Film Pendek Berbasis AI Kian Menjamur, Begini Cara Buat dan Sistem Kerjanya

- Jurnalis

Kamis, 5 November 2026 - 06:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Studio produksi film berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan kreator membuat serial dan film pendek dengan bantuan teknologi generatif. (Foto: Ilustrasi AI).

Studio produksi film berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan kreator membuat serial dan film pendek dengan bantuan teknologi generatif. (Foto: Ilustrasi AI).

KANAL HIBURAN – Industri perfilman sedang memasuki babak baru. Teknologi kecerdasan buatan memungkinkan seseorang memproduksi serial film tanpa harus memiliki kamera, studio besar atau puluhan pemain. Di balik maraknya film pendek AI di media sosial, muncul industri baru yang mulai memperebutkan penonton, pasar dan uang.

Film pendek berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mudah ditemukan di berbagai platform media sosial. Mulai dari cerita horor, drama percintaan, fantasi, peperangan, fiksi ilmiah, hingga kisah kerajaan dan dunia imajinasi, semuanya diproduksi dengan bantuan teknologi AI.

Sebagian film bahkan memiliki tampilan visual menyerupai produksi film profesional. Karakternya bisa berbicara, berjalan, berkelahi, menangis, hingga berinteraksi dengan lingkungan yang seluruhnya dibuat secara digital.

Fenomena ini menandai perubahan dalam industri hiburan. Jika sebelumnya produksi film membutuhkan kamera, aktor, kru, lokasi syuting, properti dan biaya pascaproduksi yang besar, kini sebagian besar kebutuhan tersebut dapat digantikan atau dipangkas menggunakan teknologi AI.

Namun, film AI bukan sekadar tren video yang menarik perhatian pengguna media sosial. Di belakangnya terdapat persaingan bisnis antara perusahaan teknologi, studio produksi dan platform distribusi yang sama-sama ingin menguasai pasar hiburan digital.

Dari ide cerita hingga menjadi film, bagaimana proses produksinya?

Pembuatan film berbasis AI sebenarnya tidak dilakukan hanya dengan mengetik satu perintah kemudian menghasilkan film utuh. Produksi yang berkualitas tetap membutuhkan perencanaan, pengembangan cerita, pengarahan visual, penyuntingan, serta pengawasan manusia.

Sebagai contoh, seseorang ingin membuat serial fantasi tentang seorang prajurit dari zaman kerajaan yang tiba-tiba terlempar ke masa depan. AI dapat membantu menyusun sinopsis, membangun karakter, menentukan konflik dan mengembangkan cerita bersambung.

Tahap berikutnya adalah menciptakan karakter dan lingkungan film. Teknologi pembuat gambar digunakan untuk menghasilkan wajah tokoh, pakaian, bangunan, kendaraan, pemandangan, hingga berbagai objek yang muncul dalam cerita.

Bagian ini membutuhkan perhatian khusus karena setiap karakter harus memiliki penampilan yang konsisten. Wajah, bentuk tubuh, pakaian, dan ciri khas tokoh harus tetap sama dari satu adegan ke adegan berikutnya.

Teknologi tersebut memungkinkan kreator membuat adegan yang sebelumnya membutuhkan proses produksi rumit. Misalnya, seekor naga terbang di atas kerajaan, peperangan antarpasukan, kota futuristik, atau kendaraan luar angkasa yang melintasi galaksi.

Tahap selanjutnya adalah pembuatan suara. AI dapat menghasilkan suara karakter, narasi, musik latar, efek suara, hingga sinkronisasi gerakan bibir dengan dialog.

Semua adegan kemudian disatukan melalui proses penyuntingan. Editor mengatur urutan cerita, durasi, transisi, musik, efek suara, warna dan subtitle agar menghasilkan film yang utuh.

Dengan demikian, produksi film AI tetap membutuhkan manusia. Perbedaannya terletak pada penggunaan teknologi yang mampu memangkas sebagian pekerjaan teknis dan biaya produksi.

Menurut laporan Reuters pada April 2026, serial tersebut telah memperoleh sedikitnya 26,5 juta penayangan. Angka itu memperlihatkan bahwa cerita yang dibuat menggunakan AI juga berpotensi menarik perhatian jutaan penonton.

Baca Juga :  10 Pusat Produksi Film Terbesar Dunia

Indonesia pun mulai memiliki pemain di bidang ini. Salah satunya ShortDrama Studio yang berbasis di Jakarta dan menawarkan teknologi untuk membantu produksi serial pendek menggunakan AI.

Kehadiran perusahaan tersebut memperlihatkan bahwa peluang bisnis ini mulai dilirik pelaku industri kreatif dalam negeri. Namun, skala dan kekuatan bisnis masing-masing perusahaan tentu masih berbeda dan belum semuanya memiliki data pendapatan yang terbuka kepada publik.

Ketiga, melalui penjualan lisensi. Studio yang memiliki serial populer dapat menjual atau melisensikan hak tayang kepada platform streaming di berbagai negara.

Sebagai contoh, sebuah studio memproduksi serial fantasi sebanyak 30 episode. Konten tersebut kemudian ditawarkan kepada platform streaming yang ingin menayangkannya di Indonesia, India, Amerika Serikat, atau negara lainnya.

Keempat, melalui produksi pesanan. Studio AI dapat menerima pekerjaan pembuatan iklan, video promosi perusahaan, kampanye pariwisata, hingga konten pemasaran produk.

Model terakhir ini berpotensi menjadi sumber pendapatan yang cukup realistis bagi studio kecil karena mereka tidak harus terlebih dahulu membangun jutaan penonton.

Perlu dicatat, angka tersebut merupakan estimasi keseluruhan industri microdrama, termasuk serial yang diproduksi menggunakan aktor sungguhan. Jadi, bukan pendapatan khusus film yang seluruh prosesnya menggunakan AI.

Meski demikian, besarnya pasar tersebut menunjukkan bahwa format serial pendek telah berkembang menjadi bisnis hiburan yang serius.

Keunggulan format ini terletak pada kebiasaan pengguna ponsel yang dapat menonton cerita dalam waktu singkat. Seseorang bisa menyelesaikan beberapa episode ketika sedang menunggu, beristirahat, atau dalam perjalanan.

Studio kemudian memanfaatkan kebiasaan tersebut dengan menyajikan cerita bersambung yang memiliki konflik dan kejutan pada akhir setiap episode.

Reuters juga melaporkan pengalaman Galleri5 di India. Menurut perusahaan tersebut, produksi film bergenre mitologi dan fantasi menggunakan AI dapat memangkas biaya hingga sekitar seperlima dibandingkan produksi konvensional.

Penghematan ini bukan berarti seluruh proses film menjadi gratis. Studio tetap harus membayar penggunaan teknologi AI, penulis skenario, editor, pengarah visual, tenaga kreatif, promosi dan distribusi.

Selain itu, semakin tinggi kualitas film yang diinginkan, semakin banyak pula proses pengulangan dan penyempurnaan adegan yang diperlukan.

Karena itu, anggapan bahwa seseorang cukup menggunakan satu aplikasi AI untuk menghasilkan film berkualitas profesional dengan biaya sangat murah tidak sepenuhnya benar.

Namun, jika pendapatannya hanya 5.000 dolar AS, studio justru mengalami kerugian 5.000 dolar AS. Artinya, biaya produksi yang rendah tidak otomatis membuat bisnis ini menguntungkan.

Tantangan terbesarnya adalah menemukan penonton, mempertahankan perhatian mereka dan mengubah jumlah penayangan menjadi pendapatan.

Studio juga harus memperhitungkan biaya promosi. Konten yang bagus belum tentu langsung dikenal banyak orang. Dalam persaingan media sosial, distribusi dan pemasaran bisa menjadi pengeluaran yang tidak kalah besar dibandingkan produksi.

Karena itu, perusahaan yang memiliki jaringan distribusi, basis pelanggan, dan katalog cerita yang kuat berpotensi memiliki posisi lebih baik dibandingkan studio yang hanya mengandalkan kemampuan membuat video.

Baca Juga :  Roadshow GJLS: Berapi-Api di Pekalongan Pecah, Ratusan Penonton Tersulut Tawa Sepanjang Film

Meski demikian, durasi penggunaan aplikasi tidak sama dengan jumlah pelanggan. Netflix masih memiliki basis pengguna aktif bulanan yang jauh lebih besar di pasar tersebut.

Data itu menunjukkan bahwa serial pendek mampu merebut waktu konsumsi hiburan yang sebelumnya banyak dihabiskan untuk layanan streaming konvensional.

Ke depan, persaingan kemungkinan tidak hanya terjadi antara film AI dan film biasa, tetapi juga antara berbagai format hiburan digital.

Sementara itu, negara seperti Ukraina dan Israel juga mulai melahirkan perusahaan yang menggabungkan teknologi AI dengan produksi hiburan pendek.

Persaingan ini memperlihatkan bahwa industri film AI tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih. Kemampuan memahami budaya dan selera penonton di setiap negara juga menjadi faktor penting.

Sebuah serial yang populer di China belum tentu berhasil di Amerika Serikat. Begitu pula cerita yang disukai penonton India belum tentu mendapatkan respons sama di Indonesia.

Keempat, produksi dokumenter dan rekonstruksi sejarah. AI dapat membantu menggambarkan peristiwa masa lalu yang tidak memiliki dokumentasi visual memadai. Namun, rekonstruksi harus diberi penjelasan agar tidak disalahartikan sebagai rekaman peristiwa sebenarnya.

Kelima, pengembangan platform distribusi serial pendek berbahasa Indonesia yang dapat menampung karya berbagai studio dan kreator. Peluang tersebut cukup besar, tetapi membutuhkan kemampuan produksi, pemasaran, dan pengelolaan hak kekayaan intelektual.

Kondisi tersebut juga dapat menciptakan persaingan yang sangat ketat. Penonton tidak mungkin menonton semua serial yang diproduksi setiap hari. Akibatnya, kualitas cerita dan kemampuan membangun karakter akan menjadi pembeda utama.

Studio juga harus memperhatikan aturan platform mengenai konten sintetis, penggunaan wajah dan suara, serta kewajiban memberikan keterangan atau label pada konten yang dibuat menggunakan AI. Dengan kata lain, teknologi memang mempermudah produksi, tetapi tidak menghilangkan tanggung jawab kreator.

Kedua, kepemilikan karakter dan kekayaan intelektual. Karakter yang kuat dapat dikembangkan menjadi berbagai serial, film, produk komersial, bahkan permainan digital.

Ketiga, kemampuan distribusi. Studio yang memiliki akses ke platform dan basis penonton akan lebih mudah menghasilkan pendapatan.

Keempat, efisiensi produksi. Perusahaan harus mampu menghasilkan konten berkualitas dengan biaya yang sebanding dengan pendapatan.

Ketika teknologi AI semakin mudah diakses, kemampuan membuat video tidak lagi menjadi keunggulan eksklusif. Justru kreativitas, cerita, dan jaringan distribusi akan semakin menentukan persaingan.

Bagi Indonesia, perkembangan ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai tren konten media sosial. Teknologi tersebut bisa menjadi pintu masuk bagi industri kreatif nasional untuk mengembangkan cerita lokal menjadi produk hiburan yang dapat dipasarkan ke dunia.

Bisa jadi, pada masa mendatang, sebuah studio film yang memproduksi serial internasional tidak lagi membutuhkan gedung besar, ratusan kru, atau fasilitas produksi bernilai miliaran rupiah. Mereka mungkin hanya membutuhkan tim kreatif yang kuat, teknologi AI, cerita yang menarik, dan kemampuan menjangkau penonton global.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

10 Pusat Produksi Film Terbesar Dunia
Ada Berapa Jumlah Band Metal di Dunia, Ternyata Segini Datanya
Roadshow GJLS: Berapi-Api di Pekalongan Pecah, Ratusan Penonton Tersulut Tawa Sepanjang Film
Film Horor Rambut Sewu Hadirkan Teror dan Pesan tentang Perundungan
Daftar Drakor dan Dracin Paling Laris, Berikut Judul yang Bikin Penasaran
Drakor Bangun Fandom, Dracin Kejar View: Dua Cara Korea dan China Mengubah Drama Jadi Mesin Uang
20 film berbudget relatif kecil yang menghasilkan box office luar biasa
China Punya 90 Ribu Layar Bioskop, Amerika 40 Ribu: Mengapa Negara-Negara Ini Begitu Dipenuhi Bioskop?

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 06:10 WIB

Film Pendek Berbasis AI Kian Menjamur, Begini Cara Buat dan Sistem Kerjanya

Selasa, 27 Oktober 2026 - 06:10 WIB

10 Pusat Produksi Film Terbesar Dunia

Rabu, 21 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Ada Berapa Jumlah Band Metal di Dunia, Ternyata Segini Datanya

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Roadshow GJLS: Berapi-Api di Pekalongan Pecah, Ratusan Penonton Tersulut Tawa Sepanjang Film

Senin, 12 Oktober 2026 - 21:01 WIB

Film Horor Rambut Sewu Hadirkan Teror dan Pesan tentang Perundungan

Berita Terbaru