Korban Keracunan PMT di Batang Bertambah, 5 Pasien yang Sempat Pulang Kembali Dirawat

- Jurnalis

Rabu, 23 September 2026 - 13:42 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Petugas medis menangani warga yang mengalami gejala dugaan keracunan setelah mengonsumsi PMT Posyandu Mawar di Desa Rowobelang, Kabupaten Batang. Hingga Rabu (23/9/2026), jumlah warga bergejala mencapai 41 orang dan 14 di antaranya menjalani rawat inap. Foto: Ilustrasi AI

Petugas medis menangani warga yang mengalami gejala dugaan keracunan setelah mengonsumsi PMT Posyandu Mawar di Desa Rowobelang, Kabupaten Batang. Hingga Rabu (23/9/2026), jumlah warga bergejala mencapai 41 orang dan 14 di antaranya menjalani rawat inap. Foto: Ilustrasi AI

KANAL BATANG – Kasus dugaan keracunan makanan tambahan (PMT) Posyandu Mawar, Desa Rowobelang, Kecamatan Batang, terus bertambah. Hingga Rabu (23/9/2026) pagi, jumlah warga yang mengalami gejala keracunan mencapai 41 orang.

Dari jumlah tersebut, 14 orang harus menjalani rawat inap di RSUD Batang, sedangkan 27 lainnya masih berstatus rawat jalan.

Kepala Seksi Surveilans, Imunisasi, dan KLB Dinas Kesehatan (Dinkes) Batang, Khairunisa, mengatakan jumlah pasien rawat inap bertambah empat orang dibandingkan data sehari sebelumnya.

“Rincian per tanggal 23 September pagi, terdapat 27 orang berstatus rawat jalan dan 14 orang harus menjalani rawat inap di RSUD Batang. Ada penambahan empat pasien rawat inap dibandingkan hari sebelumnya,” kata Khairunisa.

Dinamika pasien juga terjadi di RSUD Batang. Sejumlah warga yang sebelumnya sempat diperbolehkan pulang ternyata kembali ke rumah sakit karena keluhan belum mereda.

Koordinator Case Manager RSUD Batang, Sri Suparti, mengatakan terdapat enam pasien rawat jalan yang kembali datang untuk mendapatkan pemeriksaan karena masih mengalami muntah dan diare.

“Dari enam orang yang datang ulang itu, satu orang kembali diizinkan rawat jalan, sementara lima orang lainnya kondisinya mengharuskan mereka dialihkan menjadi pasien rawat inap,” ujarnya.

Baca Juga :  Dinkes Batang Sebut 42 Warga Konsumsi PMT, 37 Orang Diduga Keracunan

Dengan demikian, kondisi sebagian pasien masih membutuhkan pemantauan serius, terutama mereka yang mengalami gangguan saluran pencernaan cukup berat.

Data Dinkes Batang menunjukkan diare menjadi keluhan yang paling banyak dialami pasien, yakni 82,9 persen. Disusul sakit perut 75,6 persen, mual 73,2 persen, pusing 65,9 persen, dan muntah 63,4 persen.

Sebagian korban juga mengalami badan lemah, perut melilit, demam hingga sesak napas.

Di tengah bertambahnya jumlah korban, polisi kini mulai mendalami proses pengolahan hingga pembagian makanan PMT yang dikonsumsi warga.

Kasatreskrim Polresta Batang, Kompol Bintoro Thio Pratama, mengatakan penyidik menemukan fakta bahwa makanan berupa bubur kacang hijau telah selesai dimasak sejak pagi.

Padahal, makanan tersebut semestinya diberikan kepada warga pada pagi hari. Namun karena jadwal Posyandu berubah, makanan baru dibagikan pada sore hari.

“Memang seyogianya makanan itu diberikan pada pagi hari. Akan tetapi karena ada satu dua hal, kemudian diberikan sore hari, dan itu yang kemungkinan penyebab salah satu keracunan,” terang Bintoro.

Baca Juga :  Sampah Menumpuk di Dekat Alun-Alun Batang, DLH Akui Tak Bisa Terus Standby 24 Jam

Meski demikian, polisi belum menyimpulkan bahwa jeda waktu tersebut merupakan penyebab pasti keracunan. Pemeriksaan laboratorium masih diperlukan untuk memastikan sumber kontaminasi.

Dinkes Batang telah melakukan investigasi higiene dan sanitasi serta mengirimkan sejumlah spesimen ke laboratorium rujukan.

Tidak hanya bubur kacang hijau, terdapat lima jenis sampel yang diperiksa, yakni bubur kacang hijau, roti tawar, tahu bacem, feses pasien, serta air sumur bor dari rumah Ny E yang menjadi pembuat makanan.

Bintoro mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium forensik terhadap sampel makanan dan muntahan pasien diperkirakan baru dapat diketahui sekitar satu minggu mendatang.

Kasus ini bermula setelah puluhan warga Dukuh Rowosuko, Desa Rowobelang, mengalami mual, pusing hingga diare hebat secara bersamaan setelah menyantap menu PMT pada Senin (21/9/2026) malam.

Pelaksanaan Posyandu dan pembagian PMT yang semula dijadwalkan Senin pagi kemudian diundur hingga sore hari. Penundaan itu terjadi karena adanya warga yang meninggal dunia, sementara makanan PMT telah lebih dahulu dimasak oleh para kader sejak pagi.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Laka di Batang Turun 41 Persen, Tol Masih Jadi Titik Rawan
Di Tengah KITB, Bukit Srawung Jadi Ruang Srawungan Warga Batang
Pemotor Tewas Tabrak Truk Tronton di Jalan Raya KITB Batang
Punya Lintasan Jogging Track Baru, Warga Limpung Tak Lagi Lari di Jalanan
Sopir Lelah dan Mengantuk, Truk Boks Terguling di Jalur Pantura Batang
Bidik Tuan Rumah Porprov Jateng, Batang Siapkan Fasilitas Publik untuk Bangun Budaya Olahraga,
Bus Tunas Muda Terbakar di Tol Batang, 15 Penumpang Selamat
KEK Industropolis Batang Disiapkan Jadi Arena Sprint Rally, Pemkab Bidik Efek Ekonomi dan Sport Tourism

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 13:42 WIB

Korban Keracunan PMT di Batang Bertambah, 5 Pasien yang Sempat Pulang Kembali Dirawat

Senin, 21 September 2026 - 14:52 WIB

Laka di Batang Turun 41 Persen, Tol Masih Jadi Titik Rawan

Senin, 21 September 2026 - 07:03 WIB

Di Tengah KITB, Bukit Srawung Jadi Ruang Srawungan Warga Batang

Minggu, 20 September 2026 - 06:25 WIB

Pemotor Tewas Tabrak Truk Tronton di Jalan Raya KITB Batang

Sabtu, 19 September 2026 - 12:15 WIB

Punya Lintasan Jogging Track Baru, Warga Limpung Tak Lagi Lari di Jalanan

Berita Terbaru