadi pada Kejuaraan Dunia Senam 1958. Saat itu, Latynina ternyata sedang mengandung hampir tiga bulan, tetapi tetap mampu meraih lima medali emas.

Rekor 18 medali Olimpiadenya baru berhasil dilewati Phelps pada Olimpiade London 2012. Bayangkan, hampir 48 tahun setelah penampilan terakhirnya di Olimpiade Tokyo 1964, namanya masih bertahan sebagai pemegang rekor tersebut.

Bagaimana kehidupannya sekarang?

Latynina sudah lama pensiun dari dunia senam kompetitif. Ia pernah menjalani pekerjaan sebagai pelatih dan turut membina tim senam Uni Soviet.

Dalam usia lanjut, ia tetap mengikuti perkembangan senam artistik dunia dan sesekali tampil dalam kegiatan yang berkaitan dengan sejarah Olimpiade. Informasi publik pada 2024 menyebutkan ia pindah ke rumah perawatan bagi para veteran seni pertunjukan di Rusia.

Kini, warisannya lebih banyak hidup melalui sejarah olahraga dan generasi pesenam yang mengikuti jejaknya. Ia menjadi bukti bahwa prestasi atlet perempuan mampu bertahan dalam ingatan dunia selama puluhan tahun.

4. Usain Bolt, manusia tercepat yang belum terkalahkan

Jika Michael Phelps adalah raja kolam renang, Usain Bolt merupakan penguasa lintasan lari jarak pendek. Pelari asal Jamaika ini dikenal sebagai manusia tercepat dalam sejarah atletik modern. Ia masih memegang dua rekor dunia paling bergengsi, yakni lari 100 meter dengan catatan waktu 9,58 detik dan 200 meter dengan 19,19 detik. Kedua rekor tersebut dibuat pada Kejuaraan Dunia Atletik 2009 di Berlin, Jerman.

Keistimewaan Bolt bukan hanya kecepatannya, tetapi juga dominasinya dalam tiga Olimpiade berturut-turut. Pada Beijing 2008, London 2012, dan Rio de Janeiro 2016, ia berhasil meraih delapan medali emas Olimpiade.

Bolt juga mengoleksi 11 gelar juara dunia atletik. Ia menjadi pelari pertama yang mampu mempertahankan gelar juara Olimpiade nomor 100 meter dan 200 meter dalam tiga penyelenggaraan berturut-turut.

Keberhasilannya membuat nomor sprint yang sebelumnya didominasi persaingan ketat berubah menjadi panggung yang kerap dikuasai satu orang.

Bahkan, selebrasi khasnya dengan mengangkat kedua tangan menyerupai kilat menjadi salah satu pose paling terkenal dalam sejarah olahraga.

Bolt memutuskan pensiun dari atletik setelah Kejuaraan Dunia 2017. Setelah itu, ia sempat mencoba peruntungan di sepak bola profesional bersama klub Australia, Central Coast Mariners. Namun, upaya tersebut tidak berlanjut menjadi karier sepak bola permanen.

Sekarang, Bolt lebih banyak menjalani aktivitas sebagai figur publik, pengusaha, dan duta olahraga. Ia juga masih memiliki ketertarikan besar terhadap sepak bola.

Pada Agustus 2026, muncul kabar bahwa Bolt terdaftar untuk memperkuat Wythenshawe FC Veterans, sebuah tim sepak bola veteran di Manchester, Inggris. Ini menjadi gambaran bahwa meskipun sudah pensiun dari atletik, kecintaannya terhadap olahraga belum padam.

Hal paling fenomenal dari Bolt adalah sampai sekarang belum ada pelari yang berhasil melampaui catatan 9,58 detik pada nomor 100 meter. Rekor yang dibuat lebih dari 17 tahun lalu itu masih menjadi tantangan bagi generasi sprinter berikutnya.

5. Katie Ledecky, ratu renang jarak jauh yang belum selesai berprestasi

Jika Michael Phelps menjadi legenda renang putra, Katie Ledecky merupakan salah satu simbol dominasi renang putri dunia.

Perenang Amerika Serikat ini telah mengumpulkan 14 medali Olimpiade, terdiri atas sembilan emas, empat perak, dan satu perunggu hingga Olimpiade Paris 2024.

Ledecky mulai menarik perhatian dunia pada Olimpiade London 2012. Saat masih berusia 15 tahun, ia berhasil meraih emas nomor 800 meter gaya bebas.

Prestasi tersebut menjadi awal dari perjalanan panjang yang membuatnya mendominasi nomor renang jarak menengah dan jauh.

Pada Olimpiade Rio 2016, ia meraih empat medali emas dan satu perak. Ia bahkan berhasil mencatatkan kemenangan di nomor 200 meter, 400 meter, dan 800 meter gaya bebas.

Keunggulan Ledecky terletak pada kemampuan mempertahankan kecepatan dalam jarak panjang. Ia mampu berenang dengan ritme sangat konsisten, sementara para pesaingnya mulai kehilangan tenaga pada putaran-putaran terakhir.

Ia juga berkali-kali memecahkan rekor dunia, khususnya nomor 800 meter dan 1.500 meter gaya bebas. Catatan waktunya di nomor-nomor tersebut menjadikannya salah satu perenang paling dominan dalam sejarah.

Berbeda dengan Phelps, Ledecky belum pensiun. Hingga November 2026, ia masih aktif berkompetisi dan mempersiapkan kemungkinan tampil pada Olimpiade Los Angeles 2028.

Dalam Kejuaraan Pan Pacific 2026, misalnya, ia masih turun di nomor 400 meter dan 800 meter gaya bebas, meskipun harus mengakui keunggulan perenang Australia, Lani Pallister.

Ledecky juga pernah menyampaikan keinginannya untuk tetap terlibat dalam dunia renang setelah pensiun, termasuk melalui kegiatan pembinaan dan aktivitas sosial.

Dengan usia yang masih relatif muda untuk ukuran atlet renang jarak jauh, peluangnya menambah koleksi medali masih terbuka. Ia merupakan salah satu nama yang patut diperhatikan menjelang Olimpiade 2028.

6. Novak Djokovic, petenis yang mendobrak batas usia dan dominasi

Baca Juga :  Dua Atlet Disabilitas Kabupaten Tegal Siap Kibarkan Merah Putih di Jepang dan Amerika

Dalam dunia tenis, persaingan antara Roger Federer, Rafael Nadal, dan Novak Djokovic pernah menjadi salah satu rivalitas paling menarik sepanjang sejarah olahraga.

Ketiganya dikenal sebagai Big Three. Namun, dalam hal jumlah gelar Grand Slam tunggal putra, Djokovic berhasil menempatkan dirinya di posisi teratas.

Petenis asal Serbia tersebut telah mengoleksi 24 gelar Grand Slam. Ia juga pernah menduduki peringkat satu dunia selama total 428 pekan, sebuah rekor yang memperlihatkan betapa lama ia mampu mempertahankan konsistensi permainan.

Djokovic memiliki keunggulan dalam berbagai aspek permainan. Kemampuan mengembalikan bola, ketahanan fisik, fleksibilitas, dan kekuatan mental membuatnya mampu menghadapi lawan dari berbagai generasi.

Ia juga menjadi satu-satunya petenis putra yang berhasil menjuarai seluruh empat turnamen Grand Slam setidaknya tiga kali pada era Open.

Salah satu pencapaian yang sangat berkesan adalah keberhasilannya meraih medali emas Olimpiade Paris 2024. Gelar tersebut melengkapi koleksi prestasinya dan menjawab penantian panjangnya untuk mendapatkan emas Olimpiade.

Lalu, bagaimana kondisinya sekarang?

Berbeda dengan beberapa legenda lain dalam daftar ini, Djokovic belum pensiun. Pada November 2026, ia masih aktif bermain di usia 39 tahun.

Namun, perjalanan kariernya mulai menghadapi tantangan lebih berat. Ia sempat mengalami masalah kesehatan yang mengganggu penampilannya sepanjang musim 2026.

Dalam laporan Reuters pada 3 November 2026, Djokovic mengatakan kondisinya mulai membaik. Ia juga masih berusaha bersaing dalam turnamen-turnamen besar, termasuk Paris Masters.

Menariknya, Djokovic telah mengoleksi 102 gelar tunggal sepanjang kariernya. Meski usianya semakin bertambah, ia belum menunjukkan tanda-tanda benar-benar meninggalkan lapangan tenis.

Fenomena Djokovic terletak pada kemampuannya mempertahankan persaingan di level tertinggi selama lebih dari dua dekade. Ia bukan hanya mengalahkan lawan, tetapi juga mampu melewati generasi pemain yang lebih muda dan secara fisik lebih segar.

7. Simone Biles, pesenam yang menciptakan standar baru dalam senam dunia

Simone Biles merupakan salah satu atlet perempuan paling fenomenal dalam sejarah olahraga modern.

Pesenam asal Amerika Serikat ini telah mengumpulkan 11 medali Olimpiade hingga Paris 2024, terdiri atas tujuh emas, dua perak, dan dua perunggu.

Namun, angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kehebatannya. Biles juga mengoleksi 30 medali kejuaraan dunia senam artistik, menjadikannya salah satu pesenam paling sukses dalam sejarah kompetisi tersebut.

Keunggulan Biles terletak pada tingkat kesulitan gerakannya. Ia mampu melakukan kombinasi salto, putaran, dan pendaratan yang membutuhkan kekuatan serta koordinasi tubuh luar biasa.

Beberapa gerakan bahkan dinilai begitu sulit hingga federasi senam internasional memberikan nama Biles pada elemen gerakan yang berhasil ia perkenalkan.

Artinya, prestasinya bukan hanya memenangkan pertandingan, tetapi juga ikut mengubah perkembangan teknik dalam cabang senam artistik.

Perjalanannya juga tidak selalu mulus. Pada Olimpiade Tokyo 2020, Biles sempat mundur dari sejumlah nomor pertandingan karena mengalami masalah orientasi tubuh ketika melakukan gerakan di udara, yang dikenal sebagai twisties.

Keputusan tersebut menjadi perhatian dunia karena memperlihatkan bahwa kesehatan mental dan keselamatan atlet sama pentingnya dengan medali.

Ia kemudian kembali tampil mengesankan pada Olimpiade Paris 2024 dengan meraih tiga emas dan satu perak.

Bagaimana kehidupannya sekarang?

Hingga November 2026, Biles belum mengumumkan pensiun secara permanen. Namun, ia juga belum kembali berkompetisi sejak Olimpiade Paris 2024.

Ia sedang mempertimbangkan kemungkinan tampil kembali pada Olimpiade Los Angeles 2028. Dalam sejumlah wawancara pada 2026, Biles mengungkapkan bahwa dirinya masih menimbang keputusan tersebut dan menikmati waktu istirahat setelah bertahun-tahun menjalani latihan berat.

Dengan demikian, statusnya saat ini lebih tepat disebut sedang mengambil jeda dari kompetisi, bukan sudah resmi pensiun.

Biles juga aktif dalam kegiatan publik, bisnis, dan berbagai aktivitas di luar arena senam. Ia memiliki kesempatan untuk kembali menciptakan sejarah jika memutuskan tampil di Los Angeles 2028.

Fenomena Biles adalah kemampuannya mendorong batas kemampuan manusia dalam senam artistik. Bahkan, namanya sudah menjadi bagian dari sistem penilaian dan sejarah teknik olahraga tersebut.

Mengapa mereka begitu sulit ditandingi?

Ketujuh atlet tersebut memperlihatkan bahwa prestasi olahraga tidak selalu diukur dengan cara yang sama.

Michael Phelps unggul dalam jumlah medali Olimpiade. Sergei Bubka menciptakan puluhan rekor dunia. Larisa Latynina mempertahankan rekor medali selama hampir setengah abad. Usain Bolt menciptakan catatan kecepatan yang belum terpecahkan. Katie Ledecky masih mempertahankan dominasinya di kolam renang. Novak Djokovic membuktikan ketahanan karier dalam persaingan tenis lintas generasi, sedangkan Simone Biles mengubah standar kesulitan dalam senam artistik.

Ada satu kesamaan yang menarik dari mereka: prestasi fenomenal tidak lahir dari satu kemenangan, melainkan dari kemampuan mempertahankan keunggulan dalam persaingan tingkat dunia selama bertahun-tahun.

Mereka juga memperlihatkan bahwa kehidupan seorang atlet tidak harus berakhir ketika masa kompetitifnya selesai. Phelps membangun yayasan, Bubka masuk ke administrasi olahraga, Bolt menjelajahi dunia bisnis dan sepak bola, sementara Latynina menjadi bagian dari sejarah Olimpiade.

Sementara itu, Ledecky, Djokovic, dan Biles masih memiliki cerita yang belum sepenuhnya selesai.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kota Pekalongan Bertahan di Peringkat 21 Porprov Jateng, Cabang Olahraga Tak Terduga Justru Jadi Penyelamat
Borong Tiga Medali dari Tiga Kategori, Pencak Silat Kota Pekalongan Pamer Gigi di Porprov Jateng 2026
Dua Emas dalam Satu Malam, Atlet Billiar Angelina Pukul Telak Tuan Rumah di Porprov Jateng 2026
Wali Kota Aaf Dampingi Atlet Kota Pekalongan di Porprov Jateng 2026
Kota Pekalongan Ingin Berhenti Bergantung pada Segelintir Cabor di Porprov Jateng 2026
Tiket Rp15 Ribu, Java United Ajak Warga Jateng Ramaikan Laga Perdana di Jatidiri
Diramaikan Atlet Nasional, Industropolis Run 2026 Cuma Buka 2.626 Slot Peserta
Lari Estafet Obor Comal 2026 Makin Ramai, Pemkab Pemalang Siapkan Naik Kelas Jadi Event Kabupaten

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 06:10 WIB

7 Atlet Paling Fenomenal Sepanjang Sejarah Dunia, Koleksi Puluhan Medali dan Rekor yang Sulit Dipecahkan

Kamis, 5 November 2026 - 18:15 WIB

Kota Pekalongan Bertahan di Peringkat 21 Porprov Jateng, Cabang Olahraga Tak Terduga Justru Jadi Penyelamat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:21 WIB

Borong Tiga Medali dari Tiga Kategori, Pencak Silat Kota Pekalongan Pamer Gigi di Porprov Jateng 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 - 22:32 WIB

Dua Emas dalam Satu Malam, Atlet Billiar Angelina Pukul Telak Tuan Rumah di Porprov Jateng 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:20 WIB

Wali Kota Aaf Dampingi Atlet Kota Pekalongan di Porprov Jateng 2026

Berita Terbaru