KANAL OTOMOTIF – Motor sport listrik mulai memasuki babak baru. Jika sebelumnya kendaraan listrik roda dua lebih banyak identik dengan skuter perkotaan, kini sejumlah pabrikan dunia mulai mengembangkan sepeda motor listrik dengan desain agresif, tenaga besar dan teknologi yang mendekati karakter motor sport bermesin bensin.
Yamaha, Honda dan Kawasaki menjadi tiga nama besar yang menarik perhatian. Di luar pabrikan Jepang, perusahaan seperti Verge juga mengembangkan motor listrik berperforma tinggi dengan teknologi yang berbeda dari motor konvensional.
Namun, tidak semua motor yang ramai diperbincangkan sudah siap dipasarkan. Sebagian masih berupa prototipe, konsep atau pengembangan teknologi. Karena itu, spesifikasi, perkiraan harga dan jadwal peluncurannya perlu dibedakan antara informasi resmi dan prediksi.
Berikut ulasan lima motor listrik yang menarik untuk dipantau, mulai dari teknologi, performa, perkembangan terbaru hingga kemungkinan waktu pemasarannya.
1. Yamaha Proto BEV, Calon Motor Sport Listrik Penerus DNA YZF-R
Dari lima model yang dibahas, Yamaha Proto BEV menjadi salah satu yang paling menarik bagi penggemar motor sport. Alasannya, Yamaha tidak sekadar mengembangkan motor listrik untuk kebutuhan transportasi harian, tetapi mulai menunjukkan keseriusan menggarap motor listrik dengan karakter sport.
Yamaha memperlihatkan Proto BEV dalam ajang Tokyo Mobility Show 2025. Motor tersebut merupakan prototipe yang ditujukan untuk penggunaan di lintasan, bukan motor produksi massal yang sudah siap dijual.
Perkembangan berikutnya muncul pada Juni 2026. Yamaha diketahui mengembangkan desain motor sport listrik untuk penggunaan jalan raya. Hal tersebut terungkap melalui dokumen paten yang memperlihatkan rancangan motor dengan sejumlah kemiripan terhadap Proto BEV. Bahkan, proporsi motor dalam gambar paten tersebut disebut mendekati Yamaha YZF-R7.
Salah satu bagian menarik dari pengembangan motor ini adalah penggunaan baterai berukuran besar yang ditempatkan di tengah rangka. Rangka model balok atau beam-style frame mengelilingi baterai, sehingga baterai sekaligus menjadi bagian penting dalam konstruksi kendaraan.
Beberapa teknologi yang teridentifikasi dalam dokumen pengembangan antara lain motor listrik dengan sistem penggerak langsung, baterai berkapasitas besar, sistem pengereman ABS, serta konektor pengisian AC Type 2.
Dukungan pengisian AC hingga 7,4 kW satu fase dan 22 kW tiga fase juga menjadi bagian menarik dari rancangan tersebut. Jika diterapkan pada produk akhir, teknologi ini memungkinkan pengisian lebih cepat dibandingkan pengisi daya rumah biasa.
Bagaimana dengan tenaga dan kecepatan?
Sampai November 2026, Yamaha belum mengumumkan spesifikasi final motor produksi massalnya. Belum ada angka resmi mengenai kapasitas baterai, tenaga motor, torsi, kecepatan maksimum, maupun jarak tempuh.
Karena itu, belum tepat menyebut motor ini memiliki tenaga tertentu atau menyamakannya dengan YZF-R7 bermesin bensin.
Yamaha juga belum mengumumkan harga maupun jadwal peluncuran. Jika nantinya dipasarkan sebagai motor sport listrik kelas menengah-premium, harga Rp150 juta hingga Rp250 juta bisa menjadi gambaran spekulatif. Angka tersebut bukan harga resmi atau bocoran dealer.
Untuk waktu peluncuran, belum ada kepastian apakah motor ini akan masuk produksi pada 2027 atau setelahnya. Paten menunjukkan pengembangan masih berjalan, bukan konfirmasi bahwa peluncuran sudah dekat.
Yamaha memiliki pengalaman panjang mengembangkan motor sport, mulai dari R15, R3, R7 hingga R1. Jika pengalaman tersebut diterapkan pada motor listrik, Yamaha berpeluang menghadirkan motor dengan pengendalian dan karakter berkendara yang lebih dekat dengan ekspektasi penggemar sportbike.
2. Honda WN7, Motor Listrik Besar Honda yang Sudah Memasuki Pasar
Berbeda dengan Yamaha yang masih mengembangkan calon motor sport listriknya, Honda sudah mengambil langkah lebih konkret melalui WN7.
Motor ini diperkenalkan secara resmi pada 4 November 2025 dalam pameran EICMA di Milan, Italia. Honda WN7 merupakan motor listrik kategori naked bike yang dikembangkan dengan konsep Be the Wind.
WN7 juga menjadi tonggak penting karena merupakan motor listrik berukuran besar pertama Honda yang masuk kategori FUN.
Dari sisi spesifikasi, Honda WN7 dibekali motor listrik berpendingin cairan dengan tenaga maksimum 50 kW atau sekitar 67 hp dan torsi maksimum 100 Nm.
Motor ini menggunakan baterai lithium-ion berkapasitas 9,3 kWh dengan jarak tempuh klaim sekitar 140 kilometer. Kecepatan maksimumnya mencapai 129 km/jam, sedangkan akselerasi 0–50 km/jam diklaim sekitar 3,9 detik.
Sistem transmisi menggunakan gearbox dengan penggerak sabuk atau belt drive. Untuk pengisian daya, Honda menyediakan konektor CCS2 dan Type 2. Pengisian cepat dari 20 hingga 80 persen membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
Salah satu hal paling menarik dari Honda WN7 adalah konstruksi rangkanya. Honda menghilangkan rangka konvensional dan memanfaatkan struktur rumah baterai sebagai bagian utama konstruksi kendaraan. Pendekatan ini memungkinkan penempatan komponen lebih ringkas sekaligus membantu pemusatan bobot.
Motor listrik dan inverter juga dibuat dalam satu unit terintegrasi. Sementara sistem penggerak menggunakan sabuk, bukan rantai seperti kebanyakan motor sport konvensional.
Untuk keselamatan, WN7 dilengkapi ABS dua kanal dengan IMU. Dari sisi harga, Honda sudah mengumumkan harga resmi untuk pasar Inggris sebesar 12.999 pound sterling. Jika dikonversikan secara kasar, nilainya sekitar Rp280 juta hingga Rp290 juta, sebelum memperhitungkan pajak impor, biaya distribusi, dan kebijakan harga di Indonesia.
Motor ini dijadwalkan mulai diproduksi pada akhir 2025, dengan pengiriman pertama ke dealer pada awal 2026. Artinya, pada November 2026 WN7 bukan lagi sekadar konsep yang ditunggu, tetapi sudah memasuki fase pemasaran di sejumlah negara. Namun, belum ada kepastian harga dan jadwal penjualan resmi di Indonesia.
3. Kawasaki Ninja e-1 dan Kemungkinan Ninja Listrik Berperforma Tinggi
Nama Ninja merupakan salah satu identitas paling kuat di dunia motor sport. Karena itu, setiap kabar mengenai pengembangan motor listrik Kawasaki selalu menarik perhatian penggemarnya. Namun, perlu dibedakan antara Ninja e-1 yang sudah dipasarkan dan harapan penggemar terhadap superbike listrik yang benar-benar setara dengan Ninja ZX-6R atau ZX-10R.
Sampai November 2026, Kawasaki belum mengumumkan superbike listrik berperforma tinggi dengan spesifikasi setara kedua model tersebut. Produk yang paling konkret justru Ninja e-1.
Kawasaki menawarkan motor ini dengan karakter sport ringan untuk penggunaan perkotaan. Motor tersebut menggunakan penggerak listrik tanpa sikat atau brushless, dua baterai yang dapat dilepas, serta mode berkendara ROAD dan ECO.
Tersedia pula fitur e-boost untuk tambahan tenaga sementara dan WALK Mode dengan fungsi mundur. Panel instrumennya menggunakan TFT berwarna yang mendukung konektivitas smartphone.
Ninja e-1 juga dilengkapi ABS dan pengoperasian tanpa kopling. Meski menggunakan desain fairing khas keluarga Ninja, performanya belum menyamai motor sport bensin kelas 250 cc.
Kehadiran model 2027 memperlihatkan Kawasaki masih mengembangkan pasar motor listrik sport ringan. Namun, apakah akan ada Ninja listrik 600 cc atau 1.000 cc? Inilah yang sebenarnya paling dinantikan penggemar.
Bayangkan sebuah Ninja listrik dengan tenaga di atas 100 hp, akselerasi sangat cepat, desain aerodinamis, serta sistem pendinginan baterai yang mampu mempertahankan performa di lintasan. Namun, gambaran tersebut masih berupa harapan dan bukan spesifikasi produk yang sudah diumumkan Kawasaki. Belum ada jadwal peluncuran, harga, atau spesifikasi resmi untuk Ninja listrik kelas menengah maupun superbike.
Untuk harga, Verge TS Pro dibanderol mulai 29.900 dolar AS untuk pasar yang dilayani perusahaan. Dengan asumsi kurs Rp16.500 hingga Rp17.000 per dolar AS, harganya setara sekitar Rp493 juta hingga Rp508 juta. Harga tersebut belum termasuk pajak, pengiriman, dan biaya impor.
Menurut informasi perusahaan, perkiraan pengiriman TS Pro berbeda menurut wilayah. Eropa dan Amerika Serikat dijadwalkan menerima pengiriman pada kuartal IV 2026, sedangkan Inggris dan wilayah lainnya pada kuartal IV 2027. Artinya, konsumen di Asia, termasuk Indonesia, belum memiliki kepastian waktu penerimaan unit.
Verge TS Pro menunjukkan bahwa motor listrik berperforma tinggi sudah bukan sekadar gagasan masa depan. Kendaraan dengan tenaga lebih dari 130 hp dan teknologi pengisian cepat sudah mulai ditawarkan secara komersial. Namun, harga tersebut bukan berarti seluruh varian akan tersedia dengan harga yang sama. Edisi dan konfigurasi berikutnya memiliki ketentuan harga tersendiri.
Radian mengumumkan pengiriman pertama mulai kuartal IV 2027 di sejumlah pasar Eropa, terutama Belanda, Belgia dan Jerman. Motor ini juga dikembangkan dengan homologasi jalan raya untuk pasar Uni Eropa.
Kehadiran Radian EXR memperlihatkan bahwa pengembangan motor listrik berperforma tinggi tidak hanya menyasar jalan raya, tetapi juga kompetisi balap dan olahraga off-road. Bagi penggemar motor sport, suara mesin, perpindahan gigi, getaran, serta karakter tenaga merupakan bagian dari pengalaman berkendara.
Motor listrik memiliki karakter berbeda karena mampu menghasilkan torsi secara instan dan tidak memerlukan perpindahan gigi konvensional. Pertanyaannya bukan hanya seberapa cepat motor listrik bisa melaju, tetapi apakah teknologi tersebut mampu memberikan pengalaman berkendara yang sama menariknya bagi penggemar motor sport.
Di sisi lain, Verge menunjukkan bahwa motor listrik berperforma lebih dari 100 hp sudah bisa ditawarkan ke pasar. Radian memperlihatkan potensi lain melalui teknologi baterai yang dapat ditukar untuk kompetisi off-road.
Pada akhirnya, persaingan ini bukan hanya soal siapa yang mampu membuat motor listrik paling cepat. Tantangan sebenarnya adalah menghadirkan kendaraan yang ringan, bertenaga, memiliki jarak tempuh memadai, mudah diisi ulang dan tetap memberikan sensasi berkendara yang dicari penggemar motor sport.
Jika Yamaha dan Kawasaki benar-benar meluncurkan motor sport listrik berperforma tinggi, persaingan industri sepeda motor dunia berpotensi memasuki babak yang jauh berbeda.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












