KANAL BATANG – Kasus dugaan keracunan makanan tambahan (PMT) Posyandu Mawar, Desa Rowobelang, Kecamatan Batang, terus bertambah. Hingga Rabu (23/9/2026) pagi, jumlah warga yang mengalami gejala keracunan mencapai 41 orang.
Dari jumlah tersebut, 14 orang harus menjalani rawat inap di RSUD Batang, sedangkan 27 lainnya masih berstatus rawat jalan.
Kepala Seksi Surveilans, Imunisasi, dan KLB Dinas Kesehatan (Dinkes) Batang, Khairunisa, mengatakan jumlah pasien rawat inap bertambah empat orang dibandingkan data sehari sebelumnya.
“Rincian per tanggal 23 September pagi, terdapat 27 orang berstatus rawat jalan dan 14 orang harus menjalani rawat inap di RSUD Batang. Ada penambahan empat pasien rawat inap dibandingkan hari sebelumnya,” kata Khairunisa.
Dinamika pasien juga terjadi di RSUD Batang. Sejumlah warga yang sebelumnya sempat diperbolehkan pulang ternyata kembali ke rumah sakit karena keluhan belum mereda.
Koordinator Case Manager RSUD Batang, Sri Suparti, mengatakan terdapat enam pasien rawat jalan yang kembali datang untuk mendapatkan pemeriksaan karena masih mengalami muntah dan diare.
“Dari enam orang yang datang ulang itu, satu orang kembali diizinkan rawat jalan, sementara lima orang lainnya kondisinya mengharuskan mereka dialihkan menjadi pasien rawat inap,” ujarnya.
Dengan demikian, kondisi sebagian pasien masih membutuhkan pemantauan serius, terutama mereka yang mengalami gangguan saluran pencernaan cukup berat.
Data Dinkes Batang menunjukkan diare menjadi keluhan yang paling banyak dialami pasien, yakni 82,9 persen. Disusul sakit perut 75,6 persen, mual 73,2 persen, pusing 65,9 persen, dan muntah 63,4 persen.
Sebagian korban juga mengalami badan lemah, perut melilit, demam hingga sesak napas.
Di tengah bertambahnya jumlah korban, polisi kini mulai mendalami proses pengolahan hingga pembagian makanan PMT yang dikonsumsi warga.
Kasatreskrim Polresta Batang, Kompol Bintoro Thio Pratama, mengatakan penyidik menemukan fakta bahwa makanan berupa bubur kacang hijau telah selesai dimasak sejak pagi.
Padahal, makanan tersebut semestinya diberikan kepada warga pada pagi hari. Namun karena jadwal Posyandu berubah, makanan baru dibagikan pada sore hari.
“Memang seyogianya makanan itu diberikan pada pagi hari. Akan tetapi karena ada satu dua hal, kemudian diberikan sore hari, dan itu yang kemungkinan penyebab salah satu keracunan,” terang Bintoro.
Meski demikian, polisi belum menyimpulkan bahwa jeda waktu tersebut merupakan penyebab pasti keracunan. Pemeriksaan laboratorium masih diperlukan untuk memastikan sumber kontaminasi.
Dinkes Batang telah melakukan investigasi higiene dan sanitasi serta mengirimkan sejumlah spesimen ke laboratorium rujukan.
Tidak hanya bubur kacang hijau, terdapat lima jenis sampel yang diperiksa, yakni bubur kacang hijau, roti tawar, tahu bacem, feses pasien, serta air sumur bor dari rumah Ny E yang menjadi pembuat makanan.
Bintoro mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium forensik terhadap sampel makanan dan muntahan pasien diperkirakan baru dapat diketahui sekitar satu minggu mendatang.
Kasus ini bermula setelah puluhan warga Dukuh Rowosuko, Desa Rowobelang, mengalami mual, pusing hingga diare hebat secara bersamaan setelah menyantap menu PMT pada Senin (21/9/2026) malam.
Pelaksanaan Posyandu dan pembagian PMT yang semula dijadwalkan Senin pagi kemudian diundur hingga sore hari. Penundaan itu terjadi karena adanya warga yang meninggal dunia, sementara makanan PMT telah lebih dahulu dimasak oleh para kader sejak pagi.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












