Perkembangan Teknologi Maritim Listrik, Dari Prototipe Menuju Komersialisasi

- Jurnalis

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 06:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kapal Feri listrik berukuran besar mulai dioperasikan oleh sejumlah negara menandai perkembangan teknologi maritim. Foto: Ilustrasi AI

Kapal Feri listrik berukuran besar mulai dioperasikan oleh sejumlah negara menandai perkembangan teknologi maritim. Foto: Ilustrasi AI

KANAL TEKNOLOGI – Teknologi maritim listrik telah memasuki tahap komersialisasi nyata. Yang semula hanya berupa kapal demonstrasi berukuran kecil kini berkembang menjadi feri besar, kapal penumpang, kapal pelabuhan, tugboat hingga konsep kapal kontainer listrik. Per Oktober 2026, armada komersial dunia yang menggunakan sistem baterai telah beroperasi dan pemesanan dilaporkan telah melampaui 2.000 kapal, dengan total kapasitas baterai sekitar 2,4 GWh.

Perkembangan ini tidak berarti seluruh kapal di dunia akan segera beralih ke listrik penuh. Pada praktiknya, elektrifikasi maritim masih terbagi menjadi dua jalur utama, yakni kapal listrik penuh untuk rute pendek dan kapal hibrida baterai untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar pada pelayaran lebih panjang. Sekitar 68 persen armada elektrifikasi komersial yang tercatat masih berbentuk kapal hibrida baterai.

Dari prototipe ke kapal komersial

Tahap awal elektrifikasi maritim banyak dimulai dari kapal kecil, feri sungai dan kapal operasional pelabuhan. Alasannya sederhana, kapal-kapal tersebut berlayar dalam jarak pendek, memiliki pola operasi terjadwal dan dapat mengisi ulang baterai secara rutin di dermaga. Motor listrik juga menghasilkan emisi nol saat beroperasi, suara lebih rendah, getaran lebih kecil, serta kebutuhan perawatan mesin yang lebih sederhana dibanding mesin diesel konvensional.

Seiring menurunnya biaya baterai dan meningkatnya kepadatan energi, pengembangan naik ke kapal yang lebih besar. Feri penyeberangan menjadi segmen pertama yang paling cepat mengadopsi teknologi ini karena rutenya relatif pendek dan frekuensi pelayarannya tinggi. Setelah itu, teknologi mulai diuji pada kapal lepas pantai, kapal perikanan, kapal kargo regional dan akhirnya kapal kontainer.

Contoh paling menonjol dari lompatan ini adalah China Zorrilla, feri listrik penuh terbesar dunia yang dibangun oleh Incat Tasmania untuk operator Buquebus. Kapal ini telah memasuki layanan komersial pada Oktober 2026 di rute Buenos Aires, Argentina, menuju Colonia del Sacramento, Uruguay.

China Zorrilla sebagai patokan baru

China Zorrilla menunjukkan bahwa kapal listrik kini mampu beroperasi bukan hanya sebagai proyek uji coba, melainkan sebagai sarana transportasi publik skala besar. Kapal ini adalah katamaran aluminium dengan panjang 130 meter dan lebar sekitar 32 meter. Ia dirancang untuk mengangkut hingga 2.100 penumpang serta 225 kendaraan dalam satu pelayaran.

Sumber tenaganya berasal dari sistem baterai lithium-ion Corvus Energy dengan kapasitas lebih dari 40 MWh. Berat total baterai tersebut mencapai lebih dari 250 ton. Energi ini digunakan untuk menggerakkan delapan waterjet listrik, sehingga kapal dapat berlayar hingga kecepatan sekitar 25 knot atau 46 km per jam.

Jarak jelajah China Zorrilla mencapai sekitar 55 km atau 30 mil laut dalam sekali pengisian. Jarak tersebut memang terbatas, tetapi cukup untuk rute Buenos Aires–Colonia yang juga berjarak sekitar 55 km. Kapal ini mampu melakukan hingga enam kali pelayaran sehari, dengan waktu pengisian ulang sekitar 40 menit.

Baca Juga :  Tanah Jarang Bukan Tanah, Tapi Mineral Langka yang Menguasai Teknologi Dunia

Kapasitas baterai lebih dari 40 MWh pada kapal ini setara dengan kebutuhan energi lebih dari 850 mobil listrik. Angka tersebut menggambarkan betapa besar tantangan elektrifikasi maritim dibanding kendaraan darat: kapal harus menggerakkan ribuan ton berat melalui air, melawan hambatan gelombang, dan tetap menjaga kecepatan komersial.

Negara-negara terdepan

Norwegia menjadi salah satu pelopor elektrifikasi feri. Negara ini memiliki banyak rute fjord yang pendek, kebijakan dekarbonisasi kuat serta ekosistem industri baterai maritim yang matang. Corvus Energy, penyedia sistem baterai untuk China Zorrilla, juga berbasis di Norwegia. Hal ini menunjukkan bahwa Norwegia tidak hanya mengadopsi kapal listrik, tetapi juga berperan dalam pengembangan teknologinya.

Tiongkok berpotensi menjadi pemimpin global dalam skala armada. Register Maritime Battery Forum mencatat 267 kapal baterai di Tiongkok, tetapi lembaga tersebut menilai jumlah aktualnya jauh lebih besar karena banyak kapal domestik belum sepenuhnya masuk dalam pendataan global.  Kekuatan Tiongkok juga terletak pada industri baterai, termasuk pengembangan baterai sodium-ion yang berpotensi menurunkan biaya kapal listrik di masa depan.

Australia unggul dalam kemampuan membangun kapal listrik besar. Melalui Incat Tasmania, Australia membuktikan bahwa negara ini mampu memproduksi feri listrik penuh sepanjang 130 meter yang telah beroperasi secara komersial di Amerika Latin.

Korea Selatan fokus mendorong elektrifikasi pada sektor kargo. Hanwha Power memperoleh persetujuan konsep dari American Bureau of Shipping untuk desain kapal kontainer listrik berkapasitas 1.700 TEU. Kapal tersebut direncanakan menggunakan sistem baterai sebesar 151 MWh, dengan baterai dikemas dalam bentuk modul mirip kontainer agar lebih mudah dipasang, diganti, atau diperluas.

Eropa tetap menjadi pusat regulasi dan adopsi feri listrik, terutama di Skandinavia dan Eropa Utara. Banyak kapal di kawasan ini memakai sistem hibrida untuk mengurangi emisi saat berada di pelabuhan, menghemat bahan bakar, dan mendukung operasi rendah karbon.

Angka komersialisasi

Komersialisasi kapal baterai telah melampaui batas eksperimen. Maritime Battery Forum mencatat bahwa jumlah kapal komersial berbaterai global telah melewati 2.000 unit, mencakup kapal yang telah beroperasi maupun yang sedang dalam pesanan.

Dari armada yang terdaftar, kapal penumpang merupakan segmen terbesar dengan sekitar 570 kapal. Segmen kapal lepas pantai mencapai 313 unit, sedangkan kapal kargo tercatat 265 unit dan kapal perikanan 219 unit. Angka-angka ini menunjukkan bahwa elektrifikasi tidak lagi terbatas pada feri, tetapi telah menyebar ke berbagai jenis kapal kerja.

Namun, mayoritas kapal tersebut masih menggunakan konfigurasi hibrida. Artinya, baterai berfungsi sebagai penambah efisiensi, penyedia tenaga saat manuver, atau sumber listrik di pelabuhan, sementara mesin konvensional masih dipakai untuk pelayaran utama. Kapal listrik penuh masih terkonsentrasi pada rute pendek, feri, dan wilayah dengan infrastruktur pengisian yang memadai.

Baca Juga :  10 Kota dengan Jaringan Lampu Lalu Lintas Terbanyak di Dunia

Teknologi pendukung

Perkembangan kapal listrik sangat bergantung pada kemajuan baterai. Baterai lithium iron phosphate atau LFP semakin diminati karena stabilitas termalnya baik, siklus hidupnya panjang, dan tingkat keselamatannya relatif lebih tinggi untuk aplikasi maritim.

Baterai sodium-ion juga mulai diperhitungkan sebagai alternatif masa depan. Teknologi ini berpotensi lebih murah karena bahan bakunya lebih melimpah, meskipun kepadatan energinya masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing dengan baterai lithium-ion untuk kapal besar. CATL dan BYD termasuk pelaku utama dalam pengembangan teknologi ini.

Selain baterai, sistem propulsi listrik juga berkembang. China Zorrilla memakai delapan waterjet listrik yang memungkinkan distribusi tenaga lebih efisien dan redundansi keselamatan lebih baik. Sementara itu, konsep kapal kontainer Hanwha memakai sistem energi modular yang dikemas seperti kontainer sehingga memudahkan penggantian dan perawatan.

Infrastruktur pengisian juga menjadi kunci. Feri listrik hanya akan efektif jika pelabuhan menyediakan pengisian berdaya tinggi dalam waktu singkat. Pada China Zorrilla, pengisian sekitar 40 menit sudah cukup untuk mendukung rotasi pelayaran reguler, tetapi kapal kargo atau pelayaran jarak jauh membutuhkan kapasitas pengisian dan manajemen energi yang jauh lebih besar.

Tantangan yang masih ada

Tantangan utama kapal listrik kini bukan lagi soal kelayakan teknis, melainkan biaya dan jangkauan operasional. Kapal besar membutuhkan baterai dengan kapasitas puluhan hingga ratusan MWh, sehingga investasi awalnya sangat tinggi. Desain kapal kontainer Hanwha, misalnya, memerlukan sistem baterai 151 MWh untuk mendukung operasinya.

Jarak jelajah juga masih menjadi keterbatasan. China Zorrilla hanya mampu menempuh sekitar 55 km per pengisian, sehingga sangat cocok untuk feri tetapi belum memadai untuk pelayaran samudra.  Karena itu, kapal hibrida tetap menjadi solusi paling realistis untuk rute menengah dan panjang dalam jangka waktu dekat.

Keselamatan baterai juga menjadi perhatian serius. Kebakaran baterai lithium-ion di laut lebih sulit ditangani dibanding kebakaran pada kendaraan darat karena proses pemadaman dan evakuasi jauh lebih kompleks. Oleh sebab itu, standar sertifikasi, sistem pendinginan, deteksi dini, dan desain kompartemen baterai menjadi bagian penting dari pengembangan kapal listrik.

Peluang bagi Indonesia

Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan kapal listrik pada feri antarpulau, transportasi sungai dan danau, kapal wisata, kapal perikanan, serta kapal penyeberangan jarak pendek. Rute seperti Jawa–Bali, penyeberangan antarpulau kecil, dan transportasi perkotaan berbasis air secara teknis cocok untuk kapal listrik atau hibrida karena jaraknya relatif pendek dan jadwal pelayarannya teratur.

Namun, keberhasilannya memerlukan lebih dari sekadar membeli kapal listrik. Indonesia perlu membangun SPKLU maritim di pelabuhan, menyiapkan standar keselamatan baterai, mendorong industri galangan lokal, serta memastikan listrik yang dipakai berasal dari energi terbarukan. Tanpa listrik bersih di pelabuhan, manfaat lingkungan dari kapal listrik akan berkurang secara signifikan.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Senjata yang Mengubah Peradaban Manusia, Dari Tombak Batu hingga Meriam
10 Kota dengan Jaringan Lampu Lalu Lintas Terbanyak di Dunia
Tanah Jarang Bukan Tanah, Tapi Mineral Langka yang Menguasai Teknologi Dunia
Antimateri Kini Bisa Dipindahkan, Mengapa Ilmuwan Membawa Antiproton Keluar dari CERN?
CUDA, Teknologi Tak Kasatmata yang Mengubah NVIDIA Menjadi Raja AI Dunia
AI Pernah Kalah Debat. Lawannya Bukan Orang Biasa, tapi Pemegang Rekor Dunia
10 Teknologi yang Seharusnya Sudah Ditemukan Manusia, tetapi Belum Terwujud pada 2026
Kapan Manusia Menjadi Spesies Antarbintang? Membaca Masa Depan Peradaban dari Bulan hingga Bintang Lain

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Perkembangan Teknologi Maritim Listrik, Dari Prototipe Menuju Komersialisasi

Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Senjata yang Mengubah Peradaban Manusia, Dari Tombak Batu hingga Meriam

Rabu, 30 September 2026 - 06:10 WIB

10 Kota dengan Jaringan Lampu Lalu Lintas Terbanyak di Dunia

Selasa, 8 September 2026 - 06:10 WIB

Tanah Jarang Bukan Tanah, Tapi Mineral Langka yang Menguasai Teknologi Dunia

Jumat, 4 September 2026 - 06:10 WIB

Antimateri Kini Bisa Dipindahkan, Mengapa Ilmuwan Membawa Antiproton Keluar dari CERN?

Berita Terbaru