Data Center Jadi Bisnis Triliunan Dolar, Siapa yang Paling Diuntungkan dan Apa Dampaknya bagi Negara?

- Jurnalis

Selasa, 3 November 2026 - 06:20 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Aktivitas operasional di dalam pusat data (data center) yang menampung ribuan server untuk mendukung layanan digital, komputasi awan, dan kecerdasan buatan (AI). Foto: Ilustrasi AI

Aktivitas operasional di dalam pusat data (data center) yang menampung ribuan server untuk mendukung layanan digital, komputasi awan, dan kecerdasan buatan (AI). Foto: Ilustrasi AI

KANAL TEKNOLOGI -Pembangunan pusat data atau data center kini menjadi salah satu industri yang paling cepat berkembang di dunia. Di tengah meningkatnya penggunaan internet, komputasi awan (cloud computing), kecerdasan buatan (AI), hingga transaksi digital, kebutuhan terhadap fasilitas penyimpanan dan pengolahan data terus melonjak.

Negara-negara maju berlomba menarik investasi perusahaan teknologi global untuk membangun pusat data. Bukan tanpa alasan, infrastruktur ini dianggap sebagai salah satu fondasi utama ekonomi digital masa depan.

Namun, di balik nilai investasi yang sangat besar, pembangunan data center juga menyimpan persoalan. Fasilitas tersebut membutuhkan listrik dalam jumlah besar, air untuk sistem pendinginan serta lahan yang tidak sedikit.

Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dari bisnis data center? Seberapa besar kontribusinya terhadap perekonomian negara? Dan apakah manfaat ekonomi yang dihasilkan sebanding dengan sumber daya alam yang harus dikorbankan?

Amerika Serikat Memimpin Jumlah Data Center Dunia

Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah fasilitas data center terbanyak di dunia. Berdasarkan data Cloudscene yang dikutip dalam Stanford AI Index Report 2026, terdapat sekitar 5.427 fasilitas data center yang tercatat di negara tersebut pada 2025.

Jumlah itu jauh melampaui negara lain.

Jerman berada di posisi kedua dengan sekitar 529 fasilitas, disusul Inggris sebanyak 523 fasilitas dan China sekitar 449 fasilitas. Kanada tercatat memiliki 337 fasilitas, Prancis 322, Australia 314, Belanda 298, Rusia 251, dan Jepang sekitar 222 fasilitas.

Dominasi Amerika Serikat tidak terlepas dari keberadaan perusahaan teknologi raksasa seperti Amazon, Microsoft, Google, Meta, dan Oracle yang menjadikan negara tersebut sebagai basis pengembangan infrastruktur digital global.

Selain memiliki pasar teknologi yang besar, Amerika Serikat juga didukung infrastruktur telekomunikasi, jaringan internet, ketersediaan modal, industri perangkat keras, serta sistem kelistrikan yang mampu menopang fasilitas komputasi berskala besar.

Data center di negara tersebut tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat domestik, tetapi juga menjadi bagian dari jaringan layanan digital yang digunakan perusahaan dan masyarakat di berbagai negara.

Meski demikian, jumlah fasilitas tidak selalu mencerminkan besarnya kapasitas. China, misalnya, memiliki kapasitas pusat data yang sangat besar meskipun jumlah fasilitasnya dalam sejumlah direktori lebih sedikit dibandingkan Amerika Serikat.

Artinya, persaingan industri ini tidak cukup diukur dari jumlah gedung, tetapi juga kapasitas listrik, kemampuan komputasi, luas kawasan dan teknologi yang digunakan.

Industri Data Center Sudah Berkembang Sejak Puluhan Tahun Lalu

Data center sebenarnya bukan teknologi baru yang muncul setelah berkembangnya kecerdasan buatan.

Industri ini memiliki sejarah panjang sejak era komputer mainframe pada 1940-an hingga 1950-an. Pada masa itu, komputer berukuran sangat besar digunakan untuk kebutuhan militer, pemerintahan, penelitian, dan pengolahan data perusahaan.

Memasuki 1960-an dan 1970-an, perusahaan perbankan, lembaga keuangan, serta perusahaan besar mulai memiliki ruang komputer khusus untuk memproses transaksi dan menyimpan informasi.

Perkembangan internet pada 1980-an hingga 1990-an kemudian mengubah kebutuhan tersebut. Perusahaan mulai membangun fasilitas server yang terhubung dengan jaringan internet. Pada periode ini pula berkembang bisnis penyewaan ruang server atau colocation.

Perubahan besar terjadi pada 2000-an ketika perusahaan seperti Google, Amazon, dan Microsoft mulai mengembangkan infrastruktur komputasi berskala besar.

Kehadiran layanan cloud computing membuat perusahaan tidak lagi harus memiliki seluruh perangkat komputer dan server sendiri. Mereka cukup menyewa kapasitas komputasi dan penyimpanan dari penyedia layanan.

Perkembangan tersebut membuat data center berubah menjadi industri tersendiri yang bernilai sangat besar.

Dalam satu dekade terakhir, kebutuhan semakin meningkat seiring berkembangnya layanan streaming, media sosial, perdagangan elektronik, perbankan digital, dan aplikasi berbasis internet.

Kini, kemunculan AI generatif kembali mendorong kebutuhan baru. Teknologi tersebut membutuhkan perangkat komputasi berkemampuan tinggi, terutama GPU, yang memerlukan pasokan listrik dan sistem pendinginan lebih besar.

Equinix dan Digital Realty, Raksasa Bisnis Penyewaan Data Center

Di balik perkembangan industri ini terdapat perusahaan-perusahaan yang secara khusus membangun dan mengoperasikan data center untuk disewakan kepada pelanggan. Dua nama besar dalam bisnis tersebut adalah Equinix dan Digital Realty.

Equinix merupakan perusahaan asal Amerika Serikat yang berdiri pada 1998. Perusahaan ini mengoperasikan jaringan data center internasional yang melayani perusahaan teknologi, perbankan, telekomunikasi, penyedia layanan cloud, hingga perusahaan multinasional.

Pada akhir 2025, Equinix memiliki sekitar 280 data center di 77 pasar dan melayani lebih dari 10.500 pelanggan. Pendapatan perusahaan pada 2025 mencapai sekitar 9,2 miliar dolar AS.

Sementara itu, Digital Realty merupakan perusahaan yang berdiri pada 2004 dan juga berbasis di Amerika Serikat.

Pada akhir 2025, perusahaan ini memiliki sekitar 310 data center dalam portofolionya, termasuk fasilitas dalam perusahaan patungan. Digital Realty melayani lebih dari 5.000 pelanggan dan memiliki kapasitas teknologi informasi terpasang sekitar 2,9 gigawatt.

Kedua perusahaan tersebut menjalankan bisnis dengan menyewakan fasilitas fisik kepada pelanggan.

Perusahaan yang menjadi pelanggan tidak harus membangun gedung sendiri. Mereka bisa menyewa ruang server, pasokan listrik, pendinginan, koneksi jaringan, serta sistem keamanan dari operator data center.

Model bisnis tersebut menghasilkan pendapatan berulang karena pelanggan umumnya menggunakan fasilitas dalam kontrak jangka panjang.

Sementara itu, perusahaan seperti Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, dan Google Cloud memiliki model bisnis yang lebih luas.

Mereka tidak hanya menyediakan fasilitas fisik, tetapi juga menjual layanan komputasi, penyimpanan data, database, kecerdasan buatan, dan berbagai layanan digital lainnya.

AWS, misalnya, merupakan salah satu penyedia layanan cloud terbesar di dunia. Pada 2025, pendapatan AWS mencapai sekitar 128,7 miliar dolar AS.

Baca Juga :  The Latest News in R&B Music: A Look at Super Bowl Performances, New Albums, Rising Stars, and Tribute to Aaliyah

Microsoft Cloud mencatat pendapatan sekitar 168,9 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2025. Namun, angka tersebut mencakup berbagai produk cloud Microsoft dan bukan pendapatan Azure semata.

Google Cloud juga mencatat pendapatan sekitar 58,7 miliar dolar AS pada 2025.

Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi bisnis infrastruktur digital. Namun, pendapatan perusahaan cloud tidak bisa disamakan langsung dengan pendapatan operator gedung data center karena sumber bisnis dan cakupannya berbeda.

Data Center Terbesar Bisa Memiliki Kapasitas Ratusan Megawatt hingga Gigawatt

Persaingan pembangunan data center kini tidak lagi sebatas mendirikan satu gedung berisi ribuan server.

Perusahaan teknologi mulai membangun kampus data center atau kawasan yang terdiri dari sejumlah gedung, gardu listrik, sistem pendinginan, jaringan komunikasi dan fasilitas pendukung lainnya. Salah satu contoh adalah Switch Citadel Campus di Nevada, Amerika Serikat.

Kampus data center yang dioperasikan Switch tersebut memiliki kawasan sekitar 2.000 acre atau setara 809 hektare. Rancangannya mencakup luas bangunan hingga sekitar 7,2 juta kaki persegi dengan kapasitas listrik yang direncanakan mencapai 650 megawatt.

Switch merupakan operator data center yang diakuisisi pada 2022 oleh Digital bridge bersama IFM Investors.

Kapasitas 650 MW tersebut menggambarkan skala kebutuhan energi yang sangat besar. Sebagai gambaran, satu megawatt setara dengan 1.000 kilowatt.

Dengan demikian, fasilitas berkapasitas 650 MW memiliki kebutuhan daya yang secara teoritis setara dengan 650.000 kilowatt ketika seluruh kapasitas tersebut digunakan. Namun, angka kapasitas rancangan tidak selalu berarti seluruh daya listrik digunakan setiap saat.

Skala yang lebih besar bahkan sedang dikembangkan oleh Meta melalui proyek Hyperion di Louisiana, Amerika Serikat.

Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga sekitar 5 gigawatt atau 5.000 megawatt dengan nilai investasi yang diberitakan mencapai sekitar 50 miliar dolar AS.

Kapasitas tersebut menunjukkan bagaimana kebutuhan komputasi AI telah mengubah skala pembangunan infrastruktur digital. Meski begitu, Hyperion merupakan proyek pengembangan, bukan fasilitas yang seluruh kapasitasnya sudah beroperasi.

Perbedaan antara kapasitas yang direncanakan, kapasitas terpasang, dan kapasitas yang benar-benar digunakan penting diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan dalam membandingkan fasilitas data center.

Mengapa Perusahaan Mau Menginvestasikan Dana Sangat Besar?

Pembangunan data center membutuhkan modal yang tidak sedikit. Perusahaan harus menyiapkan lahan, bangunan, perangkat server, sistem kelistrikan, jaringan komunikasi, pendingin, keamanan dan berbagai fasilitas cadangan.

Belum lagi biaya operasional yang harus dikeluarkan selama fasilitas tersebut beroperasi. Lantas, mengapa perusahaan tetap berlomba membangun infrastruktur tersebut Jawabannya adalah permintaan layanan digital yang terus meningkat.

Hampir seluruh aktivitas ekonomi modern kini bergantung pada pengolahan data. Perbankan membutuhkan data center untuk memproses transaksi, perusahaan perdagangan elektronik menggunakannya untuk mengelola pesanan, sedangkan perusahaan media sosial membutuhkan kapasitas komputasi untuk melayani miliaran pengguna.

Begitu pula layanan AI yang memerlukan kemampuan komputasi jauh lebih besar dibandingkan aplikasi konvensional.

Perusahaan yang memiliki infrastruktur sendiri dapat mengendalikan kapasitas, keamanan dan biaya layanan dalam jangka panjang.

Bagi operator colocation, keuntungan diperoleh melalui penyewaan fasilitas kepada banyak pelanggan sekaligus.

Sementara perusahaan cloud mendapatkan pendapatan dari penggunaan kapasitas komputasi oleh pelanggan. Dengan demikian, data center bukan sekadar investasi bangunan, melainkan aset produktif yang dapat menghasilkan pendapatan selama bertahun-tahun.

Kontribusinya terhadap Ekonomi Negara Bisa Mencapai Ratusan Miliar Dolar

Besarnya industri data center tidak hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan pemiliknya. Aktivitas pembangunan dan operasionalnya juga menciptakan dampak ekonomi terhadap negara tempat fasilitas tersebut berada. Amerika Serikat menjadi salah satu contoh yang menunjukkan besarnya kontribusi tersebut.

Studi PwC yang dilakukan atas permintaan Data Center Coalition memperkirakan industri data center memberikan kontribusi sekitar 926,9 miliar dolar AS terhadap produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat pada 2024.

Industri tersebut juga mendukung sekitar 5,5 juta lapangan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, serta menghasilkan kontribusi pajak sekitar 204,4 miliar dolar AS.

Angka tersebut tidak seluruhnya berasal dari perusahaan pemilik data center. Perhitungannya mencakup dampak langsung, tidak langsung, dan dampak lanjutan dari aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan industri tersebut.

Pembangunan fasilitas membutuhkan perusahaan konstruksi, pemasok baja, semen, kabel, perangkat elektronik, sistem pendingin, hingga tenaga kerja teknis.

Ketika fasilitas mulai beroperasi, kebutuhan terhadap listrik, telekomunikasi, pemeliharaan, keamanan, dan berbagai layanan pendukung juga terus berjalan.

Pemerintah memperoleh manfaat melalui pajak perusahaan, pajak properti, pajak tenaga kerja, serta penerimaan lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.

Daerah tempat data center dibangun juga berpotensi memperoleh tambahan aktivitas ekonomi dari kontraktor, pemasok, dan perusahaan pendukung.

Virginia di Amerika Serikat menjadi contoh wilayah yang berkembang sebagai pusat industri data center. Keberadaan fasilitas-fasilitas tersebut telah menciptakan kegiatan ekonomi bernilai besar dan mendukung puluhan ribu pekerjaan.

Namun, kontribusi ekonomi harus dihitung secara hati-hati. Besarnya nilai investasi atau PDB yang dihasilkan tidak otomatis berarti seluruh uang tersebut masuk ke kas pemerintah atau dinikmati masyarakat sekitar.

Indonesia Mulai Menjadi Pasar Penting Industri Data Center

Indonesia juga mulai menjadi salah satu pasar yang diperhitungkan dalam industri pusat data Asia Tenggara.

Pertumbuhan pengguna internet, transaksi digital, perdagangan elektronik, layanan keuangan digital, dan kebutuhan komputasi perusahaan menjadi faktor pendorongnya.

Berdasarkan katalog Megawattlas yang diperbarui pada Oktober 2026, Indonesia tercatat memiliki 216 fasilitas data center. Sebanyak 195 fasilitas berstatus operasional, 14 sedang dalam pembangunan, dan tujuh lainnya masih berupa proyek yang diumumkan.

Baca Juga :  CUDA, Teknologi Tak Kasatmata yang Mengubah NVIDIA Menjadi Raja AI Dunia

Namun, angka tersebut merupakan hasil pendataan dengan metode tersendiri dan tidak dapat langsung dibandingkan dengan data Cloudscene untuk negara lain.

Sejumlah perusahaan yang mengembangkan atau mengoperasikan data center di Indonesia antara lain Equinix, NTT Global Data Centers, BDx Indonesia, Neutra DC milik Telkom Group, serta ST Telemedia Global Data Centres.

Jakarta menjadi salah satu pusat utama karena memiliki konsentrasi perusahaan, perbankan, jaringan telekomunikasi dan pengguna layanan digital yang besar.

Selain Jakarta, Batam juga menjadi kawasan yang menarik bagi investor. Kedekatannya dengan Singapura menjadi salah satu keunggulan karena negara tersebut merupakan pusat konektivitas digital dan data center di Asia Tenggara.

Nongsa Digital Park menjadi salah satu kawasan yang dikembangkan untuk mendukung ekosistem digital, termasuk investasi pusat data.

Bagi Indonesia, peluangnya cukup besar. Selain menjadi pasar pengguna layanan digital, Indonesia juga berpotensi menjadi lokasi penyimpanan dan pengolahan data bagi perusahaan regional.

Namun, kemampuan menarik investasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan lahan. Investor juga mempertimbangkan pasokan listrik, stabilitas jaringan, ketersediaan air, kepastian regulasi, keamanan, dan kemudahan perizinan.

Di Balik Investasi Besar, Ada Persoalan Listrik dan Air

Di sinilah muncul persoalan yang membuat pembangunan data center mulai mendapat perhatian dan bahkan penolakan di sejumlah negara.

Data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil selama 24 jam. Server tidak bisa begitu saja dimatikan ketika terjadi gangguan pasokan listrik karena dapat mengganggu layanan yang digunakan pelanggan.

Selain menjalankan server, listrik juga digunakan untuk sistem pendinginan, pompa, jaringan komunikasi, pencahayaan, dan perangkat keamanan.

Kebutuhan tersebut semakin besar ketika perusahaan mengembangkan fasilitas yang digunakan untuk komputasi AI.

Server AI yang menggunakan GPU dalam jumlah besar menghasilkan panas tinggi. Jika panas tidak segera dibuang, perangkat bisa mengalami penurunan kinerja bahkan kerusakan.

Karena itu, sistem pendinginan menjadi salah satu komponen paling penting dalam operasional data center.

Sebagian fasilitas menggunakan pendinginan udara, sementara fasilitas lain memanfaatkan sistem pendinginan berbasis air.

Pada sistem pendinginan evaporatif, air digunakan untuk membantu membuang panas melalui proses penguapan.

Air tersebut tidak seluruhnya kembali ke sumber semula karena sebagian menguap dalam proses pendinginan.

Kebutuhan air bisa menjadi persoalan serius ketika data center dibangun di daerah yang mengalami keterbatasan pasokan air atau bersaing dengan kebutuhan rumah tangga dan pertanian. Sementara itu, kebutuhan listrik juga dapat menimbulkan tekanan terhadap jaringan energi daerah.

Jika pembangunan data center tidak diikuti penambahan kapasitas pembangkit dan jaringan transmisi, fasilitas tersebut berpotensi bersaing dengan kebutuhan listrik masyarakat maupun industri lainnya.

Persoalan ini memperlihatkan bahwa investasi data center tidak cukup dinilai dari nilai modal yang masuk. Pemerintah juga harus menghitung biaya tambahan yang muncul akibat kebutuhan energi, air, dan infrastruktur pendukung.

Bisakah Data Center Menggunakan Air Laut?

Salah satu alternatif yang sering dibicarakan adalah pemanfaatan air laut untuk pendinginan.

Secara teknis, penggunaan air laut memungkinkan dilakukan melalui sistem pendinginan tertentu. Namun, air laut tidak bisa langsung digunakan pada seluruh sistem pendinginan karena kandungan garam dapat menyebabkan korosi pada pipa dan peralatan.

Karena itu, diperlukan material khusus, sistem penukar panas, serta pengaturan agar air laut tidak bersentuhan langsung dengan komponen sensitif.

Alternatif lain adalah menggunakan sistem pendinginan sirkulasi tertutup, memanfaatkan air daur ulang, air limbah yang telah diolah, atau teknologi pendinginan yang lebih hemat air.

Beberapa fasilitas juga dapat menggunakan pendinginan udara atau sistem pendinginan cair langsung ke perangkat server.

Namun, setiap teknologi memiliki konsekuensi tersendiri. Pendinginan udara misalnya, dapat mengurangi penggunaan air di lokasi, tetapi belum tentu menurunkan kebutuhan energi secara keseluruhan.

Artinya, solusi tidak bisa hanya berfokus pada pengurangan konsumsi air. Efisiensi energi dan dampak lingkungan secara keseluruhan juga harus diperhitungkan.

Apakah Manfaat Data Center Sebanding dengan Dampaknya?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting bagi negara yang sedang berlomba menarik investasi pusat data, termasuk Indonesia.

Di satu sisi, data center dapat memberikan manfaat ekonomi melalui investasi, pajak, lapangan kerja dan perkembangan industri

Data Center Bukan Sekadar Gedung Server, tetapi Infrastruktur Ekonomi Masa Depan

Perkembangan industri data center menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki tahap baru dalam pembangunan ekonomi digital.

Amerika Serikat, China, dan sejumlah negara maju telah menjadikan infrastruktur ini sebagai bagian penting dari strategi ekonomi dan teknologi.

Perusahaan seperti Amazon, Microsoft, Google, Equinix, dan Digital Realty menginvestasikan dana sangat besar karena melihat kebutuhan komputasi dan penyimpanan data akan terus meningkat.

Bagi Indonesia, peluang tersebut terbuka lebar. Pertumbuhan ekonomi digital dan posisi geografis yang strategis dapat menjadi modal untuk menarik investasi.

Namun, pemerintah perlu berhati-hati agar tidak hanya berlomba mendatangkan perusahaan dan mengumumkan nilai investasi.

Hal yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap fasilitas data center memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional, menciptakan pekerjaan berkualitas, membayar pajak secara proporsional, dan tidak mengganggu kebutuhan dasar masyarakat.

Sebab, data center memang menjadi infrastruktur penting bagi masa depan ekonomi digital. Tetapi, keberhasilan sebuah investasi tidak seharusnya hanya diukur dari besarnya gedung, kapasitas server, atau nilai modal yang ditanamkan.

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar manfaat yang diterima negara dan masyarakat dibandingkan dengan sumber daya yang harus dikeluarkan untuk menopangnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Data Center Membutuhkan Air dalam Jumlah Besar? Ini Cara Kerja, Risiko dan Alternatif Pendinginnya
Ledakan AI Menguras Air, Mengapa Pembangunan Data Center Mulai Ditolak di Berbagai Negara?
AI Mulai Saling Berkomunikasi, Apakah Manusia Masih Memegang Kendali?
Perkembangan Teknologi Maritim Listrik, Dari Prototipe Menuju Komersialisasi
Senjata yang Mengubah Peradaban Manusia, Dari Tombak Batu hingga Meriam
10 Kota dengan Jaringan Lampu Lalu Lintas Terbanyak di Dunia
Tanah Jarang Bukan Tanah, Tapi Mineral Langka yang Menguasai Teknologi Dunia
Antimateri Kini Bisa Dipindahkan, Mengapa Ilmuwan Membawa Antiproton Keluar dari CERN?

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 06:20 WIB

Data Center Jadi Bisnis Triliunan Dolar, Siapa yang Paling Diuntungkan dan Apa Dampaknya bagi Negara?

Senin, 2 November 2026 - 06:10 WIB

Mengapa Data Center Membutuhkan Air dalam Jumlah Besar? Ini Cara Kerja, Risiko dan Alternatif Pendinginnya

Minggu, 1 November 2026 - 06:10 WIB

Ledakan AI Menguras Air, Mengapa Pembangunan Data Center Mulai Ditolak di Berbagai Negara?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:11 WIB

AI Mulai Saling Berkomunikasi, Apakah Manusia Masih Memegang Kendali?

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Perkembangan Teknologi Maritim Listrik, Dari Prototipe Menuju Komersialisasi

Berita Terbaru