KANAL KOTA — Di halaman Perpustakaan Daerah Kota Pekalongan, sejumlah siswa sekolah dasar berjalan dari satu stan ke stan lain sambil memegang daftar buku yang ingin mereka beli. Bagi sebagian dari mereka, kunjungan ke Festival Literasi Kota Pekalongan 2026 bukan sekadar kegiatan belajar di luar kelas, melainkan kesempatan pertama mengenal lebih dekat dunia buku dan perpustakaan.
Salah satunya Fatih, siswa kelas IV SD Negeri Medono 07. Bersama guru dan teman-temannya, ia datang ke lokasi festival yang berlangsung 5–11 Oktober 2026. Ia mengaku tertarik pada stan pameran buku karena harganya terjangkau.
“Sudah, mau beli buku-buku di pameran buku murah. Senang,” ujarnya, Senin (5/10/2026).
Kehadiran pelajar seperti Fatih menjadi sinyal bahwa festival ini berhasil menjangkau kelompok yang menjadi sasaran utama penguatan literasi: generasi muda. Pihak penyelenggara bahkan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk menjadwalkan kunjungan sekolah ke lokasi kegiatan.
Festival yang digelar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kota Pekalongan ini menampilkan 33 stan. Sebanyak 13 stan di antaranya khusus menyediakan pameran buku, sementara sisanya berisi pelatihan, lomba, kegiatan edukatif, kuliner serta produk UMKM.
Kombinasi tersebut sengaja dirancang agar suasana festival tidak terasa kaku. Pengunjung dapat mencari buku, mengikuti pelatihan, menikmati kuliner, sekaligus melihat karya dan usaha lokal dalam satu area.
Bagi Dinarpus, pameran buku murah bukan hanya sarana berbelanja. Ia juga menjadi pintu masuk bagi masyarakat yang selama ini belum terbiasa mendatangi perpustakaan untuk mulai mengenal layanan dan koleksi yang tersedia.
“Kami ingin mengenalkan perpustakaan kepada masyarakat yang selama ini mungkin belum mengetahui keberadaannya,” kata Kepala Dinarpus Kota Pekalongan, Gufron Faza.
Di balik keseruan stan dan aktivitas pelajar, pesan utama festival sebenarnya lebih luas: literasi kini tidak cukup diukur dari jumlah buku yang dibaca. Masyarakat juga dituntut mampu menyaring informasi yang beredar di media sosial dan platform digital.
Wali Kota Pekalongan, H. Afzan Arslan Djunaid, yang akrab disapa Aaf, menyoroti hal itu saat membuka kegiatan. Ia mengingatkan bahwa membaca hanya judul berita atau unggahan tanpa memahami isi secara utuh berisiko membuat seseorang mudah menerima maupun menyebarkan informasi keliru.
“Mari bersama-sama kita tingkatkan literasi di Kota Pekalongan, mudah-mudahan tingkat literasi kita semakin naik dan meningkat,” ujar Aaf.
Bagi pemerintah kota, penguatan literasi juga terkait erat dengan pembangunan sumber daya manusia. Program seperti pengentasan buta huruf, sekolah lansia, fasilitasi anak putus sekolah, dan pendidikan nonformal bagi anak berkebutuhan khusus menjadi bagian dari upaya memperluas akses belajar bagi semua warga.
“Intinya kita membangun SDM dan ingin menyetarakan hak semua warga, terutama anak berkebutuhan khusus,” terang Aaf.
Bunda Literasi Kota Pekalongan, Inggit Soraya, menilai pemilihan Perpustakaan Daerah sebagai lokasi festival memberi nilai tambah. Selain menghemat biaya, langkah itu membuat masyarakat lebih akrab dengan fasilitas publik yang kerap dianggap hanya tempat meminjam buku.
Ia berharap festival tidak berhenti sebagai acara tujuh hari. Evaluasi dan pendataan perpustakaan, khususnya di sekolah, perlu terus diperkuat agar aktivitas literasi masyarakat terdokumentasi dan dapat menjadi dasar peningkatan indeks literasi kota.
Gufron menambahkan bahwa penguatan literasi tidak cukup bergantung pada satu perpustakaan pusat. Ia mendorong pemberdayaan perpustakaan di kelurahan, sekolah, komunitas, hingga masjid agar akses bacaan semakin dekat dengan kehidupan warga.
“Melalui Festival Literasi 2026, kami berharap minat baca dan kecakapan literasi masyarakat semakin tumbuh,” tuturnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












